Bisakah Stres Sebabkan Seseorang Kecanduan Alkohol?

Bisakah Stres Sebabkan Seseorang Kecanduan Alkohol?

Halodoc, Jakarta – Kecanduan alkohol, disebut juga alkoholisme, adalah kondisi ketika seseorang ketergantungan pada alkohol dan sulit mengendalikan keinginan untuk mengonsumsinya. Pengidap alkoholisme mengalami gejala yang mengganggu jika menghentikan konsumsi alkohol. Maka itu, pengidap sulit terlepas dari alkohol, meski telah menimbulkan masalah dan gangguan serius.

Seseorang dianggap mengalami alkoholisme jika mengonsumsi alkohol secara berlebihan, memiliki toleransi alkohol yang tinggi, minum alkohol tanpa mengenal waktu, dan mengalami gejala tertentu ketika berhenti konsumsi alkohol (seperti gemetar, mual, muntah, hingga depresi). Lantas, benarkan stres menjadi penyebab kecanduan alkohol? Adakah penyebab lain? Ini faktanya.

Baca Juga: Tanda Orang Kecanduan Alkohol

Penyebab Terjadinya Kecanduan Alkohol

Kecanduan alkohol terjadi ketika alkohol yang dikonsumsi menyebabkan perubahan zat kimia dalam otak. Perubahan ini meningkatkan sensasi kepuasan saat pengidap konsumsi alkohol, sehingga membuatnya untuk terus minum dan kecanduan. Salah satu faktor penyebab kecanduan alkohol adalah stres. Tak heran jika sebagian orang "melarikan diri" dari kepenatan dan stres dengan minum alkohol.

Selain faktor psikologis alias stres, kecanduan alkohol juga bisa disebabkan karena faktor sosial dan genetik. Faktor sosial yang dimaksud adalah adanya dorongan dari orang lain untuk minum alkohol dan ketersediaan alkohol. Sedangkan pada faktor genetik, seseorang dianggap berisiko tinggi mengalami alkoholisme jika ada riwayat anggota dengan kondisi serupa.

Baca Juga: Benarkah Wanita Rentan Kecanduan Alkohol?

Solusi untuk Atasi Kecanduan Alkohol

Konsumsi alkohol berlebih jelas berdampak negatif bagi kesehatan. Sejumlah penyakit yang rentan dialami pengidap alkoholisme adalah gangguan otak dan saraf, penyakit liver, penyakit jantung dan pembuluh darah, masalah pencernaan, gangguan fungsi seksual, masalah kehamilan, gangguan penglihatan, komplikasi diabetes, kerusakan tulang, kanker, serta menjadi rentan terhadap infeksi penyakit. Maka itu, seseorang yang dicurigai mengidap alkoholisme perlu mendapatkan penanganan khusus, di antaranya:

  • Konseling dengan psikolog atau psikiater. Pengidap bisa melakukannya sendiri atau berkelompok. Psikolog atau psikiater akan membantu pengidap mengenali masalah kecanduannya, termasuk menjelaskan tentang risiko dan dampak kecanduan alkohol. Dukungan keluarga dan orang terdekat diperlukan agar proses pemulihan berlangsung baik.

  • Detoksifikasi, dilakukan pada kasus alkoholisme berat karena mengalami gangguan yang membahayakan kesehatan. Proses ini berlangsung 3-7 hari sejak hari terakhir pengidap mengonsumsi alkohol. Efek samping detoksifikasi adalah gangguan tidur selama hampir satu bulan. Selama proses detoksifikasi, pengidap dianjurkan untuk minum minimal tiga liter air putih dalam sehari, serta hindari konsumsi kafein (seperti teh dan kopi) agar tidak memperburuk gangguan tidur yang dialami.

  • Terapi obat-obatan. Bila perlu, dokter akan meresepkan obat untuk mengatasi kecanduan alkohol.

  • Pemulihan di rumah. Caranya dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti tidur cukup dan rutin berolahraga. Ganti aktivitas lama, yakni minum alkohol, dengan aktivitas lain yang menyenangkan.

Baca Juga: Yang Terjadi pada Otak Pecandu Alkohol

Itulah berbagai penyebab seseorang mengalami kecanduan alkohol. Kalau kamu termasuk orang yang sulit mengendalikan keinginan untuk minum alkohol, jangan ragu berbicara dengan dokter Halodoc. Kamu hanya perlu membuka aplikasi Halodoc dan masuk ke fitur Talk to A Doctor untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!