Ini Faktor Pemicu Sistokel yang Harus Dipahami

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ini Faktor Pemicu Sistokel yang Harus Dipahami

Halodoc, Jakarta - Banyak penyakit yang menyebabkan wanita merasa tidak nyaman dan sulit buang air kecil. Salah satunya adalah sistokel, yaitu kondisi saat kandung kemih turun ke area vagina sehingga menyebabkan tonjolan pada vagina

Kandung kemih memiliki peran yang penting, ia akan mengumpulkan dan menyimpan urine untuk kemudian dibuang. Agar bisa tetap pada tempatnya, kandung kemih ditopang oleh otot dan jaringan di bagian dalam panggul. Pada kondisi tertentu, otot penopang kandung kemih ini melemah dan menyebabkan organ tersebut turun ke vagina dan sebabkan sistokel.

Baca juga: Ibu Melahirkan Normal Berisiko Alami Sistokel?

Apa Saja yang Menjadi Faktor Pemicu Sistokel?

Terdapat beberapa hal yang sebabkan seorang wanita mengidap penyakit ini, antara lain: 

  • Alami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK);

  • Obesitas;

  • Sembelit;

  • Kerap melakukan pekerjaan yang sering mengangkat barang berat;

  • Sedang hamil atau sehabis melahirkan normal;

  • Sehabis menjalani operasi pengangkatan rahim (histerektomi);

  • Memasuki masa menopause;

  • Sering mengalami sembelit sehingga sering mengejan saat buang air besar.

Memiliki salah satu faktor risiko di atas? Sebaiknya segera periksakan diri ke rumah sakit agar kondisi tidak berkembang menjadi sistokel. Kamu bisa mengunjungi rumah sakit terdekat dengan bantuan aplikasi Halodoc. Dengan Halodoc, kamu bisa langsung bertemu dengan dokter spesialis untuk melakukan pemeriksaan tanpa harus menunggu lama.

Lantas, Apa Saja Gejala Saat Alami Sistokel?

Pada kondisi awal, kebanyakan wanita tidak merasakan gejala apa pun. Pengidap baru merasakan gejala ketika sistokel sudah semakin parah. Nah, beberapa gejala sistokel tersebut, yaitu: 

  • Muncul tonjolan yang terlihat dan dapat dirasakan di vagina;

  • Kandung kemih tetap terasa tidak kosong usai buang air kecil;

  • Rasa nyeri di vagina, panggul, perut bagian bawah, selangkangan, atau punggung bagian bawah.

  • Nyeri saat berhubungan seksual;

  • Sulit buang air kecil;

  • Mengompol ketika bersin, batuk, atau mengangkat benda berat.

Baca juga: Wanita Wajib Tahu, Ini 6 Ciri Miss V Sehat 

Apa Saja Pengobatan untuk Sistokel?

Pengobatan disesuaikan berdasarkan tingkat keparahan sistokel yang dialami. Apabila sistokel masih ringan dan tidak menimbulkan gejala, dan yang terpenting tidak mengganggu aliran urine, maka pengidapnya tidak membutuhkan pengobatan khusus. Dokter menyarankan agar pengidapnya mengatasi penyebabnya, misalnya tidak lagi mengangkat benda berat atau mengejan. Senam kegel juga dianjurkan untuk memperkuat otot panggul.

Pada kasus yang berat, dokter urologi atau dokter kandungan memberikan penanganan berupa:

  • Pemasangan cincin pesarium. Metode pemasangan cincin pesarium ini bertujuan untuk menopang kandung kemih, sehingga tidak turun.

  • Terapi estrogen. Terapi ini dilakukan untuk meningkatkan kadar hormon estrogen di dalam tubuh, sehingga otot sekitar vagina dan kandung kemih lebih kuat. Terapi estrogen ini dikhususkan untuk wanita yang memasuki masa menopause.

  • Operasi. Tindakan operasi penting dilakukan terhadap pengidap sistokel yang sudah parah. Tujuannya adalah menaikkan kembali kandung kemih yang turun ke posisi normal, mengangkat jaringan berlebih, dan menguatkan otot panggul.

Baca juga:  Inilah 5 Manfaat dan Cara Melakukan Senam Kegel 

Sebelum kondisi semakin parah, sebaiknya cegah sistokel dengan menjaga berat badan ideal dengan cara olahraga teratur, cegah konstipasi melalui konsumsi makanan berserat tinggi, dan melakukan senam Kegel secara rutin. Kamu juga harus menghindari mengangkat beban berat dan hentikan kebiasaan merokok.

Referensi:
Johns Hopkins University. Diakses pada 2019. Cystocele.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2019. Cystocele (Fallen Bladder).
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Anterior Prolapse (Cystocele).