01 November 2018

Bukan Kesurupan, Psikosis Buat Orang Mendengar Hal-Hal "Gaib"

Bukan Kesurupan, Psikosis Buat Orang Mendengar Hal-Hal "Gaib"

Halodoc, Jakarta - Kesehatan fisik dan mental merupakan dua hal penting yang harus dijaga dengan baik. Sebab kesehatan mental yang tidak dijaga dapat berujung pada gangguan jiwa, misalnya psikosis. Orang yang mengalami psikosis ini sering mengalami halusinasi seakan ia sedang mengalami kesurupan atau kerasukan. Mereka memiliki persepsi kuat atas suatu peristiwa yang dilihat atau didengar tetapi sebenarnya tidak ada.

Psikosis adalah awal mula dari beragam penyakit mental, termasuk di antaranya skizofrenia, depresi, gangguan skizoafektif, dan bipolar. Oleh karena itu, psikosis dialami oleh banyak orang yang mengidap skizofrenia, mereka mengalami gangguan depresi bipolar dan depresi akut atau gangguan kepribadian lainnya.

Penyebab Psikosis

Penyebab psikosis masih belum diketahui pasti hingga sekarang. Namun, beberapa hal disinyalir menjadi penyebab munculnya penyakit ini, di antaranya pola tidur yang kacau, konsumsi alkohol atau obat terlarang, serta trauma akibat kehilangan orang yang dicintai seperti orang tua dan pasangan. Psikosis juga disinyalir muncul akibat beberapa kondisi yang mengganggu fungsi otak seperti penyakit parkinson, penyakit Huntington, tumor atau kista, stroke, epilepsi, Alzheimer, atau infeksi yang dapat menyerang otak seperti HIV dan sifilis.

Gejala Psikosis

Pada beberapa penderita psikosis, gejala yang muncul bisa berbeda-beda tergantung penyebab, usia pasien, serta tingkat keparahan. Gejala utama dari orang yang mengidap penyakit ini adalah munculnya delusi dan halusinasi. Mereka yakin terhadap suatu hal pada kenyataannya hal itu tidak terjadi. Sementara halusinasi yang dapat terjadi antara lain melihat, mendengar, mencium, dan merasakan hal-hal yang sebetulnya tidak dialami oleh orang lain atau tidak nyata.

Selain delusi dan halusinasi, beberapa gejala lain yang muncul ketika seseorang mengalami psikosis, meliputi:

  • Sulit berkonsentrasi.

  • Gangguan tidur.

  • Gelisah.

  • Merasa curiga.

  • Gangguan berinteraksi dengan orang lain.

  • Berbicara melantur dan tidak sesuai topik.

  • Merasakan dorongan untuk bunuh diri.

  • Suasana hati menurun (depresi).

Pengobatan Psikosis

Mereka yang mengalami psikosis wajib segera diberikan penanganan, sebab gejala yang semakin memburuk membuat pengidap kehilangan kemampuan bersosialisasi sehingga ia tidak bisa menjalani hidup normal sebagaimana mestinya. Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

  • Obat antipsikotik, obat ini bekerja mengendalikan gejala. Obat ini akan bekerja dengan cara memblokir reseptor D2 serta 5-HT2A, reseptor serotonin. Hal ini terbukti efektif, namun bisa menimbulkan sejumlah efek samping seperti meningkatkan risiko pergerakan otot tanpa disadari pasien dan diabetes tipe 2. Obat-obat itu bisa menyebabkan penambahan berat badan dan kelainan lipid. Penting untuk dicatat bahwa obat ini hanya mengobati gejala psikosis. Keduanya tidak untuk kondisi medis lainnya.

  • Terapi perilaku kognitif (CBT) - Terapi medis paling baik dikombinasikan dengan CBT. Ini adalah terapi bicara saat konselor berfokus untuk membantu pasien memahami perilaku mereka. Mereka juga mengajarkan beberapa teknik pada pasien tentang bagaimana mengatasi masalah dengan lebih baik.

Penggabungan CBT dan konsumsi obat, prognosis pasien psikosis jangka panjang cenderung baik. Namun lebih baik jika kondisi diketahui lebih dini dan segera ditangani.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai gangguan mental serta informasi lainnya mengenai penyakit psikosis, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, pasangan bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

 

Baca juga: