Bukan Cuma untuk Narkoba, Ini Gunanya Cek Ketergantungan Obat

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Bukan Cuma untuk Narkoba, Ini Gunanya Cek Ketergantungan Obat

Halodoc, Jakarta - Pada dasarnya sih obat memang menjadi “amunisi” untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Namun, bila obat yang diminum malah disalahgunakan, tentu akan menjadi bumerang bagi yang mengonsumsinya. Di samping itu, penyalahgunaan obat juga bisa meningkatkan risiko ketergantungan obat, lho.

Menurut laman Healthplace, ketergantungan obat ini berarti proses konsumsi obat yang dilakukan secara berulang-ulang melebihi aturan pakai atau tak sesuai dengan anjuran dokter. Orang yang mengonsumsinya melakukan hal ini tanpa memikirkan efek samping yang ditimbulkan dari kebiasaan tersebut. Umumnya, mereka melakukan hal ini demi memenuhi kebutuhan fisik ataupun psikologis.

Baca juga: Ini Beda Kecanduan dan Ketergantungan Obat

Ketika seseorang mengalami ketergantungan obat, berarti tubuhnya telah menyesuaikan diri dengan kehadiran obat tersebut. Nah, ketika mereka memutuskan untuk berhenti mengonsumsinya, maka tubuh akan menghasilkan reaksi yang berbeda. Alasannya, tak lagi terpenuhinya suatu zat kimia yang telah menjadi kebiasaan dalam tubuh mereka.

Tak Cuma untuk Narkoba

Ketergantungan akan obat-obatan ini sering kali dikaitkan dengan penggunaan obat-obat terlarang atau narkoba. Padahal, cek ketergantungan obat tak hanya sebatas itu saja, lho. Sebab, ketika seseorang mengonsumsi obat-obatan melebihi dosis atau dalam waktu yang lama pun, bisa jadi mereka mengalami ketergantungan obat.

Mulanya obat tersebut mungkin dikonsumsi untuk mengatasi suatu kondisi tertentu atau menunjang aktivitas keseharian. Misalnya, obat tidur atau antidepresan. Akan tetapi, bila obat-obatan tersebut digunakan terus-menerus dan tak bisa lepas dari obat tersebut, sebaiknya perlu berhati-hati. Bisa jadi hal ini menandakan dirimu mengalami ketergantungan obat.

Nah, cek ketergantungan obat ini bisa dilakukan ketika kamu mengonsumsi obat dalam jangka panjang, dan merasa tidak nyaman ketika tidak atau berhenti mengonsumsinya. Jangan salah lho, obat-obatan yang diresepkan oleh dokter ada kalanya dapat menimbulkan ketergantungan. Contoh kasusnya, obat tidur.

Meski bahaya penggunaan obat tidur jangka panjang belum banyak dipelajari, tapi menurut ahli dari Columbia University, dr. Carl Bazil, bahaya terbesar dari penggunaan obat tidur adalah menimbulkan ketergantungan. Sebab, mengonsumsi obat tidur secara rutin bisa mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan psikis.

Ketergantungan obat tidur secara psikis ini bisa ditandai dengan rasa cemas yang ditimbulkan ketika berpikir untuk tidak mengonsumsinya. Di sini otak akan berpikir keras kalau tanpa obat tidur, maka akan kesulitan tidur. Padahal, hal tersebut belum terjadi dan baru dipikirkan. Nah, disinilah peran cek ketergantungan obat diperlukan.

Prosedur Tes Ketergantungan Obat

Untuk mendiagnosis apakah seseorang mengalami ketergantungan obat tidaklah mudah. Prosesnya membutuhkan evaluasi menyeluruh. Mulai dari melibatkan dokter, psikiater, dan psikolog. Selain itu, bila obat yang membuat ketergantungan adalah narkotika. Biasanya memerlukan pemeriksaan dari rumah sakit ketergantungan obat (RSKO).

Baca juga: Ketergantungan Narkoba adalah Penyakit, Masa Sih?

Dalam ketergantungan narkoba ini, rangkaian tes, seperti tes darah, urine, hingga tes laboratorium lainnya, merupakan serangkaian tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis adanya penggunaan obat. Tes-tes tersebut, bukanlah tes diagnostik untuk ketergantungan obat, melainkan digunakan untuk memantau perawatan dan pemulihan.

Biasanya tenaga profesional akan menggunakan kriteria dalam Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, untuk mendiagnosis gangguan penggunaan obat.

Nah, ketika seseorang diduga mengalami ketergantungan, dokter akan melakukan serangkaian terapi sebagai langkah selanjutnya. Pasalnya, sampai saat itu belum ada obat yang bisa digunakan untuk mengatasi ketergantungan atau kecanduan obat.

Kenali Gejalanya

Seperti yang telah dijelaskan di atas, tubuh akan “memberontak” ketika berhenti mengonsumsi obat yang selama ini diminum. Pada kondisi ini, tubuh juga akan menimbulkan berbagai gejala. Misalnya:

  • Halusinasi.

  • Pupil mata membesar.

  • Tiba-tiba kulit menjadi dingin dan berkeringat, atau panas dan kering.

  • Sakit perut, mual, hingga muntah.

  • Nyeri dada.

  • Pingsan atau hilang kesadaran.

  • Tremor.

  • Timbulnya masalah pernapasan dan tekanan darah.

  • Diare 

  • Kejang-kejang.

Baca juga: Pertolongan Pertama Overdosis Narkoba

Nah, bila dirimu mengalami hal-hal seperti di atas, dan memiliki riwayat mengonsumsi obat dalam jumlah banyak dan waktu yang lama, segeralah kunjungi dokter.

Memiliki masalah pada ketergantungan obat? Kamu bisa lho bertanya langsung kepada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!