Benarkah Limfoma Non-Hodgkin Bisa Sebabkan Kemandulan?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Benarkah Limfoma Non-Hodgkin Bisa Sebabkan Kemandulan?

Halodoc, Jakarta - Kanker bisa menyerang sistem kekebalan tubuh, membuat limfosit mengalami kelainan yang terbilang serius. Limfoma non-hodgkin adalah kanker yang menyerang kelompok getah bening atau sistem limfatik tubuh yang merupakan bagian dari sistem imunitas tubuh. Di dalam pembuluh limfatik, mengalir cairan yang dikenal dengan nama cairan limfe yang mengandung salah satu jenis sel darah putih untuk melawan infeksi, yaitu limfosit. 

Nah, kelainan yang terjadi pada limfosit inilah yang menjadi indikasi awal dari kanker limfoma atau kanker kelenjar getah bening. Limfoma non-hodgkin termasuk kondisi darurat medis yang perlu segera mendapatkan penanganan, karena berpotensi menyebar ke bagian sistem limfatik lain pada tubuh, bahkan pada organ tubuh, termasuk sumsum tulang, hati, hingga otak. 

Benarkah Limfoma Non-Hodgkin Sebabkan Kemandulan?

Normalnya, tubuh akan membuat sel limfosit baru untuk menggantikan sel yang sudah mati. Sayangnya, ketika seseorang mengidap limfoma non-hodgkin, sel limfosit akan terus mengalami pembelahan dan perkembangan tanpa henti yang menyebabkan terjadinya penumpukan limfosit pada kelenjar getah bening. Inilah yang kemudian berdampak pada membengkaknya kelenjar getah bening dan membuat tubuh menjadi rentan terhadap infeksi. 

Baca juga: Sering Terpapar Pestisida Bisa Terkena Limfoma Non-Hodgkin?

Baik limfosit B maupun T sama-sama berperan sebagai penyebab awal terjadinya limfoma non-hodgkin. Tetapi, sebagian besar kasus kanker limfoma ini berawal dari sel limfosit B. sementara faktor lain yang berperan termasuk usia, lemahnya sistem imunitas tubuh seseorang, penyakit autoimun, infeksi bakteri dan virus jenis tertentu, hingga paparan bahan kimia tertentu. 

Meski pengidap telah melakukan pengobatan bahkan dinyatakan sembuh dari kanker limfoma non-hodgkin, risiko terjadinya komplikasi tetap ada. Salah satu komplikasi yang bisa terjadi adalah meningkatnya risiko kemandulan. Kondisi ini terjadi sebagai akibat dari pengobatan radioterapi dan kemoterapi. Kemandulan yang terjadi bisa bersifat sementara, sayangnya bisa juga terjadi secara permanen alias tidak dapat disembuhkan. 

Baca juga: Ini Tahapan untuk Mengobati Limfoma Non-Hodgkin

Risiko komplikasi lain terkait limfoma non-hodgkin termasuk melemahnya sistem imunitas tubuh, yang semakin memburuk ketika sedang menjalani pengobatan. Akibatnya, tubuh akan rentan mengalami infeksi yang mengacu pada komplikasi yang lebih serius. Ada peningkatan terhadap risiko terjadinya jenis kanker lainnya, karena pengobatan kemoterapi dan radioterapi juga membunuh sel sehat bersamaan dengan sel yang rusak. Risiko terjadinya penyakit lain termasuk diabetes, katarak, masalah paru, jantung, dan ginjal pun meningkat. 

Seperti Apa Gejala Limfoma Non-Hodgkin?

Pembengkakan yang terjadi pada kelenjar getah bening tanpa diikuti rasa nyeri menjadi gejala utama dari limfoma non-hodgkin. Pembengkakan bisa terjadi pada area leher, lipatan paha, atau ketiak. Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan berat badan, berkeringat tanpa sebab di malam hari, anemia, kulit yang terasa gatal, masalah pada pencernaan, nyeri dada, masalah pernapasan, hingga perut membesar dan sakit. 

Baca juga: Cara Mendiagnosis Limfoma Non-Hodgkin yang Perlu Diketahui

Oleh karena belum ada tindakan pencegahan yang bisa dilakukan, mengurangi faktor risiko yang memicu limfoma non-hodgkin adalah jalan terbaik agar terhindar dari masalah kesehatan ini. Jangan lupa, periksakan kondisi kesehatan secara rutin untuk deteksi dan pengobatan dini jika terjadi masalah pada tubuh, sehingga komplikasi serius pun bisa dihindari. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk melakukan Cek Lab tanpa perlu ke laboratorium, jadi melakukan pemeriksaan rutin bisa di mana saja dan kapan saja. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin Lymphoma.
Healthline. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin Lymphoma.
American Cancer Society. Diakses pada 2019. Non-Hodgkin Lymphoma.