31 August 2018

Harus Tahu, Infeksi Candida yang Sebabkan Iritasi Pada Miss V

infeksi candida, iritasi vagina,

Halodoc, Jakarta - Masalah pada Miss V enggak cuma keputihan, iritasi, atau berbau tak sedap saja, lho. Kata ahli, Miss V juga bisa terserang infeksi candida yang bisa menimbulkan berbagai keluhan medis. Infeksi jamur candida pada saluran reproduksi wanita ini bisa memengaruhi sistem imun yang lemah. Misalnya, wanita hamil, wanita dengan diabetes, atau wanita dengan HIV atau AIDS.

Sebenarnya, infeksi candida ini juga bisa menyerang organ reproduksi laki-laki. Gejalanya bisa berupa gatal, bengkak pada area Mr P, kemerahan, hingga bercak putih lengket dan berbau di area kepala hingga leher Mr P.

Kata ahli, candidiasis merupakan infeksi jamur oleh jamur candida yang bisa memengaruhi alat kelamin, mulut, dan darah. Nah, berikut infeksi candida yang bisa menyebabkan iritasi pada Miss V.

Amati Gejalanya

Umumnya gejala candidiasis berupa ruam pada kulit yang bisa menyebabkan kulit gatal (pruritus), kering, dan pecah-pecah. Dalam beberapa kasus, infeksi candida ini juga bisa membuat kulit melepuh hingga menimbulkan nanah.

Sebenarnya sih candidiasis ini terdiri dari beragam jenis, yang dibagi berdasarkan lokasi yang terkena. Untuk bakteri yang menyerang area Miss V, disebut sebagai candidiasis vulvovaginal, alias infeksi candidiasis pada organ genital wanita. Lalu, bagaimana dengan gejalanya?

Kata ahli, infeksi jamur pada Miss V ini bisa menimbulkan gejala berupa gatal yang ekstrim, kemerahan di area vulva dan selangkangan, serta rasa sakit pada area Miss V. Enggak cuma itu, cairan Miss V yang terinfeksi juga berwarna putih, kental, dan berbau asam.

Flora Normal dan Penyebabnya

Meski bisa menyerang pria, umumnya candidiasis lebih sering terjadi pada wanita. Sebenarnya, jamur candida adalah jamur yang secara normal ada pada kulit, saluran cerna, dan saluran reproduksi. Tenang, enggak usah panik dulu, sebab jamur candida merupakan flora normal. Yang mesti diwaspadai, kadang kala pertumbuhan jamur ini bisa berlebihan hingga menimbulkan sederet masalah seperti di atas.

Meski bukan termasuk penyakit menular seksual, tapi infeksi candida juga bisa ditularkan melalui hubungan intim, terutama bagi mereka yang aktif secara seksual. Lalu, hal apa lagi yang bisa menyebabkan candidiasis ini?

- Kebersihan pribadi yang buruk.

- Cuaca yang hangat.

- Jarang mengganti pakaian dalam.

- Mengenakan pakaian ketat.

- Kulit yang lembap dan tak dikeringkan dengan benar.

- Konsumsi antibiotik yang bisa membunuh bakteri pada kulit yang berperan untuk menekan pertumbuhan candida.

- Wanita dengan kadar estrogen yang tinggi.

- Diabetes yang tak terkendali.

- Wanita dengan sistem imun yang lemah.

Kemungkinan Besar Mengalaminya

Selain beberapa gejala di atas, melansir laman Central of Disease Control and Prevention (CDC), gejala khas candidiasis vulvovagina juga bisa berupa dispareunia. Dispareunia sendiri merupakan rasa sakit pada area kemaluan secara terus-menerus, sebelum, selama, atau sesudah berhubungan intim. Enggak cuma itu, kata ahli dari CDC penyakit ini juga bisa ditandai dengan disuria eksternal, alias rasa nyeri atau terbakar dan  tak nyaman ketika hendak buang air kecil.

Nah, masalahnya, menurut ahli di sana, diperkirakan 75 persen wanita akan mengalami satu episode candidiasis vulvovaginal dalam hidupnya. Bahkan, sekitar 40-45 persen wanita bisa mengalami dua episode atau lebih. Oleh sebab itu, jauhilah faktor risiko yang bisa memicu candidiasis vulvovaginal.

Punya keluhan kesehatan atau masalah pada sistem reproduksi? Kamu bisa lho, bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: