29 January 2019

Benarkah Demensia Hanya Terjadi pada Orang Tua?

Benarkah Demensia Hanya Terjadi pada Orang Tua?

Halodoc, Jakarta - Demensia merupakan suatu sindrom yang terkait dengan penurunan fungsi otak yang berkelanjutan. Gangguan kesehatan ini sering disebut pikun, karena sering terjadi pada orang-orang berusia di atas 65 tahun atau lansia. Tidak mengherankan, karena seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan kinerja otak yang membuat seseorang menjadi kesulitan untuk mengingat hal-hal tertentu.

Pada beberapa kondisi, demensia sering disamakan dengan alzheimer, padahal keduanya jelas berlainan. Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gejala yang mempengaruhi memori, kinerja sehari-hari, dan kemampuan komunikasi. Sementara alzheimer termasuk ke dalam jenis demensia yang paling sering terjadi.

Kamu perlu tahu, demensia adalah sindrom dan bukan penyakit. Sindrom adalah sekelompok gejala yang tidak memiliki diagnosis pasti. Gangguan demensia merupakan sekelompok gejala yang mempengaruhi tugas kognitif mental seperti memori dan penalaran.

Benarkah Demensia Hanya Terjadi pada Orang Tua?

Oleh karena berkaitan dengan penurunan kinerja otak yang berdampak pada penurunan daya ingat, demensia sering kali disebut dengan penyakit pikun. Tentu saja, pikun kerap dihubungkan dengan penyakit usia lanjut. Namun, benarkah demikian?

Baca juga: Waspada Demensia Bagi Perokok Pasif

Faktanya, tidak demikian. Demensia lebih rentan terjadi pada orang berusia lanjut. Namun, kondisi ini bukan bagian normal dari penuaan. Gangguan kesehatan ini bisa terjadi pada orang yang lebih muda. Gejala awal penyakit ini dapat dimulai ketika seseorang berusia 30-an, 40-an, hingga 50-an. Jadi, tetap perlu hati-hati, karena demensia bisa hinggap tanpa menunggu usia beranjak senja.

Apa yang Menyebabkan Demensia?

Demensia terjadi ketika terdapat kerusakan pada sel-sel otak tertentu. Banyak kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan ini, termasuk penyakit degeneratif seperti alzheimer, parkinson, dan huntington. Setiap penyebabnya mengarah pada kerusakan sel otak yang berbeda.

Penyebab lain dari demensia, seperti infeksi (misalnya HIV), penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah, depresi, penggunaan obat-obatan tertentu, dan hantaman atau trauma pada kepala.

Baca juga: Inilah 7 Gejala Umum Demensia Alzheimer

Bagaimana Penanganan Demensia?

Penanganan demensia bergantung pada penyebab terjadinya. Kondisi yang paling mungkin untuk merespon pengobatan adalah demensia yang terjadi karena narkoba, tumor, gangguan metabolisme, dan hipoglikemia. Demensia yang terjadi karena parkinson juga dapat dilakukan penanganan, yaitu dengan memberikan inhibitor atau penghambat cholinesterase, jenis obat yang juga digunakan untuk mengatasi alzheimer.

Sementara itu, pencegahan demensia bisa dilakukan dengan menjaga pikiran tetap aktif, seperti rajin mengasah otak dengan permainan bongkar pasang atau permainan memori. Selain itu, aktiflah secara fisik, misalnya rutin berolahraga agar tubuh tetap bugar. Jangan lupa, pertahankan gaya hidup sehat dengan tidak merokok dan konsumsi alkohol.

Penuhi pula nutrisi harian dengan perbanyak konsumsi makanan kaya omega-3, buah dan sayuran, serta biji-bijian. Risiko demensia juga bisa diatasi dengan perbanyak asupan vitamin D. Kenali pula gejalanya sejak dini untuk mendapatkan penanganan segera agar tidak terjadi komplikasi.

Baca juga: Harus Tahu, Penyakit Batten yang Bikin Anak Demensia Dini

Sekarang, kamu sudah tahu bahwa demensia tidak hanya terjadi pada lansia, tetapi bisa menyerang orang-orang dewasa yang masih berada pada kisaran usia produktif. Jadi, kalau kamu merasakan ada gejala yang mengarah pada gangguan kesehatan ini, kamu bisa langsung bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Jadi, download aplikasi Halodoc sekarang ya!