Inilah Alasan Cek Darah Bisa Deteksi Penyakit Lebih Cepat

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Inilah Alasan Cek Darah Bisa Deteksi Penyakit Lebih Cepat

Halodoc, Jakarta - Cek darah adalah prosedur medis yang dilakukan dengan memeriksa sampel darah yang diambil dari tusukan pada jari atau melalui pembuluh darah pada bagian tubuh tertentu, dengan menggunakan jarum. Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi penyakit, mengetahui fungsi organ, mendeteksi racun, obat, atau zat tertentu, serta memeriksa kesehatan secara keseluruhan. Dalam mendeteksi penyakit khususnya, cek darah selalu dijadikan pemeriksaan dasar, karena hasilnya membuat dokter mampu mengetahui penyakit dengan cepat. Mengapa demikian?

Darah mengalir ke seluruh tubuh, bertindak sebagai media yang membawa nutrisi dan oksigen ke jaringan dan seluruh sel. Darah juga membawa produk-produk limbah kembali ke sistem ekskresi untuk pembuangan. Aliran darah di dalam tubuh memengaruhi atau dipengaruhi oleh banyak kondisi medis. Karena alasan inilah, tes darah menjadi salah satu tes yang paling umum untuk dilakukan.

Beberapa alasan lain mengapa tes darah dilakukan adalah sebagai cara untuk memantau aktivitas dan tingkat keparahan kondisi tertentu. Selain itu, tes darah juga berfungsi untuk melakukan pengecekan golongan darah sebelum menerima transfusi darah, untuk mengetahui konsumsi obat-obatan terlarang, serta untuk menentukan pengobatan yang tepat bagi pengidap penyakit tertentu.

Baca juga: Alasan Harus Puasa Sebelum Cek Darah

Bagaimana Prosedur Pengambilan Darah?

Pengambilan sampel darah umumnya menggunakan teknik venipunktur. Venipunktur adalah proses pengambilan darah melalui pembuluh vena dengan menggunakan jarum kecil. Prosedurnya adalah sebagai berikut:

  • Dokter atau petugas medis akan membalut lengan dengan pengikat lengan atau tourniquet. Tujuannya untuk memperlambat aliran darah dan menjadikan pembuluh vena lebih menonjol. Hal ini membuat proses pengambilan darah menjadi lebih mudah.

  • Petugas medis mengidentifikasi letak pembuluh vena, lalu membersihkan area tersebut dengan alkohol.

  • Petugas medis mengambil darah menggunakan jarum.

  • Bekas tusukan ditutup menggunakan plester.

  • Prosedur pengambilan darah biasanya berlangsung 5-10 menit. Proses ini bisa lebih cepat jika pembuluh vena mudah ditemukan. Jika sampel yang dibutuhkan hanya sedikit, dapat dilakukan pengambilan sampel darah melalui jari, yaitu dengan menusukkan jarum kecil ke ujung jari lalu menekan-nekan ujung jari agar tetesan darah keluar dan dapat ditampung. Meski terlihat menyeramkan, sebenarnya proses pengambilan darah yang benar hanya sedikit menimbulkan rasa sakit.

Ragam Jenis Cek Darah yang Perlu Diketahui

Sebelum melakukan cek darah, tidak ada salahnya mengenal lebih lanjut beragam jenis cek darah beserta fungsinya, sehingga kita tahu apa tujuan dari jenis cek darah yang dijalani. Beberapa jenis cek darah yang umum dilakukan adalah:

1. Cek Darah Lengkap

Cek darah lengkap atau yang disebut juga dengan tes hitung darah lengkap sebenarnya tidak memberikan diagnosis yang definitif terhadap suatu kondisi. Meski begitu, pemeriksaan ini dapat memberikan petunjuk penting mengenai masalah kesehatan dalam diri yang mungkin terjadi. Pemeriksaan darah ini akan melihat tinggi-rendahnya hemoglobin, jumlah sel darah putih, hematokrit, dan tinggi-rendahnya jumlah keping darah (trombosit).

Baca juga: 4 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Cek Darah

2. Uji Protein C – Reaktif

Cek darah jenis ini bertujuan untuk mengetahui adanya peradangan. Protein C-reaktif (CRP) adalah protein yang diproduksi oleh hati. Jika protein C-reaktif lebih tinggi dari normal, artinya terjadi peradangan di dalam tubuh.

3. Tingkat Sedimentasi Eritrosit (Laju Endap Darah)

Cek darah ini dilakukan untuk mengetahui seberapa parah peradangan yang terjadi di dalam tubuh. Peradangan bisa disebabkan oleh infeksi, tumor, atau penyakit autoimun. Pemeriksaan ini dikerjakan dengan cara melihat seberapa cepat sel darah merah mengendap ke dasar tabung pengujian. Semakin cepat sel darah merah mengendap, semakin tinggi tingkat peradangan. Tes ini biasanya dilakukan untuk mendiagnosis kondisi seperti endokarditis, radang sendi, polymyalgia rheumatica, radang pembuluh darah (vaskulitis), dan penyakit Crohn.

4. Tes Elektrolit

Elektrolit (mineral di dalam tubuh) berfungsi untuk menjaga keseimbangan kandungan air yang sehat di dalam tubuh, menunjang listrik saraf, membantu memindahkan nutrisi ke dalam sel-sel tubuh berikut limbah yang diproduksi keluar dari sel-sel tersebut, dan menstabilkan kadar alkali dan asam di dalam tubuh. Perubahan level mineral di dalam tubuh dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti diabetes, dehidrasi, gagal ginjal, penyakit hati, gangguan jantung, atau sedang menjalani pengobatan tertentu. Uji elektrolit juga dapat dilakukan untuk menilai kadar elektrolit di dalam tubuh setelah mendapatkan terapi untuk mengatasi gangguan elektrolit.

Baca juga: Darah Jadi Sampel Utama untuk Tes Hematologi, Benarkah?

5. Tes Koagulasi

Tes ini dilakukan untuk melihat apakah ada masalah pembekuan darah, seperti yang dialami oleh pengidap penyakit von Willebrand dan hemofilia. Tes ini dilakukan dengan melihat atau mengukur seberapa cepat darah menggumpal.

6. Tes Fungsi Tiroid

Tes ini akan menguji sampel darah dengan melihat tingkatan hormon tiroid, triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4), serta TSH (Thyroid Stimulating Hormone). Biasanya tes ini akan dilakukan jika dokter mencurigai adanya tiroid yang kurang aktif atau terlalu aktif.

Itulah sedikit penjelasan tentang cek darah. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!