• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bisakah Memilih Jenis Kelamin dalam Proses Bayi Tabung?

Bisakah Memilih Jenis Kelamin dalam Proses Bayi Tabung?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Halodoc, Jakarta - Bayi adalah anugerah dari Tuhan yang akan terlahir sebagai perempuan atau laki-laki tanpa bisa dikendalikan oleh manusia, setidaknya begitulah persepsi yang berkembang selama ini. Namun, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, persepi itu terbantahkan. Kamu sekarang bisa menentukan jenis kelamin anak, walaupun tidak selalu akurat, sebelum terjadi pembuahan melalui program bayi tabung. 

Mungkin perihal jenis kelamin anak tidak akan menjadi masalah bagi kebanyakan pasangan suami istri. Namun, untuk beberapa orang, jenis kelamin menjadi sangat penting karena alasan tertentu. Misalnya, terikat masalah sosial budaya karena terdapat beberapa marga/suku yang garis keturunan hanya diturunkan ke anak laki-laki atau masalah finansial untuk melanjutkan usaha keluarga. 

Ya, sebenarnya sah-sah saja kok, seseorang mengharapkan jenis kelamin tertentu untuk calon penerusnya. Namun, bagaimana caranya?

Kuncinya adalah Kromosom

Salah satu dari 23 kromosom yang dimiliki manusia adalah kromosom seks yang menentukan jenis kelamin seseorang. Seorang anak perempuan memiliki kromosom seks X dan X. Sementara anak laki-laki terdiri dari kromosom seks X dan Y, sel telur perempuan selalu memiliki kromosom X, sedangkan sperma laki-laki bisa terdiri dari kromosom X atau Y.

Baca lagi: Ini Serba-serbi Bayi Tabung yang Perlu Diketahui

Ketika terjadi pembuahan, kromosom yang dibawa oleh sperma akan menentukan jenis kelamin janin, apakah menjadi anak perempuan atau laki-laki. Proses pembuahan tersebut terjadi secara alamiah karena tidak bisa ditentukan sperma dengan kromosom X atau Y yang berhasil membuahi sel telur. Namun, dengan menggunakan program bayi tabung  alias in vitro fertilization (IVF), proses pembuahan dapat direkayasa oleh manusia.

Program Bayi Tabung

Program bayi tabung berbeda dengan kehamilan pada umumnya karena proses pembuahannya terjadi di luar tubuh. Caranya adalah dengan menggabungkan sel telur dan sperma dalam suatu kultur yang dilakukan dalam laboratorium embriologi. Selain itu, biasanya terdapat serangkaian cara yang harus ditempuh seperti inseminasi buatan, tindakan bedah, dan mengkonsumsi obat-obatan untuk melancarkan program bayi tabung.

Lebih lengkapnya serangkaian prosedur dalam program bayi tabung diawali dengan menyuntikan hormon ke tubuh perempuan untuk merangsang ovarium memproduksi beberapa sel telur dalam satu waktu. Setelah sel telur berkembang dan memulai ovulasi, akan dilakukan tes darah atau ultrasound untuk menentukan kesiapan pengambilan sel telur. ketika sudah siap, sel telur kemudian akan diambil menggunakan jarum khusus yang berongga dan dimasukan ke dalam tabung.

Baca lagi: Prosedur Bayi Tabung pada Wanita Usia di Atas 35 Tahun

Sel telur lalu akan dipertemukan dengan sperma pasangan dan di sini lah jenis kelamin ditentukan. Bila pasien ingin mempunyai bayi perempuan, maka sperma akan dipisahkan dan diambil kromosom X-nya saja. Namun, bila pasangan tersebut ingin memiliki bayi laki-laki, tentunya sperma yang dipisahkan akan diambil kromosom Y-nya saja. Setelah terjadilah pembuahan, kemudian akan di simpan di klinik agar perkembangannya dapat dimaksimalkan

Setelah diyakini telah cukup matang, embrio hasil pembuahan sel telur dan sperma akan dimasukan ke dalam rahim. Caranya dengan menggunakan tabung penyalur ke dalam vagina hingga masuk ke rahim. Biasanya dokter akan memasukan tiga embrio sekaligus untuk memperbesar kemungkinan kehamilan. Terakhir, setelah dua minggu transfer embrio, pasien akan diminta untuk melakukan tes kehamilan untuk menentukan keberhasilan program yang dijalankan.

Pertimbangkan Risikonya

Perlu juga dipahami program bayi tabung bukan tidak memiliki risiko. Selain harus membayar mahal, program bayi tabung belum bisa menghasilkan 100 persen jenis kelamin janin yang diinginkan karena pemilihan gender cuma bisa dilakukan sebelum terjadi pembuahan. Pasien bayi tabung juga mungkin merasakan beberapa efek samping seperti kram, sembelit, meningkatkan berat badan, hingga rasa sakit yang tidak tertahankan di perut. Lebih lagi, program bayi tabung memiliki risiko keguguran, kehamilan kembar, kelahiran prematur, dan bayi yang lahir cacat fisik.

Baca lagi: Risiko Bayi Tabung yang Mesti Diketahui Calon Orangtua

Maka dari itu, sebelum memutuskan mengikuti program bayi tabung, kamu harus memikirkannya matang-matang bersama pasangan, dan jangan lupa konsultasikan dulu ke dokter di Halodoc. Caranya mudah kok, kamu bisa diskusi kapan dan di mana saja dengan dokter anak pilihan melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download aplikasinya sekarang juga di App Store dan Google Play!

 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Choosing the Sex of Your Child
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. In vitro fertilization (IVF)