Bukan Cuma Masalah Pernapasan, Ini 3 Komplikasi dari Difteri

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Bukan Cuma Masalah Pernapasan, Ini 3 Komplikasi dari Difteri

Halodoc, Jakarta – Difteri merupakan penyakit menular yang terjadi karena infeksi pada selaput lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit ini terjadi karena infeksi bakteri bernama Corynebacterium Diphtheriae. Penyakit ini sering menyerang tanpa menunjukkan gejala sama sekali atau hanya gejala yang bersifat umum, seperti rasa sakit di tenggorokan, demam, lemas hingga membengkaknya kelenjar getah bening.

Salah satu gejala yang khas dari kondisi ini adalah munculnya selaput berwarna putih keabuan di sekitar bagian belakang tenggorokan. Selaput yang bernama pseudomembran ini bisa berdarah saat dikelupas, dan menyebabkan rasa sakit saat menelan. Selaput itu terbentuk dari sel-sel sehat dalam tenggorokan yang mati karena racun dari bakteri difteri. Selain membentuk selaput, racun difteri juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan mengganggu fungsi jantung, ginjal, hingga sistem saraf.

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Difteri sangat mudah menular dari seorang yang sebelumnya telah terinfeksi. Salah satu media penularan bakteri ini adalah melalui udara, yaitu saat pengidap difteri batuk atau bersin. Penularan bakteri difteri juga bisa terjadi karena interaksi langsung dengan luka akibat penyakit ini.

Komplikasi Difteri yang Perlu Kamu Waspadai

Penyakit ini cukup berbahaya dan bisa mematikan, karena dapat menyebabkan infeksi nasofaring yang menyebabkan kesulitan bernapas. Selain itu, difteri juga bisa menyebabkan komplikasi yang serius. Selain gangguan pernapasan, apa saja komplikasi difteri yang bisa terjadi?

1. Kerusakan Saraf

Racun dari bakteri penyebab difteri bisa menyebabkan pembengkakan saraf kaki dan tangan. Selain itu, kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kesulitan menelan, masalah saluran kemih, hingga paralisis alias kelumpuhan pada diafragma.

Paralisis diafragma bisa memperparah masalah pernapasan yang terjadi, karena bisa menyebabkan pengidapnya kesulitan bernapas, sehingga harus menggunakan alat bantu pernapasan. Kondisi ini bisa muncul secara tiba-tiba, baik pada awal serangan bakteri maupun berminggu-minggu setelah infeksi sembuh.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

2. Kerusakan Jantung

Racun akibat serangan bakteri penyebab difteri, nyatanya bisa masuk ke bagian mana saja di tubuh, termasuk jantung. Kabar buruknya, racun yang masuk ke dalam jantung bisa menyebabkan peradangan otot jantung alias miokarditis. Dalam tingkat yang lebih parah, komplikasi ini bisa muncul dan menyebabkan berbagai gangguan mulai dari detak jantung tidak teratur, gagal jantung, hingga kematian mendadak.

3. Difteri Hipertoksik

Kondisi ini menjadi jenis komplikasi paling parah dari difteri yang bisa terjadi. Difteri hipertoksik merupakan bentuk difteri yang sangat parah. Gejala yang muncul mungkin sama dengan difteri biasa, namun kondisi ini memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pengobatan yang dilakukan dengan tepat dan segera bisa mencegah berbagai komplikasi difteri. Maka dari itu, sangat penting untuk selalu memeriksakan diri, terutama jika merasa memiliki gejala yang mengarah pada penyakit ini. Mencegah difteri bisa dilakukan dengan cara “membentengi” diri dengan vaksin.

Baca juga: Benarkah Difteri Merupakan Penyakit Musiman?

Agar tak terlambat dan menyesal, segera pastikan apakah kamu dan keluarga sudah menerima vaksin difteri atau belum. Kenali gejala-gejalanya dan segera bawa ke rumah sakit jika menemukan tanda, seperti rasa nyeri di tenggorokan dan demam. Satu hal yang perlu diingat, gejala yang muncul sebenarnya tidak melulu berarti difteri. Kalau kamu  ragu dan butuh saran dokter, kamu bisa membicarakan gejala awal dengan dokter di aplikasi Halodoc. Berbicara dengan dokter sangat mudah melalui Voice/Video Call dan Chat. Kamu juga bisa membeli produk kesehatan di Halodoc. Ayo, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!