Gangguan Jiwa Bisa Menurun Secara Genetik?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Gangguan Jiwa Bisa Menurun Secara Genetik?

Halodoc, Jakarta – Gangguan jiwa dapat terjadi pada siapa saja, dan jenisnya ada banyak sekali. Seperti halnya penyakit fisik, gangguan jiwa katanya bisa diturunkan secara genetik, benarkah demikian? Jawabannya, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Sebab hingga kini, masih belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab seseorang bisa terkena gangguan jiwa.

Namun memang, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan gangguan jiwa. Salah satunya adalah faktor genetik. Artinya, orang yang memiliki orangtua atau keluarnya dengan riwayat gangguan jiwa, dapat lebih rentan mengalami kondisi serupa.

Baca juga: 5 Tanda-Tanda Gangguan Jiwa yang Sering Tak Disadari

Meski demikian, bukan berarti gangguan jiwa pasti akan diturunkan secara genetik. Risikonya mungkin lebih besar, tetapi orang dengan orangtua atau keluarga yang mengidap gangguan jiwa bisa saja tetap sehat. Hal ini karena ada banyak faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami gangguan jiwa, dan faktor genetik bukanlah satu-satunya penentu.

Tentang Gangguan Jiwa dan Faktor yang Tingkatkan Risikonya

Gangguan jiwa merupakan jenis penyakit yang memengaruhi emosi seseorang. Gangguan ini menyebabkan perilaku dan pola pikir pengidapnya mengalami perubahan dan berbeda dari orang kebanyakan. Sayangnya, gangguan ini kerap dipandang sebelah mata dan diidentikan dengan hal-hal negatif.

Padahal, sama seperti penyakit yang menyerang fisik, gangguan jiwa juga ada obatnya dan bisa disembuhkan dengan mengikuti serangkaian pengobatan, seperti pemberian obat-obatan dan psikoterapi. Jenis dari gangguan jiwa juga ada banyak sekali. Gejala yang ditunjukkan juga bervariasi, tergantung jenis gangguan yang dialami.

Baca juga: 2 Gangguan Mental yang Mirip dengan Kepribadian Joker

Pengidap gangguan jiwa bisa saja mengalami gangguan pada pola pikir, perilaku, dan emosi. Umumnya, gejala dari gangguan jiwa adalah delusi, halusinasi, suasana hati yang berubah-ubah, rasa cemas dan takut berlebihan, dan ketidakstabilan emosi. Namun, tingkat keparahan dan gejala lebih lanjutnya bervariasi, tergantung jenis gangguan jiwa yang dialami.

Jika kamu mengalami berbagai gejala umum tersebut, atau membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan psikolog terkait gangguan yang dialami, kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc. Cukup download aplikasinya di ponselmu, dan gunakan untuk berkonsultasi dengan psikolog lewat chat

Soal faktor-faktor yang tingkatkan risiko gangguan jiwa, seperti telah disebutkan di awal, ada banyak sekali. Beberapa faktor yang umum adalah biologis dan psikologis. Secara biologis, gangguan jiwa dapat terjadi akibat kerusakan fungsi sel saraf di otak, infeksi, kelainan bawaan, cedera pada otak, kekurangan oksigen pada bayi saat persalinan, dan kekurangan nutrisi.

Selain faktor biologis,ada juga faktor psikologis. Faktor ini juga termasuk salah satu faktor paling umum yang berperan dalam memicu gangguan jiwa pada seseorang. Berbagai faktor psikologis yang dimaksud dapat berupa adanya peristiwa traumatis di masa lalu, seperti kekerasan dan pelecehan seksual, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, rasa rendah diri, atau ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial.

Baca juga: Kenali Tanda-Tanda Mengidap Gangguan Jiwa

Satu hal yang perlu diingat adalah, jangan pernah self-diagnose, atau mendiagnosis diri mengidap penyakit jiwa tertentu. Sebab, gangguan jiwa hanya bisa didiagnosis melalui pemeriksaan medis kejiwaan. Jadi, datanglah ke psikolog atau psikiater jika mengalami keluhan atau merasa ada yang tidak beres pada emosi, perilaku, dan pola pikir.

Perlu diketahui juga bahwa gangguan jiwa merupakan kondisi yang tidak boleh dianggap sepele dan harus segera ditangani. Ya, sama seperti penyakit pada fisik. Pengidap gangguan jiwa biasanya perlu mengonsumsi obat-obatan tertentu, menjalani psikoterapi, dan melakukan perubahan gaya hidup. Hal ini bertujuan untuk menangani dan mengontrol gejala yang dialami. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Causes of Mental Illness.
Rethink. Diakses pada 2019. Does mental illness run in families?
Huffpost. Diakses pada 2019. Is Mental Illness Hereditary?