Penyakit Rosacea Bisa Picu Risiko Alzheimer, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Penyakit Rosacea Bisa Picu Risiko Alzheimer, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu melihat seseorang yang kulit wajahnya kerap berwarna merah? Nah, mungkin saja ia mengidap rosacea, yaitu penyakit kulit yang menyerang wajah. Penyakit ini memiliki gejala yang dapat membuat kulit menjadi merah, serta muncul bisul yang berisi nanah dan pembuluh darah pada beberapa bagian wajah.

Selain itu, penyakit rosacea dapat menyebabkan pengidapnya merasakan matanya seperti terbakar. Hal ini biasanya menyerang wanita yang berusia di atas 30 tahun. Orang-orang kulit putih, terutama yang berasal dari Eropa, mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengidap rosacea. Hingga saat ini, penyakit rosacea tidak dapat disembuhkan. Namun, pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi gejala yang terjadi.

Gejala-gejala dari rosacea akan terlihat dan bertahan dalam hitungan minggu hingga bulan, setelah itu akan menghilang dengan sendirinya. Rosacea berbeda dengan kelainan-kelainan lain, seperti jerawat, alergi, dan masalah kulit lainnya. Apabila tidak mendapat penanganan segera, kondisi ini bertambah parah seiring dengan berjalannya waktu.

Pengidap Rosacea Berisiko Lebih Tinggi Mengidap Penyakit Alzheimer

Pengidap rosacea mungkin mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengidap demensia dan penyakit Alzheimer di masa depan. Demensia mencakup bermacam-macam gejala yang berhubungan dengan kemampuan mental dan ingatan yang membuat pengidapnya kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu, penyakit Alzheimer merupakan salah satu jenis penyakit yang paling umum terjadi karena demensia. Diperkirakan kondisi tersebut telah menyerang lebih dari lima juta orang di Amerika Serikat.

Disebut-sebut bahwa protein dengan jenis matriks metalloproteinase (MMP) dan peptida antimikroba (AMP), yang menjadi penyebab terjadinya demensia, sehingga orang tersebut mengidap penyakit Alzheimer. Protein ini terkandung pada semua hewan dan berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh bawaan. Lalu, peningkatan kadar dari protein MMP dan AMP juga terlibat pada beberapa penyakit inflamasi, seperti penyakit Parkinson. Sebuah penelitian juga menyatakan bahwa protein tersebut dianggap sebagai penyebab potensial peradangan pada rosacea.

Pada sebuah penelitian di Denmark, ilmuwan tersebut menemukan bahwa pengidap rosacea mempunyai 7 persen risiko yang lebih tinggi untuk mengidap demensia dan 25 persen risiko lebih tinggi untuk mengidap penyakit Alzheimer. Selain itu, wanita dengan penyakit rosacea menunjukkan peningkatan risiko penyakit Alzheimer yang lebih besar dibandingkan dengan pria, yaitu 28 persen untuk wanita dan 16 persen untuk pria.

Lalu, pengidap rosacea yang berusia di atas 60 tahun mempunyai risiko 20 persen lebih besar untuk mengalami penyakit Alzheimer. Sementara pada orang-orang yang usianya lebih muda tidak menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan. Walau begitu, pengidap penyakit rosacea harus berpikir positif apabila penyakitnya tidak selalu berkembang menjadi penyakit Alzheimer.

Pada penelitian tersebut, insiden demensia rata-rata dalam populasi yang diteliti hanya sekitar 1,5 orang tiap 1.000 orang dan rata-rata kejadian penyakit Alzheimer kurang dari 0,5 orang per 1.000 orang. Lalu, pada orang-orang yang mengidap rosacea risikonya meningkat dengan demensia 2 orang per 1.000 orang dan penyakit Alzheimer dengan 0,8 orang per 1.000 orang. Lalu, jika diurutkan berdasarkan usia, risiko untuk penyakit Alzheimer mengalami peningkatan secara signifikan untuk orang-orang yang berusia 60 tahun atau lebih tua dari itu.

Walau begitu, para peneliti mengambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara penyakit rosacea dengan gangguan Alzheimer dan demensia. Penelitian ini dilakukan pada populasi di Denmark, yang mungkin saja berbeda dengan etnis lainnya.

Itulah penjelasan mengenai hubungan antara penyakit rosacea dengan penyakit Alzheimer. Jika kamu mempunyai pertanyaan perihal penyakit rosacea, dokter dari Halodoc siap membantu. Komunikasi dengan dokter bisa dilakukan dengan mudah melalui Chat atau Voice/Video Call. Ayo, download sekarang aplikasinya di App Store dan Google Play!

Baca juga: