29 March 2019

Begini Cara Mendiagnosis Amenorrhea yang Sebabkan Haid Terhenti

Begini Cara Mendiagnosis Amenorrhea yang Sebabkan Haid Terhenti

Halodoc, Jakarta –  Amenorrhea adalah tidak adanya menstruasi. Amenorrhea sekunder terjadi ketika kamu memiliki setidaknya satu periode menstruasi dan berhenti menstruasi selama tiga bulan atau lebih. Amenorrhea sekunder berbeda dengan amenorrhea primer. Amenorrhea primer biasanya terjadi jika kamu belum memiliki periode menstruasi pertama pada usia 16 tahun.

Berbagai faktor dapat berkontribusi pada kondisi ini, termasuk:

  • Penggunaan kontrol kelahiran

  • Obat-obatan tertentu yang mengobati kanker, psikosis, atau skizofrenia

  • Suntikan hormon

  • Kondisi medis, seperti hipotiroidisme

  • Kelebihan berat badan atau kekurangan berat badan

Amenorrhea sekunder biasanya tidak berbahaya bagi kesehatan. Ini dapat diobati secara efektif dalam banyak kasus. Tapi untuk menghindari komplikasi, kamu harus mengatasi kondisi mendasar yang menyebabkan amenorrhea.

Baca juga: Para Wanita Harus Tahu, Ini 9 Gejala Dari Amenorrhea

Untuk mendiagnosis amenorrhea sekunder, biasanya dokter terlebih dahulu ingin kamu melakukan tes kehamilan untuk mengesampingkan kehamilan sebagai faktor. Dokter kemudian dapat melakukan serangkaian tes darah. Tes-tes ini dapat mengukur kadar testosteron, estrogen, dan hormon lain dalam darah.

Dokter juga dapat menggunakan tes pencitraan untuk mendiagnosis amenorrhea sekunder. Pemeriksaan MRI, CT scan, dan USG memungkinkan dokter akan melihat organ dalam. Dokter akan mencari kista atau pertumbuhan lain di indung telur atau di dalam rahim.

Perawatan untuk amenorrhea sekunder bervariasi tergantung pada penyebabnya. Ketidakseimbangan hormon dapat diobati dengan hormon tambahan atau sintetis. Dokter mungkin juga ingin menghilangkan kista ovarium, jaringan parut, atau adhesi rahim yang menyebabkan kamu kehilangan periode menstruasi.

Dokter juga dapat merekomendasikan untuk melakukan perubahan gaya hidup tertentu jika berat badan atau rutinitas olahraga yang bisa berkontribusi terhadap kondisi yang kamu alami. Tanyakan ke dokter untuk rujukan ke ahli gizi atau ahli gizi jika perlu. Para spesialis ini dapat mengajarimu bagaimana mengatur berat badan dan aktivitas fisik dengan cara yang sehat.

Baca juga: Begini Tips Agar Tamu Bulanan Berjalan Lancar Bagi Wanita

Penyebab Amenorrhea

Selama siklus menstruasi normal, kadar estrogen meningkat. Estrogen adalah hormon yang bertanggung jawab untuk perkembangan seksual dan reproduksi pada perempuan. Kadar estrogen yang tinggi menyebabkan lapisan rahim tumbuh dan menebal. Saat lapisan rahim menebal, tubuh akan melepaskan sel telur ke dalam salah satu ovarium.

Telur akan pecah jika sperma pria tidak membuahi. Ini menyebabkan kadar estrogen turun. Selama periode menstruasi, kamu melepaskan lapisan rahim yang menebal dan darah ekstra melalui Miss V. Tapi, proses ini dapat terganggu oleh faktor-faktor tertentu.

Ketidakseimbangan hormon adalah penyebab paling umum dari amenorrhea sekunder. Ketidakseimbangan hormon dapat terjadi sebagai akibat dari:

  • Tumor pada kelenjar pituitari

  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif

  • Kadar estrogen yang rendah

  • Kadar testosteron yang tinggi

  • Kontrol kelahiran hormon juga dapat berkontribusi terhadap amenore sekunder.

Depo-Provera, suntikan kontrasepsi hormonal, dan pil KB hormonal dapat menyebabkan kamu kehilangan periode menstruasi. Perawatan dan pengobatan medis tertentu, seperti kemoterapi dan obat antipsikotik juga dapat memicu amenorrhea.

Baca juga: Enggak Menstruasi, Ini yang Perlu Diketahui tentang Amenorrhea

Kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mengarah pada pertumbuhan kista ovarium. Kista ovarium adalah massa jinak atau tidak kanker yang berkembang di ovarium.

PCOS juga dapat menyebabkan amenorrhea. Jaringan parut yang terbentuk akibat infeksi panggul atau prosedur pelebaran dan kuretase multipel (D dan C) juga dapat mencegah menstruasi.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai amenorrhea, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.