• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Penyebab Borderline Personality Disorder Bersifat Genetik?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Penyebab Borderline Personality Disorder Bersifat Genetik?

Benarkah Penyebab Borderline Personality Disorder Bersifat Genetik?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 08 Oktober 2020
Benarkah Penyebab Borderline Personality Disorder Bersifat Genetik?

Halodoc, Jakarta - Seseorang yang mengidap borderline personality disorder atau gangguan kepribadian ambang, cenderung melihat segala sesuatu secara ekstrem. Hal itu membuatnya sering mengalami perubahan mood tiba-tiba, yang memengaruhi hubungannya dengan orang lain dan caranya bersikap.

Orang yang dianggap sebagai sahabat pada hari ini bisa saja dianggap sebagai musuh pada keesokan harinya. Kondisi ini yang akhirnya berdampak buruk pada pola hubungan sosial pengidap borderline personality disorder. Lantas, apa penyebab borderline personality disorder? Apakah kondisi ini bersifat genetik?

Baca juga: Ini yang Terjadi pada Pengidap Borderline Personality Disorder

Inilah Penyebab Borderline Personality Disorder

Sebenarnya, penyebab pasti borderline personality disorder belum diketahui dengan jelas. Namun, pada kebanyakan kasus, gangguan ini bersifat genetik, yang artinya seseorang bisa mengidapnya jika memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa. 

Selain itu, masih banyak faktor yang meningkatkan risiko borderline personality disorder selain faktor genetik. Berikut ini di antaranya:

1.Faktor Lingkungan

Pada kebanyakan kasus, pengidap borderline personality disorder mengaku pernah mengalami berbagai kejadian traumatis di lingkungan mereka, saat masih anak-anak. Misalnya, pelecehan seksual, dikucilkan dari lingkungan, korban perundungan, dan lain-lain. Kejadian traumatis seperti itu meningkatkan risiko berkembangnya borderline personality disorder saat dewasa.

2.Gangguan pada Fungsi Otak

Otak pengidap borderline personality disorder umumnya mengalami perubahan struktur dan fungsi, terutama pada area yang bertugas mengendalikan emosi. Meski begitu, belum diketahui dengan jelas apakah perubahan tersebut terjadi sebelumnya atau karena adanya borderline personality disorder.

Itulah beberapa hal yang bisa jadi penyebab borderline personality disorder. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyebab gangguan ini, sebaiknya bicarakan dengan ahlinya. Misalnya, dengan download aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan psikolog kapan dan di mana saja. 

Baca juga: 4 Faktor Risiko pada Remaja yang Bisa Terkena Borderline Personality Disorder

Seperti Apa Gejala Borderline Personality Disorder?

Ada beberapa gejala khas yang ditimbulkan borderline personality disorder, seperti:

  • Perubahan suasana hati yang ekstrem. Pengidap borderline personality disorder bisa sangat bahagia lalu berubah menjadi kesedihan hanya karena hal kecil di sekitarnya. 
  • Merasa hampa atau kosong. Untuk mengisi kekosongan mereka bisa melakukan banyak hal, seperti makan banyak dan konsumsi obat-obatan, tetapi tidak ada yang bisa benar-benar mengisi rasa kosong itu.
  • Emosi meledak-ledak. Saat emosi memuncak, pengidap borderline personality disorder cenderung kesulitan mengontrol dirinya.
  • Takut ditinggalkan atau dikucilkan. Misalnya, saat orangtua atau anggota keluarga yang tiba-tiba pulang terlambat ke rumah, mereka bisa panik dan menimbulkan sikap protektif seperti memegang erat, memeluk, sampai mencegah seseorang pergi dari sisinya. 
  • Memiliki hubungan yang tidak stabil dengan orang lain. Hal ini karena perubahan penilaian mereka terhadap orang lain yang berubah dengan cepat. Selain hubungan percintaan, hal ini juga berlaku pada hubungan pertemanan dan keluarga. 
  • Citra diri tidak jelas. Misalnya, merasa sangat percaya diri, lalu berubah menjadi membenci diri sendiri, hingga memandang kalau dirinya jahat. Mereka juga kerap merasa tidak tahu siapa dirinya dan apa yang ingin mereka lakukan di kehidupan ini. 
  • Bertindak impulsif dan membahayakan diri. Pengidap borderline personality disorder sering bertindak impulsif dan melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri, seperti makan dengan rakus, konsumsi alkohol dan narkoba, ceroboh, kalap saat belanja, dan lain-lain.
  • Ingin menyakiti diri sendiri. Seperti melukai tangan, hingga berpikir untuk bunuh diri.

Baca juga: Insomnia Bisa Buat Borderline Personality Disorder Makin Parah

Meski begitu, tidak semua pengidap borderline personality disorder menunjukkan gejala-gejala tersebut. Sebab, semua tergantung kondisi masing-masing. 

Kesimpulannya, penyebab borderline personality disorder memang bisa bersifat genetik. Namun, tetap ada faktor lainnya yang juga meningkatkan risikonya. Sebaiknya, kenali gejalanya dengan baik agar mengetahui penanganan yang tepat. 

Referensi:
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder.
Help Guide. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder (BPD).
National Alliance on Mental Health. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Borderline personality disorder.