Infeksi Menular Seksual Dapat Sebabkan Proktitis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Infeksi Menular Seksual Dapat Sebabkan Proktitis

Halodoc, Jakarta – Peradangan dapat terjadi pada bagian mana saja di dalam tubuh, tak terkecuali rektum atau bagian akhir usus besar. Peradangan pada dinding rektum ini disebut proktitis. Ada beragam hal yang dapat menyebabkan terjadinya proktitis. Salah satunya adalah infeksi menular seksual.

Jenis infeksi menular seksual yang paling umum menyebabkan proktitis adalah gonore, sifilis, herpes, dan klamidia. Penyakit ini juga dapat terjadi pada orang yang kerap melakukan seks anal, atau yang suka bergonta-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom. 

Baca juga: Inilah Ciri Penyakit Menular Seksual pada Pria dan Wanita

Selain karena infeksi menular seksual, proktitis juga dapat disebabkan oleh berbagai hal lain, seperti:

1. Infeksi Bakteri

Bakteri yang masuk ke tubuh melalui makanan, dapat menyebabkan infeksi pada saluran cerna. Infeksi inilah yang kemudian memicu peradangan pada rektum.

2. Radang Usus

Beberapa jenis radang usus seperti penyakit Chron atau kolitis ulseratif juga dapat meningkatkan risiko pengidapnya untuk mengalami proktitis.

3. Penggunaan Antibiotik Tanpa Instruksi Dokter

Penggunaan antibiotik sangat memerlukan resep dan anjuran dari dokter. Sebab tidak hanya membunuh bakteri penyebab infeksi, antibiotik juga dapat membunuh bakteri baik yang berfungsi untuk menjaga kesehatan saluran cerna. Ketika bakteri baik itu terbunuh, akan ada bakteri berbahaya seperti Clostridium difficile yang dapat berkembang biak dan menginfeksi rektum.

Oleh karena itu, jangan pernah menggunakan antibiotik sembarangan, tanpa instruksi dokter. Lebih baik, gunakanlah aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter terkait penggunaan antibiotik dan risiko apa saja yang mungkin terjadi jika mengonsumsinya sembarangan. Jadi, segera download dan install aplikasinya, ya.

Baca juga: 7 Cara Jitu Supaya Tidak Tertular Penyakit Seksual

4. Radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi merupakan salah satu terapi yang kerap digunakan untuk menangani kanker. Ketika terapi ini dilakukan di sekitar rektum, untuk menangani kanker prostat atau ovarium, risiko peradangan pada rektum atau proktitis dapat meningkat.

5. Efek Samping Operasi

Pasien yang menjalani operasi usus besar dan pembuatan stoma (lubang buatan di perut untuk buang air besar), memiliki risiko yang cukup tinggi untuk mengalami proktitis. Sebab, rektum yang tidak dilewati sisa makanan justru berisiko mengalami peradangan.

Gejala dan Komplikasi yang Dapat Ditimbulkan Proktitis

Gejala utama dari proktitis adalah perut mulas atau rasa ingin buang air besar terus-menerus. Hal ini dapat berlangsung sementara maupun kronis, hingga hitungan minggu dan bulan. Selain gejala tersebut, ada juga beberapa kondisi lain yang menandakan terjadinya proktitis, yaitu:

  • Sakit perut bagian kiri, terutama ketika buang air besar.
  • Dubur terasa sakit.
  • Diare.
  • Merasa tidak tuntas setelah buang air besar.
  • Buang air besar berdarah atau berlendir.

Baca juga: Begini Penularan Infeksi Chlamydia dari Tubuh ke Tubuh

Jika kamu mengalami berbagai gejala tersebut, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Kamu bisa memanfaatkan juga aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter di rumah sakit, agar tidak lagi mengantri lama. 

Perlu diketahui bahwa proktitis yang tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi, berupa:

  • Anemia, akibat perdarahan berkelanjutan.
  • Infeksi (abses) pada area yang terinfeksi.
  • Terbentuknya luka borok di dalam dinding rektum.
  • Fistula ani, yaitu terbentuknya saluran abnormal antara usus dengan kulit di sekitar dubur.
  • Fistula rektovagina, yaitu terbentuknya saluran abnormal antara rektum dan vagina, sehingga feses dapat keluar ke vagina.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Proctitis.
Healthline. Diakses pada 2019. What Is Proctitis?
WebMD. Diakses pada 2019. Proctitis.