13 May 2019

Bagaimana Penyakit Paru Interstitial Didiagnosis?

Bagaimana Penyakit Paru Interstitial Didiagnosis?

Halodoc, Jakarta - Ada beragam penyakit yang dapat menyerang paru-paru, sebagai organ vital dalam tubuh. Salah satunya adalah penyakit paru interstitial. Penyakit ini sebenarnya adalah kumpulan penyakit yang ditandai oleh pembentukan jaringan parut atau fibrosis, secara progresif pada jaringan interstitial (jaringan paru-paru yang berada di sekitar alveoli). Bagaimana cara diagnosis penyakit paru interstitial?

Sebelum membahas cara diagnosis, perlu diketahui bahwa pembentukan jaringan parut pada interstitial paru dapat menyebabkan penurunan elastisitas paru-paru. Akibatnya, fungsi pernapasan menurun dan pasokan oksigen dalam darah pun berkurang.

Umumnya, penyakit paru interstisial terjadi akibat gangguan autoimun, efek samping pengobatan, radiasi, serta paparan senyawa berbahaya. Pada kasus tertentu, penyebab terjadinya fibrosis pada paru tidak diketahui, misalnya pada pneumonia interstisial nonspesifik dan sarkoidosis.

Baca juga: 9 Cara Penanganan Penyakit Paru Interstisial Berdasar Tipe

Jaringan paru yang sudah mengalami fibrosis tidak dapat pulih kembali. Pengobatan yang diberikan umumnya adalah untuk memperlambat proses kerusakan paru-paru, tetapi tidak dapat mengembalikan fungsi paru-paru secara utuh. Oleh karena itu, pada kerusakan yang sudah meluas, penanganan yang umumnya direkomendasikan adalah transplantasi paru-paru.

Bagaimana Gejalanya?

Gejala yang sering terjadi pada pengidap penyakit paru interstisial adalah batuk kering disertai napas pendek pada saat beristirahat dan melakukan aktivitas fisik. Pada penyakit paru interstisial yang sudah berlangsung dalam jangka waktu lama, dapat muncul gejala-gejala tambahan yang berkaitan dengan penurunan kadar oksigen dalam darah.

Contohnya adalah pembesaran volume jantung, perubahan bentuk ujung jari yang disebut clubbing finger, infeksi, kelelahan, dan demam. Pada pengidap penyakit paru interstisial stadium lanjut dapat terlihat kebiruan di bibir, kulit, dan kuku yang diakibatkan kekurangan oksigen.

Gejala-gejala tersebut sangat umum terjadi pada berbagai penyakit paru-paru. Oleh karena itu, konsultasi kepada dokter sebaiknya dilakukan untuk mendapatkan diagnosis secara akurat. Jika penyakit paru interstisial terdiagnosis pada tahap awal, maka kerusakan jaringan paru-paru lebih lanjut dapat dicegah.

Baca juga: Sering Merokok Perlu Lakukan Rontgen Paru-Paru?

Berbagai Pemeriksaan untuk Menentukan Diagnosis

Gejala penyakit paru interstisial sangat umum dijumpai di berbagai penyakit pernapasan lainnya. Karakter penyakit paru interstisial yang cukup luas dan tidak terlalu spesifik menyebabkan proses diagnosis penyakit ini menjadi cukup sulit. Oleh karena itu, diperlukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis, seperti:

1. Pemindaian

Metode pemindaian paru-paru yang digunakan untuk mendeteksi adanya penyakit paru interstisial adalah:

  • Foto Rontgen dada. Sebagian besar penyakit interstisial dapat terdeteksi dengan foto Rontgen. Namun terkadang, pada beberapa kasus, penyakit paru interstisial tidak nampak pada foto Rontgen, sehingga membutuhkan metode diagnosis lainnya.

  • CT scan. CT scan dengan resolusi tinggi dapat membantu memetakan kerusakan paru-paru akibat penyakit interstisial, serta dapat menampilkan detail dan pola fibrosis pada paru.

  • Ekokardiogram. Metode ini dapat memberikan gambaran kondisi jantung secara terperinci termasuk struktur dan kerja jantung. Pemeriksaan dengan ekokardiogram dapat mendeteksi adanya tekanan yang abnormal pada jantung, baik di bagian kiri maupun kanan.

2. Tes Fungsi Paru

Tes ini dilakukan untuk mengukur kinerja paru-paru. Dua pemeriksaan yang termasuk ke dalam tes ini adalah:

  • Oksimetri. Pemeriksaan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Dilakukan dengan menggunakan alat kecil yang dijepitkan pada jari tangan.

  • Spirometri dan kapasitas difusi. Tes ini dilakukan dengan cara menghembuskan napas sekuat mungkin melalui tabung guna mengukur volume udara yang tertampung di dalam paru-paru dan volume udara yang dihembuskan dari paru-paru.

Baca juga: 5 Cara Menjaga Kapasitas Paru-Paru

3. Pemeriksaan Jaringan Paru-Paru

Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat jaringan paru-paru secara lebih detail melalui pengamatan di bawah mikroskop. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan:

  • Biopsi bronkoskopi. Pada biopsi bronkoskopi, jaringan paru-paru diambil menggunakan selang kecil fleksibel yang dimasukkan melalui mulut, kemudian masuk ke tenggorokan.

  • Biopsi pembedahan. Metode ini dilakukan pada pasien yang telah dibius total. Selama proses pengambilan jaringan, akan dibuat dua atau tiga irisan kecil di antara tulang rusuk, kemudian alat biopsi yang dilengkapi kamera akan mengambil jaringan paru untuk dianalisis melalui mikroskop. Pada beberapa kasus, biopsi melalui pembedahan dilakukan tanpa bantuan kamera dan dilakukan dengan membuat irisan besar pada dada. Metode tersebut dinamakan biopsi paru-paru terbuka.

4. Peninjauan Riwayat Kesehatan, Pekerjaan, dan Perjalanan

Peninjauan terhadap ketiga hal ini dapat membantu dokter untuk menentukan penyebab utama munculnya penyakit paru interstisial.

Itulah sedikit penjelasan tentang cara diagnosis penyakit paru interstitial. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!