• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah PMS Hanya Mitos yang Dilebih-lebihkan?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah PMS Hanya Mitos yang Dilebih-lebihkan?

Benarkah PMS Hanya Mitos yang Dilebih-lebihkan?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 23 Juni 2022

“Premenstrual syndrome (PMS) dianggap hanya mitos dan keluhan para wanita dianggap berlebihan. Nyatanya, menjelang menstruasi, wanita memang bisa mengalami sejumlah gejala yang bikin tidak nyaman bahkan melumpuhkan aktivitas.”

Benarkah PMS Hanya Mitos yang Dilebih-lebihkan?

Halodoc, Jakarta – Seorang psikolog wanita asal Amerika Serikat, sekaligus research assistant professor di Department of Psychology di Stony Brook University, AS, menyebut bahwa gejala premenstrual syndrome atau PMS pada wanita hanyalah mitos belaka. 

Ia yakin bahwa selama ini para wanita telah dibohongi media dan komunitas kesehatan soal PMS. Menurutnya, gejala yang selama ini dikeluhkan hanya melebih-lebihkan dan merupakan “alasan” wanita untuk tidak beraktivitas.

PMS adalah gejala yang biasanya terjadi dan menandai datangnya masa menstruasi alias haid pada wanita. Sejumlah ahli mengatakan gejala seperti pusing, lemas, nyeri perut, nyeri payudara, hingga kram adalah hal yang wajar saat tubuh mengalami perubahan hormon. 

Kendati setuju dengan pernyataan tersebut, tapi psikolog tersebut, Robyn Stein DeLuca, menyebut bahwa wanita tidak seharusnya “lumpuh” aktivitas selama datang bulan. Lewat buku yang ia tulis dengan judul  The Hormone Myth: How Junk Science, Gender Politics And Lies About PMS Keep Women Down, DeLuca menyebut wanita terlalu terhanyut dengan pandangan soal PMS. Lantas, benarkah PMS hanya mitos belaka? Simak penjelasannya di sini.

PMS Bukan Mitos, Gejalanya Bisa Beragam

Nyatanya, premenstrual syndrome merupakan sekumpulan gejala yang benar-benar terjadi dan nyata dirasakan oleh banyak wanita menjelang menstruasi. Tiap wanita memang bisa mengalami gejala yang berbeda-beda, ada beberapa yang hanya mengalami gejala yang ringan, tapi tidak sedikit juga yang mengalami gejala berat. Gejala PMS pun sangat luas dan bisa memengaruhi fisik maupun emosi.

Ada banyak gejala PMS yang bisa dialami oleh wanita, tapi berikut adalah sejumlah gejala yang umum terjadi:

Gejala Fisik

  • Nyeri sendi atau otot.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Pertambahan berat badan sehubungan dengan retensi cairan.
  • Perut kembung.
  • Payudara menjadi lembut dan sensitif.
  • Muncul jerawat.
  • Sembelit atau diare

Gejala Emosi dan Perilaku

  • Suasana hati yang berubah-ubah dan cepat marah.
  • Mudah menangis.
  • Cemas.
  • Depresi
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Sulit tidur.
  • Perubahan nafsu makan dan mengidam makanan.
  • Perubahan libido.

Nah, bagi beberapa wanita, rasa sakit fisik dan stres emosional yang terjadi selama PMS bisa cukup parah, hingga bisa memengaruhi  aktivitas sehari-hari. Namun, terlepas dari tingkat keparahannya, gejala PMS biasanya akan menghilang dalam waktu 4 hari setelah dimulainya periode menstruasi.

Namun, ada juga sejumlah kecil wanita yang mengalami premenstrual syndrome dengan gejala melumpuhkan setiap bulan. Bentuk PMS ini disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Tanda dan gejala PMDD bisa meliputi depresi, perubahan suasana hati, kemarahan, kecemasan, perasaan kewalahan, kesulitan berkonsentrasi, lekas marah dan ketegangan.

Jadi, bukannya lebay atau berlebihan, nyatanya beberapa wanita memang bisa mengalami gejala PMS separah itu hingga tidak bisa beraktivitas.

Penyebab Wanita Mengalami PMS

Apa yang menjadi penyebab wanita mengalami premenstrual syndrome memang masih belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan fluktuasi hormonal yang terjadi selama paruh kedua siklus menstruasi.

Ovulasi terjadi sekitar pertengahan siklus. Selama waktu ini, tubuh wanita akan melepaskan sel telur, menyebabkan kadar estrogen dan progesteron turun. Perubahan hormon itulah yang bisa menyebabkan gejala fisik dan emosional pada wanita saat mengalami PMS.

Perubahan kadar estrogen dan progesteron juga memengaruhi kadar serotonin. Ini adalah neurotransmitter yang membantu mengatur suasana hati, siklus tidur, dan nafsu makan wanita. Tingkat serotonin yang rendah dipercaya bisa menyebabkan munculnya perasaan sedih dan mudah tersinggung yang biasa dialami wanita saat PMS. Namun, perubahan suasana hati adalah salah satu gejala PMS yang paling umum dan paling parah.

Itulah penjelasan mengenai premenstrual syndrome yang bukan merupakan mitos belaka, melainkan dialami banyak wanita menjelang menstruasi. Bila kamu mengalami gejala PMS yang parah atau tidak wajar, pertimbangkan untuk memeriksakan diri kamu ke dokter.

Kamu bisa periksa kesehatan dengan cara buat janji medis dengan dokter di rumah sakit yang terbaik menurut kamu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga untuk memudahkan kamu mendapatkan solusi kesehatan terlengkap.

Referensi:
Metro. Diakses pada 2022. Female psychologist believes that PMS is a ‘myth’
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Premenstrual syndrome (PMS).
Healthline. Diakses pada 2022. How to Deal with Premenstrual Mood Swings