Cegah Kanker Kandung Kemih dengan 3 Cara Ini

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Cegah Kanker Kandung Kemih dengan 3 Cara Ini

Halodoc, Jakarta - Pernah merasakan gejala seperti sensasi terbakar saat buang air kecil, frekuensi pipis menjadi lebih sering atau lebih sedikit, sakit punggung, jumlah urine yang tersendat atau bahkan muncul darah? Jangan anggap sepele kondisi ini karena merupakan gejala dari kanker kandung kemih.

Kanker kandung kemih adalah kondisi saat sel di dalam kandung kemih tumbuh tidak normal dan tak terkendali, akibatnya akan terbentuk sel kanker. Apabila sel kanker terus tumbuh, mereka menyebar ke jaringan di sekitar kandung kemih atau menyebar ke organ lain yang lebih jauh seperti hati, tulang, dan paru-paru.

Baca juga: 5 Pemeriksaan untuk Diagnosis Kanker Kandung Kemih

Beberapa Langkah untuk Pencegahan Kanker Kandung Kemih

Sayangnya belum ada hal yang terbukti mampu mencegah kanker kandung kemih. Namun, penyakit ini bisa dikurangi risikonya dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti:

  • Berhenti Merokok. Rokok dikenal sebagai penyebab banyak penyakit. Kamu perlu berdiskusi pada dokter dan menjalani metode untuk berhenti merokok. Ini dimaksudkan agar zat karsinogenik tidak semakin menumpuk di dalam tubuh.

  • Hindari Paparan Kimia. Kamu wajib mengikuti prosedur keselamatan dan menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari paparan zat kimia di lingkungan kerja.

  • Konsumsi Makanan Sehat. Kamu wajib banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur. Kandungan antioksidan pada buah dan sayur mampu mengurangi risiko kanker seperti kanker kandung kemih.

Kamu juga bisa bertanya pada dokter di Halodoc mengenai gaya hidup sehat yang dianjurkan untuk cegah kanker kandung kemih. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa bertanya tentang kesehatan di mana saja dan kapan saja.

Baca juga: 3 Fakta Kanker Kandung Kemih yang Perlu Diketahui

Apa Penyebab dari Kanker Kandung Kemih?

Kanker kandung kemih bisa terjadi akibat ada perubahan struktur DNA (mutasi) pada sel di dalam kandung kemih. Mutasi ini membuat sel tumbuh tidak normal dan membentuk sel kanker. Namun, belum diketahui mengapa mutasi ini bisa terjadi. 

Perubahan sel pada kandung kemih terkait dengan paparan zat kimia seperti zat karsinogen pada rokok. Paparan tersebut dapat memicu mutasi pada sel kandung kemih. Selain itu, ada juga laporan yang menyebutkan bahwa merokok 4 kali lebih berisiko mengalami kanker kandung kemih dibanding orang yang tidak merokok.

Tidak hanya itu, paparan zat kimia industri seperti 4-Aminobiphenyl, Benzidine, Xenylamine, O-toluidine, Aniline dyes, dan 2-Naphthylamine yang digunakan pada industri pembuatan kulit, karet, tekstil, dan cat juga diduga memicu mutasi sehingga menyebabkan kanker. Tidak hanya itu, faktor risiko lain yang diduga memicu kanker kandung kemih adalah:

  • Pria;

  • Wanita yang mengalami menopause terlalu awal (di bawah 40 tahun);

  • Pernah melakukan radioterapi di area panggul atau dekat kandung kemih; 

  • Pernah menjalani kemoterapi;

  • Mengidap infeksi saluran kemih dan batu kandung kemih tanpa perawatan yang benar;

  • Menggunakan kateter urine dalam waktu lama;

  • Mengidap skistosomiasis yang tidak diobati;

  • Pernah menjalani operasi prostat;

  • Mengidap diabetes tipe 2;

  • Terdapat riwayat penyakit kanker dalam keluarga.

Baca juga: Menahan Kencing Berjam-jam, Benarkah Kandung Kemih Bisa Pecah? 

Bagaimana Cara Mengobati Kanker Kandung Kemih

Mereka yang mengidap penyakit ini memerlukan pembedahan untuk mengangkat tumor. Tumor  ini bisa dihilangkan dengan metode kolonoskopi yaitu penggunaan tabung ringan yang dimasukkan ke dalam kandung kemih. Operasi tergantung pada jenis dan luasnya penyebaran sel kanker. Jika tumor besar, mungkin perlu dilakukan pemotongan kandung kemih. Setelah operasi, urine ditempatkan pada tempat khusus yang ditanamkan dalam tubuh. Sementara itu, pemulihan bisa dilakukan dengan pemberian analgesik, terapi radiasi, dan obat-obatan anti-kanker (kemoterapi).

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Bladder Cancer.
Healthline. Diakses pada 2019. Bladder Cancer.
WebMD. Diakses pada 2019. Bladder Cancer.