Influenza Dapat Sebabkan Sindrom Reye, Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Influenza Dapat Sebabkan Sindrom Reye, Ini Penjelasannya

Halodoc, Jakarta - Sindrom reye yang rawan terjadi pada anak dapat menyebabkan pembengkakan organ otak dan hati. Penyebab pastinya memang belum diketahui, tetapi diduga ada keterlibatan genetik di dalamnya. Kelainan genetik ini terjadi ketika mitokondria mengalami kerusakan, padahal bagian satu ini penting sebagai sumber energi pada sel sekaligus penunjang kesehatan hati. 

Tidak adanya energi akibat rusaknya mitokondria, energi tidak bisa diproduksi, sehingga mengancam fungsi hati dan berakhir pada kondisi gagal hati. Pada tahapan lanjut, akan terjadi penumpukan zat kimia beracun pada darah yang memicu kerusakan tubuh dan pembengkakan pada otak. Sementara pembengkakan pada hati terjadi ketika ada penurunan kadar gula darah dan peningkatan asam dan amonia. Ini membuat hati membengkak dan terjadi penimbunan lemak dalam hati. 

Bagaimana Influenza Dapat Sebabkan Sindrom Reye?

Lantas, apa kaitannya sindrom reye dengan influenza? Ternyata, sangat berkaitan. Pasalnya, sindrom ini sering kali muncul pada anak yang baru saja sembuh atau menjalani pemulihan setelah terserang penyakit flu, cacar air, atau penyakit lain yang terjadi karena infeksi virus. Nah, salah satu gejala yang biasanya muncul pada kedua penyakit tadi adalah sakit kepala. 

Baca juga: Bagaimana Si Kecil Bisa Terserang Sindrom Reye?

Sayangnya, tanpa berpikir panjang, anak lalu diberikan obat aspirin untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang muncul karena sakit kepala tadi. Padahal, aspirin dilarang keras untuk diberikan pada anak karena meningkatkan risiko anak terserang sindrom reye. Jika harus diberikan, dosisnya harus sesuai dengan petunjuk dokter. Inilah yang menguatkan keterkaitan antara sindrom reye dan influenza. 

Ketika anak mengalami sindrom reye, gejala baru akan muncul setidaknya antara tiga hingga lima hari setelah anak sembuh dari flu atau cacar air. Diare dan napas yang seperti tersengal adalah dua gejala awal yang sering muncul jika sindrom ini menyerang anak berusia di bawah dua tahun. Sementara pada anak yang lebih dewasa, gejalanya lebih kompleks, termasuk sering mengantuk, badan mudah lesu, dan muntah berkepanjangan. 

Baca juga: Waspada Sindrom Reye yang Menyerang Otak Anak

Apabila sindrom reye pada anak tidak segera ditangani, gejala yang muncul bisa menjadi lebih serius, seperti badan yang selalu terasa lemah. Bahkan, anak bisa mengalami kejang dan kelumpuhan pada lengan dan kaki. Selanjutnya, anak menjadi mudah tersinggung dan lebih agresif, tetapi pada saat yang bersamaan, terjadi penurunan kesadaran. Kalau anak menunjukkan gejala ini, segera bawa ke rumah sakit. Jangan lupa buat janji dengan dokter dahulu di rumah sakit mana saja yang terdekat. 

Tanpa adanya penanganan, sindrom reye dapat berkembang menjadi kondisi yang sangat serius. Anak akan mengalami penurunan daya ingat dan sulit untuk berkonsentrasi, kemampuannya untuk menelan, bicara, dan berbahasa pun menjadi berkurang. Lalu, kondisi ini diikuti dengan berkurangnya daya dengar dan kemampuan indra matanya. Pada akhirnya, anak akan sulit beraktivitas, bahkan untuk melakukan aktivitas ringan sekalipun. 

Baca juga: Atasi Sindrom Reye dengan 5 Cara Ini

Mengetahui betapa seriusnya kondisi ini, orangtua disarankan untuk tidak memberikan aspirin pada anak secara asal. Jika harus memberikannya sebagai obat pereda nyeri, pastikan anak telah mendapatkan vaksin flu dan cacar. Jangan lupa, selalu tanyakan pada dokter tentang penggunaannya, mengingat dampaknya yang begitu signifikan pada tumbuh kembang anak bila diberikan tidak sesuai anjuran. 

Referensi: 
Kidshealth. Diakses pada 2019. Reye Syndrome.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Reye’s Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2019. Reye’s Syndrome.