Cardiotocography dan USG, Manakah yang Lebih Diperlukan?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Cardiotocography dan USG, Manakah yang Lebih Diperlukan?

Halodoc, Jakarta - Cardiotocography dan USG adalah 2 jenis pemeriksaan yang umum dilakukan selama kehamilan. Dokter biasanya memerlukan kedua pemeriksaan itu untuk memastikan kondisi kesehatan janin dalam kandungan. Sebenarnya, apa fungsi dari cardiotocography dan USG? Mengapa dan kapan pemeriksaan tersebut diperlukan? Untuk lebih jelasnya, berikut akan dipaparkan satu persatu.

Cardiotocography

Cardiotocography atau yang juga populer dengan singkatan CTG, adalah alat yang digunakan untuk memantau denyut jantung janin dan kontraksi rahim, saat bayi dalam kandungan. Alat ini digunakan untuk melihat ada tidaknya gangguan pada bayi, sebelum atau selama persalinan. Jadi ketika ada perubahan pada denyut jantung janin maupun kontraksi rahim pada ibu hamil, dokter dapat waspada dan memberi pertolongan segera.

CTG umumnya tampak berupa dua piringan kecil yang ditempelkan ke permukaan perut menggunakan ikat pinggang elastis yang dilingkarkan pada perut bumil. Satu piringan untuk mengukur denyut jantung janin, sementara yang lain mengukur tekanan pada perut.

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat Bumil Melakukan Cardiotocography (CTG)?

Dengan begitu alat ini mampu menunjukkan kapan saja bumil mengalami kontraksi dan tiap kontraksi dapat diperkirakan kekuatannya. Sebelum CTG dipasang, akan dioleskan gel lebih dulu pada perut bumil agar sinyal dapat tertangkap dengan baik. Sabuk ini kemudian dihubungkan pada mesin yang menerjemahkan sinyal yang diterima oleh piringan.

Untuk mendeteksi denyut jantung janin, CTG menggunakan gelombang suara. Berbeda dengan denyut jantung orang dewasa sekitar 60-100 kali per menit, rata-rata denyut jantung janin dalam kandungan sekitar 110-160 kali per menit. Jika denyut jantung terlalu rendah atau tinggi, bisa jadi ini merupakan tanda adanya masalah pada janin.

Kapan CTG Diperlukan?

Dokter umumnya tidak menggunakan CTG kalau tidak ada faktor risiko atau gangguan tertentu pada kehamilan dan persalinan. CTG diperlukan jika ibu hamil mengalami kondisi yang dianggap dapat membahayakan persalinan atau bayi dalam kandungan, misalnya diabetes atau tekanan darah tinggi. Pemeriksaan ini diperlukan untuk menentukan kemungkinan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk memudahkan persalinan.

Selain itu, CTG biasanya juga dilakukan secara berkala jika ibu hamil dalam kondisi seperti:

  • Mengalami demam tinggi.

  • Adanya perdarahan saat persalinan.

  • Mengalami infeksi seperti HIV atau hepatitis B dan C.

  • Kehamilan bayi kembar.

  • Adanya masalah pada air ketuban (jumlah, warna, dan aroma).

  • Kehamilan sungsang.

  • Pergerakan janin melemah atau tidak teratur.

  • Diperkirakan mengalami gangguan pada plasenta,

  • Mengalami ketuban pecah dini.

CTG juga dapat dilakukan untuk mengukur Braxton Hicks atau kontraksi palsu, dan mengantisipasi kontraksi asli pada bumil yang sudah melewati kehamilan trimester ketiga namun belum juga melahirkan.

Baca juga: Pentingnya Tes USG Saat Hamil

USG

USG (Ultrasonografi) adalah teknik atau prosedur yang dilakukan dengan menampilkan gambaran atau citra dari kondisi bagian dalam tubuh. Dalam mengambil gambar, alat ini memanfaatkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi, yang bernama transducer. Namun, ada beberapa teknik USG yang perlu memasukkan transducer ke dalam tubuh. Teknik ini membutuhkan transducer khusus.

Selain itu, perkembangan teknologi membuat hasil pencitraan USG bukan saja lebih akurat, tetapi juga bisa digunakan dengan tujuan lebih spesifik. Beberapa tujuan pemakaian dan jenis USG yang digunakan antara lain:

  • Mengetahui masalah yang ada di dalam prostat dengan memakai USG transrektal (melalui anus).

  • Mendapatkan pencitraan dari rahim dan ovarium melalui USG transvaginal.

  • Mendapat gambar yang jelas dari organ jantung melalui ekokardiogram.

  • Memperoleh gambar yang jelas dari peredaran darah pada pembuluh darah dengan USG teknologi Doppler.

  • Mendapatkan visualisasi jaringan perut dan organ di dalamnya melalui USG abdomen.

  • Memantau struktur dan jaringan di sekitar ginjal melalui USG ginjal.

  • Mendapatkan gambar jaringan payudara lewat USG payudara.

  • Memonitor denyut jantung pada janin, biasanya memakai teknologi Doppler.

  • Memonitor perkembangan janin pada ibu hamil.

  • Memantau struktur tulang tengkorak, otak, dan jaringan di dalam kepala bayi.

  • Mengambil sampel jaringan tubuh melalui teknik biopsi dipandu USG.

  • Melihat visualisasi struktur mata dengan USG mata.

Baca juga: USG 2D, 3D dan 4D, Apa Bedanya?

Jadi, dapat disimpulkan bahwa USG sebenarnya bukan hanya pemeriksaan yang dilakukan terhadap ibu hamil saja. Pemeriksaan ini memiliki fungsi yang cukup banyak, terutama dalam mengidentifikasi adanya gangguan kesehatan tertentu, yang bisa dideteksi dengan USG berdasarkan anjuran dokter.

Itulah sedikit penjelasan tentang perbedaan antara CTG dan USG. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!