22 February 2019

Hampir Mirip, Apa Perbedaan EKG dan EEG?

Hampir Mirip, Apa Perbedaan EKG dan EEG?

Halodoc, Jakarta – Baik EKG dan EEG adalah tes diagnostik non-invasif yang dapat memberikan banyak informasi tentang jantung atau otak. Walaupun kedengarannya mirip, namun kedua jenis pemeriksaan ini jelas berbeda. EKG merujuk pada tes jantung, sedangkan EEG adalah tes otak.

Electroencephalogram (EEG) adalah tes yang mengukur impuls listrik di otak melalui cakram logam kecil yang disebut elektroda yang menempel di kulit kepala. Elektroda hanya mengukur aktivitas listrik yang keluar dari otak dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Baca juga: Stres Bisa Memicu Epilepsi

Elektrokardiogram (EKG) adalah tes tanpa rasa sakit yang mengukur aktivitas listrik di jantung. Karena EKG mengukur berbagai aspek fungsi jantung, hasil abnormal dapat menandakan beberapa masalah. Ini termasuk:

  1. Cacat atau Kelainan Bentuk dan Ukuran Jantung

EKG abnormal dapat menandakan bahwa satu atau lebih aspek dinding jantung lebih besar dari yang lain. Ini bisa menandakan bahwa jantung bekerja lebih keras dari biasanya untuk memompa darah.

  1. Ketidakseimbangan Elektrolit

Elektrolit adalah partikel penghantar listrik dalam tubuh yang membantu menjaga otot jantung berdenyut dalam ritme. Kalium, kalsium, dan magnesium adalah elektrolit. Jika elektrolit kamu tidak seimbang, kamu mungkin mengalami pembacaan EKG yang abnormal.

Baca juga: Risiko Fatal Dibalik Cedera Kepala

  1. Serangan Jantung atau Iskemia

Selama serangan jantung, aliran darah di jantung terpengaruh dan jaringan jantung dapat mulai kehilangan oksigen dan mati. Jaringan ini tidak akan menghantarkan listrik juga yang dapat menyebabkan EKG abnormal. Iskemia, ataupun kurangnya aliran darah, juga dapat menyebabkan EKG abnormal.

  1. Abnormalitas Detak Jantung

Detak jantung tipikal manusia adalah antara 60 dan 100 detak per menit (bpm). EKG dapat menentukan apakah jantung berdetak terlalu cepat atau lambat.

  1. Abnormalitas Irama Jantung

Jantung biasanya berdetak dengan irama yang stabil. EKG dapat mengungkapkan jika jantung berdetak karena ritme atau urutan.

Baca juga: Pemeriksaan yang Akan Dilakukan Ketika Terkena Trauma Kepala Berat

  1. Efek Samping Obat

Minum obat-obatan tertentu dapat memengaruhi laju dan irama jantung. Kadang-kadang, obat yang diberikan untuk meningkatkan ritme jantung dapat memiliki efek sebaliknya dan menyebabkan aritmia. Contoh obat yang memengaruhi ritme jantung, termasuk beta-blocker, sodium channel blocker, dan calcium channel blocker.

Perbedaan EEG dan EKG

EEG digunakan untuk mendeteksi masalah dalam aktivitas listrik otak yang mungkin terkait dengan gangguan otak tertentu. Pengukuran yang diberikan oleh EEG digunakan untuk mengkonfirmasi atau mengesampingkan berbagai kondisi, termasuk:

  1. Gangguan kejang, seperti epilepsi

  2. Cedera kepala

  3. Ensefalitis (radang otak)

  4. Tumor otak

  5. Ensefalopati (penyakit yang menyebabkan disfungsi otak)

  6. Masalah memori

  7. Gangguan tidur

  8. Benturan

  9. Demensia.

Ketika seseorang koma, EEG dapat dilakukan untuk menentukan tingkat aktivitas otak. Tes ini juga dapat digunakan untuk memantau aktivitas selama operasi otak. Biasanya, kamu tidak memerlukan EKG jika tidak memiliki faktor risiko atau gejala yang menunjukkan kemungkinan penyakit jantung.

Baca juga: Alasan Trauma Kepala Berat Dapat Mengganggu Fungsi Otak

Sedangkan untuk EKG, beberapa gejala dapat menunjukkan bahwa kamu mungkin perlu EKG ketika mengalami nyeri dada atau ketidaknyamanan, sulit bernapas, jantung berdebar atau merasakan jantung berdetak aneh, perasaan mungkin akan pingsan, jantung berdebar kencang, serta rasa seperti dada diperas dan kelemahan mendadak.

Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai perbedaan EKG dan EEG, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.