06 December 2018

Gara-Gara Kelainan Sistem Imun, Ketahui Fakta Glomerulonefritis

Gara-Gara Kelainan Sistem Imun, Ketahui Fakta Glomerulonefritis

Halodoc, Jakarta – Glomerulonefritis adalah penyakit ginjal progresif yang melibatkan glomerulus, yaitu unit penyaringan ginjal yang menghasilkan urine. Ketika glomerulus meradang, maka ginjal tidak bisa menyaring urine dengan benar. Ini menghasilkan penumpukan kelebihan cairan dan racun di dalam tubuh. Glomerulonefritis dapat menyebabkan gagal ginjal kronis.

Ada dua tipe utama glomerulonefritis, yaitu primer dan sekunder. Glomerulonefritis primer memengaruhi ginjal secara langsung. Sementara di glomerulonefritis, sekunder ginjal rusak akibat penyakit lain. Glomerulonefritis tampaknya terjadi dua kali lebih sering ke pria ketimbang wanita.

Salah satu penyebab glomerulonefritis adalah masalah dengan sistem kekebalan atau penyakit yang memengaruhinya, seperti Lupus, HIV, kondisi yang memengaruhi pembuluh darah,  infeksi dengan bakteri streptokokus grup A (bakteri yang menyebabkan radang tenggorokan), dan hepatitis.

Dalam kasus yang jarang terjadi, anak-anak dapat mewarisi glomerulonefritis dari orang tua mereka yang disebut sindrom Alport.

Tanda-tanda awal glomerulonefritis meliputi:

  1. Darah dalam urine (hematuria yang menyebabkan urine merah atau cokelat)

  2. Protein dalam urine yang dapat membuat urine tampak berbusa di toilet

  3. Bengkak terutama di pagi hari, di sekitar wajah, mata, pergelangan kaki, kaki, dan perut

  4. Tekanan darah tinggi (hipertensi)

Dengan glomerulonefritis akut, gejala muncul tiba-tiba dan mungkin setelah infeksi kulit atau kasus radang tenggorokan. Glomerulonefritis kronis dapat memerlukan beberapa bulan atau tahun untuk berkembang dan ditemukan melalui tes urine.

Jika kondisi tidak terdeteksi dini dan diobati, maka ada kemungkinan sudah kerusakan ginjal atau gagal ginjal. Gejala gagal ginjal, termasuk:

  1. Kencing lebih sering

  2. Berkurangnya volume urine

  3. Kurang nafsu makan

  4. Mual dan muntah

  5. Penurunan berat badan

  6. Kram otot di malam hari

  7. Kelelahan luar biasa

  8. Kulit pucat

  9. Tekanan darah tinggi

  10. Sakit kepala

  11. Penumpukan cairan di jaringan

Penyakit ginjal ini bisa dicegah dengan cara melakukan beberapa tips berikut ini:

  1. Pertahankan berat badan yang sehat.

  2. Batasi konsumsi garam dalam diet.

  3. Membatasi asupan protein dalam diet.

  4. Batasi potassium di makanan.

  5. Berhenti merokok.

Mendiagnosis Glomerulonefritis

Langkah pertama dalam diagnosis adalah tes urinalisis. Darah dan protein dalam urine adalah penanda penting untuk penyakit ini. Pemeriksaan fisik rutin untuk kondisi lain juga dapat mengarah pada penemuan glomerulonefritis.

Tes urine lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memeriksa tanda-tanda penting kesehatan ginjal, termasuk:

  1. Uji kreatinin

  2. Pemeriksaan total protein dalam urine

  3. Penilaian konsentrasi urine

  4. Massa urine

  5. Sel darah merah urine

  6. Osmolalitas urine

Tes darah juga perlu dilakukan untuk mengetahui:

  1. Ada tidaknya anemia

  2. Kadar albumin abnormal

  3. Nitrogen urea darah abnormal

  4. Tingkat kreatinin tinggi

Demikian juga pemeriksaan daya tahan tubuh untuk mengecek:

  1. Antibodi membran basal anti-glomerular

  2. Antibodi sitoplasma anti-neutrofil

  3. Antibodi anti-nuklear

Berdasar hasil pengujian ini akan diketahui apakah sistem kekebalan tubuh telah merusak ginjal atau tidak. Biopsi ginjal sangat mungkin diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis. Ini melibatkan analisis sampel kecil jaringan ginjal yang diambil oleh jarum.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang kondisi kesehatan, seseorang yang diindikasi mengidap glomerulonefritis sangat mungkin memiliki tes pencitraan, seperti CT scan, USG ginjal, rontgen dada dan pielogram intravena.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai glomerulonephritis serta hubungannya dengan kelainan sistem imun, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: