Gempa M 6.8 di Ambon, Begini Atasi Trauma Anak

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Gempa M 6.8 di Ambon, Begini Atasi Trauma Anak

Halodoc, Jakarta – Gempa kembali melanda Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa terjadi di sebelah timur laut Kota Ambon, Maluku dengan magnitude 6,8 pada Kamis (26/9). Tentu, kejadian ini menyisakan rasa trauma pada penduduk sekitar kejadian.

Baca juga: Ini 4 Hal yang Harus Diketahui Tentang Trauma

Bencana alam bisa terjadi kapan saja dan di mana saja secara tiba-tiba. Tentu, rangkaian kejadian bencana alam menyisakan kesedihan bahkan memicu rasa trauma pada korban, khususnya anak-anak. Kondisi trauma sebaiknya jangan dibiarkan berlarut karena bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental pada anak. Tidak ada salahnya orangtua mendampingi anak pasca bencana yang dialami agar kesehatan fisik maupun mental anak terjaga.

Bencana alam seperti gempa bumi yang terjadi secara tiba-tiba. Selain bisa mengakibatkan gangguan fisik, korban dari bencana alam juga dapat mengalami gangguan pada kesehatan mentalnya. 

Apalagi jika bencana alam yang dialami membuat kerugian dari emosional maupun harta benda. Perubahan hidup yang terjadi bisa memengaruhi psikis anak. Perpindahan tempat tinggal dari rumah yang nyaman menuju pengungsian juga dapat membuat anak merasa tertekan dengan perubahan yang ada. 

Ada beberapa reaksi yang muncul ketika anak mengalami trauma terhadap kejadian yang berlangsung. Anak menjadi lebih sering menangis ketakutan setelah bencana terjadi karena rasa cemas yang dirasakan. Tidak hanya itu, gangguan tidur juga dialami oleh anak dengan trauma yang dirasakan. Anak juga lebih sensitif terhadap gangguan dari luar seperti suara ribut, getaran kecil, dan stimulus lainnya yang memicu rasa trauma pada anak. Penurunan nafsu makan dan ingin selalu dekat dengan orangtua juga menjadi tanda trauma pasca bencana pada anak.

Kondisi trauma pasca bencana yang dibiarkan menyebabkan anak mengalami beberapa gangguan kesehatan, seperti gangguan kecemasan, stres, depresi bahkan post traumatic stress disorder (PTSD). Tidak ada salahnya ibu lakukan pemeriksaan kesehatan fisik maupun mental pada anak setelah alami bencana alam pada rumah sakit terdekat untuk memastikan kondisi kesehatan anak. Kini ibu bisa membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Bencana Alam Bisa Timbulkan Gangguan Jiwa

Sebaiknya, orangtua lakukan dukungan pada anak untuk mengatasi masalah trauma terhadap bencana alam dengan melakukan beberapa cara, seperti:

1. Ajak Anak Berkomunikasi

Sebaiknya ajak anak untuk berkomunikasi mengenai apa yang dirasakannya. Jelaskan masalah dan perubahan yang terjadi dengan kalimat yang mudah dimengerti anak dan membuat anak merasa nyaman. Pastikan pada anak semuanya dalam keadaan baik-baik saja.

2. Usahakan Selalu Berada Dekat Anak

Setelah kejadian bencana alam yang terjadi, tentu sebagai orangtua, ibu memikirkan kondisi anak dengan berusaha menjauhkan anak dari lokasi kejadian dan menitipkan pada keluarga di lokasi yang aman. Pikirkan kembali rencana ini, rasa sedih dan cemas yang dialami Si Kecil perlu dipulihkan dengan kasih sayang dari orangtuanya sepanjang hari. Usahakan untuk berada di dekat anak agar anak merasa aman dan tidak cemas dengan situasi yang terjadi.

3. Bangun Rasa Nyaman

Sebaiknya jalani kegiatan seperti biasa pasca bencana yang dialami oleh keluarga untuk mengalihkan perhatian dari rasa cemas dan trauma yang dialami anak. Setelah itu, jangan lupa untuk bangun rasa percaya diri dan rasa nyaman pada anak agar trauma yang dialami berangsur menghilang. Cara membangun rasa nyaman dan aman, maka ibu akan membuat anak berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.

4. Luangkan Waktu Bersama

Setelah bencana alam terlewati dan masalah terselesaikan, luangkan waktu bersama untuk membangun waktu berkualitas bersama keluarga. Tidak ada salahnya mengajak anak rekreasi atau melakukan hal yang menyenangkan anak. Rasa bahagia yang dialami anak mempermudah untuk mengatasi rasa trauma yang dirasakan anak. Selain itu, waktu bersama orangtua akan membuat anak merasa aman dan selalu nyaman.

Baca juga: Korban Bencana Alam Bisa Kena Pneumonia Aspirasi, Benarkah?

Sebaiknya, dampingi dan berikan dukungan pada anak pasca bencana yang terjadi. Meskipun orangtua mengalami tekanan setelah alami bencana alam, jangan lupa untuk tetap perhatikan kesehatan anak.

Referensi:
American Psychological Association. Diakses pada 2019. Recovering Emotionally From Disaster
National Association of School Psychologists. Diakses pada 2019. Responding to Natural Disasters: Helping Children and Families