Benarkah Wanita Lebih Rentan Alami Neuritis Optik?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Benarkah Wanita Lebih Rentan Alami Neuritis Optik?

Halodoc, Jakarta - Adalah neuritis optik, kondisi peradangan pada saraf mata yang menyebabkan saraf kehilangan lapisan pelindung, yakni myelin. Jika mata kehilangan  myelin ini maka sinyal visual tidak mampu terkirim dengan baik ke otak sehingga terjadi gangguan penglihatan. Alhasil, kita akan mendapatkan penglihatan yang kabur dan buram.

Kondisi ini memang bisa dialami oleh siapa saja, baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Namun, kebanyakan kasus ini dialami oleh wanita dengan rentang usia 20 hingga 40 tahun. Sayangnya hingga kini belum diketahui mengapa wanita lebih rentan mengalaminya, para peneliti masih terus mencari tahu faktor apa saja yang meningkatkan risiko gangguan penglihatan ini. Dengan pengobatan yang tepat, neuritis optik dapat sembuh sempurna. Meskipun pada sebagian kecil kasus terdapat gangguan penglihatan yang menetap, misalnya buta senja atau buta warna.

Baca Juga: Mengenal Retinitis Pigmentosa yang Sebabkan Rabun Senja

Gejala dari Neuritis Optik

Faktanya, penyakit ini biasanya hanya menyerang salah satu mata. Beberapa tanda dari penyakit ini antara lain:

  • Penglihatan menurun.
  • Berkurangnya kemampuan untuk melihat perbedaan warna.
  • Ruang pandang menyempit, bayangan pada bagian tepi tidak terlihat jelas.
  • Nyeri pada mata, terutama saat bola mata digerakkan.
  • Kebutaan (jarang terjadi).

Baca Juga: Bikin Penglihatan Kabur, Kenali 5 Gejala Neuritis Optik

Penyebab Neuritis Optik

Penyebab dari kondisi ini masih diteliti lebih dalam, namun diduga peradangan dan kerusakan saraf optik terjadi karena kelainan autoimun. Kondisi gangguan pada sistem kekebalan tubuh tersebut menyerang tubuh sendiri.

Pada kelainan ini yang diserang oleh sistem imun tubuh adalah selaput myelin. Beberapa penyakit autoimun yang terkait dengan neuritis optik adalah multiple sclerosis dan nueromyelitis optica. Tidak hanya itu, beberapa hal diduga menjadi penyebab penyakit ini, antara lain:

  • Obat-obatan, misalnya beberapa jenis antibiotik dan pil kina.
  • Infeksi bakteri (contohnya sifilis dan penyakit Lyme) atau infeksi virus (contohnya campak, herpes, dan gondongan).
  • Penyakit lainnya, seperti sarkoidosis, lupus, penyakit vaskuler, diabetes,  glaukoma dan defisiensi vitamin B12 (sangat jarang terjadi).

Langkah Pengobatan

Penyakit autoimun ini bisa sembuh dengan sendirinya, tetapi demi mempercepat proses penyembuhan, dibutuhkan penyuntikan obat steroid dosis tinggi. Bagi pengidap multiple sclerosis, obat ini mampu memperlambat perkembangannya. Namun sebelum pemberian obat ini, kamu harus tahu beberapa efek sampingnya, yakni kenaikan berat badan, gangguan lambung, insomnia, dan perubahan suasana hati.

Jika kasusnya sudah parah dan tidak bisa diatasi dengan obat steroid, akan diberikan imunoglobulin intravena (IVIG). Pada kasus neuritis optik karena kekurangan vitamin B12, penanganannya dengan pemberian suntikan vitamin B12.

Kabar baiknya, pada sebagian besar kasus neuritis optik, penglihatan seseorang bisa kembali normal dalam jangka waktu satu tahun. Sementara kondisi kekambuhan hanya bisa terjadi pada pasien tanpa kelainan autoimun.

Sementara perubahan gaya hidup pada pengidap neuritis optik, antara lain:

  • Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang membantu mengatasi optic neuritis:
  • Melakukan metode-metode sederhana untuk mengurangi peradangan.
  • Menambahkan zat makanan yang penting seperti vitamin dan antioksidan.

Baca Juga: 4 Cara Jaga Kesehatan Mata Anak

Apabila kamu membutuhkan saran penanganan ataupun resep dokter berkaitan dengan penyakit ini, kamu dapat menanyakannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan saja dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.