Ini Alasan Minum Obat Antibiotik Harus Dihabiskan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ini Alasan Minum Obat Antibiotik Harus Dihabiskan

Halodoc, Jakarta - Ketika memeriksakan kondisi kesehatan ke dokter, terkadang kamu diberi obat jenis antibiotik. Saran yang kamu dapatkan biasanya sama, yaitu antibiotik harus kamu minum sampai habis, sementara tidak demikian pada jenis obat lainnya yang turut diresepkan bersamaan. Seringnya, yang terjadi adalah kamu tidak meminumnya sampai habis karena sudah merasa sehat. 

Padahal, kamu diharuskan untuk tetap minum antibiotik ini meski tubuh sudah merasa sembuh dan kembali sehat. Sebenarnya, mengapa obat antibiotik harus dihabiskan? Apakah ada dampak negatif yang muncul ketika seseorang tidak menghabiskan obat antibiotik yang diresepkan?

Resistensi Antibiotik, Dampak Tidak Menghabiskan Antibiotik yang Diresepkan

Ternyata, obat antibiotik yang diresepkan dan tidak dihabiskan memicu terjadinya resistensi antibiotik pada tubuh. Meski sudah merasa sehat, bisa saja bakteri yang menginfeksi tubuh masih belum sepenuhnya mati. Nah, sisa bakteri yang masih hidup ini bisa kembali bermutasi dan menginfeksi ulang. 

Baca juga: Setelah Minum Obat, Mengapa Muncul Tanda Alergi?

Mutasi ini menyebabkan bakteri menjadi lebih kebal terhadap antibiotik tertentu, seperti antibiotik yang diresepkan padamu atau setara. Infeksi yang terjadi lagi membuat bakteri tidak mati dengan obat antibiotik tersebut. Ini membuat bakteri tersebut menjadi sulit dimatikan, dan berisiko menyebabkan kematian. 

Mengapa Resistensi Antibiotik Berbahaya?

Jawabannya karena tidak banyak lagi jenis antibiotik lainnya yang bisa membunuh bakteri yang sudah lebih kuat. Artinya, pilihan yang kamu miliki sangat terbatas. Meski begitu, dampak ini tidak terjadi pada setiap orang yang tidak menghabiskan antibiotik yang diresepkan padanya, tetapi lebih mengacu pada seseorang dengan kondisi medis tertentu. 

Tetapi, untuk menentukan apakah seseorang termasuk dalam kategori berisiko tinggi mengalami resistensi antibiotik tidak pernah mudah. Oleh karena itu, lebih baik menghindari dampaknya dengan tetap konsumsi antibiotik sampai benar-benar habis, meski tubuh merasa sehat dan sembuh dari penyakit yang menyerang. 

Baca juga: Langsung Minum Obat Saat Demam, Bolehkah?

Bagaimana Jika Dokter yang Menyuruh Berhenti?

Boleh atau tidaknya kamu berhenti mengonsumsi obat antibiotik harus kamu tanyakan terlebih dahulu pada dokter. Pada jenis penyakit tertentu, seperti infeksi saluran kemih dan nyeri dada, dokter memberi tahu untuk berhenti jika dirasa penyakit yang menyerang telah sembuh. 

Namun, jika dokter tidak memberikan informasi tersebut, sebaiknya kamu tidak menghentikan konsumsi obat ini sebelum benar-benar habis. Tidak lama, biasanya obat ini diresepkan paling cepat adalah selama 3 hari, paling lama satu minggu. Ini, tentu saja sudah menjadi pertimbangan dari dokter tersebut. 

Baca juga: Konsumsi Obat Setelah Minum Kopi, Bolehkah?

Itulah mengapa kamu harus selalu bertanya pada dokter jika berkaitan dengan masalah kesehatan, termasuk jangka waktu konsumsi obat-obatan yang diresepkan. Dokter tidak meresepkan tanpa pertimbangan kok, jadi kamu sebaiknya tidak mengambil keputusan sendiri untuk berhenti tanpa bertanya lebih lanjut dan meminta pertimbangan dokter. 

Jangan pernah beralasan membuat janji dengan dokter itu sulit, karena sekarang kamu bisa menentukan sendiri tempat bertemu dan memeriksakan diri dengan dokter di rumah sakit yang sesuai dengan keinginan atau terdekat dengan tempat tinggalmu. Cukup cek di sini dan baca dengan baik arahannya. 

Pun, kamu bisa bertanya pada dokter setiap saat di mana saja, karena sekarang ada aplikasi Halodoc yang memberikan kemudahan itu melalui fitur Tanya Dokter. Download aplikasinya segera, karena selain mudah bertanya pada dokter, kamu juga lebih mudah dalam Beli Obat dan Cek Lab.