Body Dysmorphic Disorder saat Remaja, Ini Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Body Dysmorphic Disorder saat Remaja, Ini Cara Mengatasinya

Halodoc, Jakarta – Remaja menjadi kelompok yang paling rentan mengalami body dysmorphic disorder (BDD) alias gangguan dismorfik tubuh. Kondisi ini menyebabkan pengidapnya mengalami rasa cemas berlebihan terhadap penampilan fisik atau bentuk tubuh di bagian tertentu. Orang yang mengalami gangguan ini kerap merasa takut dan selalu menaruh perhatian berlebih terhadap penampilan dirinya sendiri. 

Body dysmorphic disorder masuk dalam gangguan mental dan bisa membuat pengidapnya selalu merasa malu. Pengidap gangguan ini cenderung merasa tidak percaya diri dan resah terhadap penampilan. Kebanyakan dari pengidap penyakit ini selalu merasa penampilannya buruk, memiliki banyak kekurangan, dan hal itu bisa mengganggu tingkat kepercayaan diri dan aktivitas sehari-hari. 

Baca juga: Benarkah Body Dysmorphic Disorder Dipicu Masalah Mental?

Mengatasi Body Dysmorphic Disorder pada Remaja  

Remaja yang mengidap gangguan ini umumnya memiliki citra buruk terhadap penampilannya sendiri. Meskipun, bisa jadi semua ketakutan dan rasa cemas tersebut hanya ada di dalam pikiran sendiri. Hal itu kemudian menyebabkan pengidap body dysmorphic disorder sering merasa minder, tidak percaya diri, dan berujung pada menghindari berbagai interaksi sosial. Pada tingkat yang parah, BDD bisa membuat remaja rela melakukan hal-hal ekstrem untuk memperbaiki penampilan. 

Body dysmorphic disorder disebut lebih banyak terjadi pada remaja di usia 15 hingga dewasa muda, sekitar usia 30 tahun. Kondisi ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele, sebab body dysmorphic disorder yang dibiarkan tanpa penanganan tepat bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Namun, hingga kini masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab seorang remaja bisa mengidap kondisi ini. 

Gangguan body dysmorphic disorder sering dikaitkan pada beberapa faktor, seperti genetik, kelainan struktur otak, hingga faktor lingkungan atau tempat bergaul. Pada remaja, risiko body dysmorphic disorder paling mungkin meningkat karena faktor lingkungan, misalnya lingkungan sekolah atau bahkan di rumah sendiri. 

Baca juga: Benarkah Korban Bullying Berisiko Terkena Body Dysmorphic Disorder?

Remaja yang mengidap gangguan ini sering menunjukkan gejala berupa pikiran negatif, takut, dan rasa cemas yang selalu membayangi. Biasanya, gejala-gejala tersebut muncul karena orang tersebut menganggap dirinya memiliki satu atau kekurangan, terutama pada anggota tubuh. Pengidap gangguan ini sering menganggap dirinya tidak menarik dan memiliki anggota tubuh yang tidak ideal. 

Untuk menangani body dysmorphic disorder, biasanya akan dilakukan kombinasi antara terapi perilaku kognitif dan pemberian obat-obatan khusus. Terapi perilaku dilakukan untuk mengindentifikasi hubungan antara pikiran, perasaan, serta perilaku. Dengan begitu, pengidap diharapkan bisa mengembangkan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. 

Terapi untuk gangguan ini berfokus pada memperbaiki kepercayaan yang salah terhadap kondisi fisik, meminimalkan perilaku kompulsif, serta meningkatkan citra diri. Pada remaja, terapi ini dilakukan dengan melibatkan orangtua dan keluarga. Selain terapi, pengidap gangguan ini juga biasanya akan diberikan obat-obatan khusus. Jenis obat yang diberikan tergantung pada gejala, tetapi umumnya obat diberikan untuk mengurangi pikiran dan perilaku obsesif pada pengidap body dysmorphic disorder.

Baca juga: Ikuti Tips Ini untuk Menangani Body Dysmorphic Disorder

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter segera? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:

NHS UK. Diakses pada 2019. Body Dysmorphic Disorder (BDD).

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Body Dysmorphic Disorder.

WebMD. Diakses pada 2019. Body Dysmorphic Disorder.