09 October 2018

Benarkah Difteri Merupakan Penyakit Musiman?

Benarkah Difteri Merupakan Penyakit Musiman?

Halodoc, Jakarta - Infeksi bakteri adalah salah satu penyebab beragam penyakit, mulai dari yang berbahaya atau pun tidak. Salah satu penyakit yang cukup berbahaya yang disebabkan oleh infeksi bakteri adalah difteri. Penyakit ini muncul akibat infeksi bakteri Corynebacterium. Penyakit ini cukup berbahaya dan dapat mengancam jiwa. Bakteri akan menyerang beberapa bagian tubuh seperti selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit.

Di Indonesia sendiri, penyakit ini cukup banyak menelan korban dan dapat dijumpai di seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan World Health Organization mencatat bahwa Indonesia adalah penyumbang angka terbesar kedua setelah India. WHO pun menemukan bahwa ternyata kebanyakan korban yang meninggal adalah mereka yang tidak mendapatkan rangkaian imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit ini pun umumnya  menyerang kelompok usia 4 hingga 8 tahun, serta kelompok usia 15 tahun ke atas.

Penyebab Penyakit Difteri

Bakteri yang menjadi dalang utama dalam penyebaran penyakit ini adalah Corynebacterium diphteria. Bakteri ini akan mudah menyebar melalui bersin, batuk, atau lendir. Kontak langsung pada benda yang mengandung bakteri juga dapat memicu penyebaran bakteri ini. Cuaca yang buruk seperti saat musim hujan dapat mempercepat perkembangan bakteri ini, sehingga dapat dikatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit musiman. Orang yang terinfeksi pun memang belum tentu langsung menunjukkan tanda dan gejala difteri, namun orang tersebut tetap mampu menularkan bakteri hingga 6 minggu setelah infeksi awal.

Gejala Penyakit Difteri

Gejala yang paling umum akan tampak pada area tenggorokan dan mulut. Nah, gejala-gejalanya antara lain:

  • Radang tenggorokan.

  • Tenggorokan dilapisi selaput tebal berwarna abu-abu.

  • Leher mengalami pembengkakan.

  • Sulit menelan.

  • Demam bahkan sampai menggigil.

  • Batuk yang keras dan serak.

  • Perasaan tidak nyaman.

  • Gangguan penglihatan.

  • Bicara tentang hal yang tidak jelas atau melantur.

  • Kulit pucat dan dingin, berkeringat serta jantung berdebar cepat.

Faktor Resiko Penyakit Difteri

Dalam beberapa hal, penyakit ini dapat menyerang pada seseorang dengan kondisi sebagai berikut:

  • Lingkungan tempat tinggal yang kotor.

  • Memiliki gangguan pada sistem imun seperti AIDS, atau memang sistem imun lemah.

  • Tidak melakukan vaksinasi difteri yang lengkap.

Pengobatan Difteri

Jika kamu merasakan gejala seperti yang tadi disebutkan, maka segeralah ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pada tahap awal, biasanya dokter akan memberikan suntikan antitoksin untuk melawan racun di tubuh yang dihasilkan oleh bakteri. Nah, apabila penderita tidak mengalami alergi maka akan dilanjutkan dengan pemberian antibiotik untuk melawan bakteri yang singgah di tubuh. Namun, bagi mereka yang memiliki alergi, biasanya antitoksin dan antibiotik ini akan diberikan secara bertahap.Tahap akhir adalah pemberian obat rekomendasi untuk membantu melawan bakteri penyebab difteri. Saat perawatan pun, penderita wajib istirahat total dan diisolasi agar bakteri yang ada di tubuh tidak menular kepada orang lain.

Pencegahan Difteri

Karena merupakan salah satu penyakit musiman dan dapat mewabah dan menimbulkan banyak korban, cara yang paling tepat adalah dengan menjaga  kebersihan lingkungan dan tubuh. Anak-anak pun wajib diberi imunisasi lengkap dan terbaru agar sistem imunnya dapat melawan segala bakteri yang dapat memicu penyakit ini.

Agar tidak terkena difteri, pastikan agar kamu dan keluarga sudah menerima vaksin difteri. Pahami gejala dan segala hal yang yang memicu penyebaran penyakit ini. Kalau kamu ingin informasi lebih lanjut dan butuh saran dokter, kamu bisa membicarakan hal ini dengan dokter di aplikasi Halodoc. Berbicara dengan dokter sangat mudah melalui Voice/Video Call dan Chat. Kamu juga bisa membeli produk kesehatan di Halodoc. Ayo, download sekarang!

 

Baca juga: