Ini Jenis Pekerjaan yang Berisiko Alami Skiatika

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ini Jenis Pekerjaan yang Berisiko Alami Skiatika

Halodoc, Jakarta -  Sebagai orang dewasa, tubuh sayangnya tidak sebugar dulu. Aktivitas tertentu atau jarang bergerak menyebabkan masalah kesehatan semisalnya nyeri pada anggota tubuh. Pernahkah kamu mengalami rasa nyeri yang dimulai dari punggung bawah dan menjalar ke kaki? Jika kamu kerap merasakan ini, ini bisa pertanda kamu alami skiatika. 

Penyakit skiatika adalah sebutan untuk rasa nyeri yang terjadi di sepanjang jalur saraf panggul (sciatic nerve). Saraf panggul ini merupakan saraf terpanjang pada tubuh dan letaknya berada di belakang tulang panggul, bokong, hingga ke tungkai. Nyeri yang dirasakan pengidapnya umum dirasakan pada bokong dan area kaki. Nyeri ini sebaiknya tidak dianggap sepele karena lambat laun ia bisa  menyebabkan kelemahan otot. 

Baca Juga: Saraf Terjepit Dapat Sebabkan Skiatika, Ini Alasannya

Siapa Saja yang Beresiko Mengalami Penyakit Skiatika?

Salah satu faktor risiko utama terkena penyakit ini adalah usia, sebab tulang belakang - dan tubuh secara umum mengalami degenerasi. Sejumlah perubahan terkait usia menyebabkan gejala skiatika muncul, misalnya, perubahan pada cakram intervertebralis, taji tulang, dan stenosis tulang belakang. Merupakan langkah tepat untuk segera memeriksakan kondisimu ke dokter jika gejala sudah muncul. Dengan aplikasi Halodoc, kamu bisa segera membuat janji dengan dokter lebih mudah.

Degenerasi diskus intervertebralis dimulai sekitar usia 30 tahun, sehingga risiko pengembangan penyakit ini dimulai sekitar saat itu juga. Sementara itu, perubahan artritis pada tulang belakang, seperti taji tulang meningkatkan risiko linu panggul pada manula.

Secara keseluruhan, orang-orang berusia antara 30 hingga 50 tahun yang berisiko alami skiatika. Karena pekerjaan, kegiatan sosial dan olahraga, kelompok usia ini cenderung sangat aktif dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua, yang meningkatkan kemungkinan cedera atau jenis kerusakan lainnya.
Kebiasaan duduk lama adalah salah satu hal yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini. Jadi, mereka yang bekerja di depan komputer, banyak mengemudi, dan sejenisnya adalah orang yang rentan mengalami skiatika. Alasannya adalah duduk lama dapat menekan tulang belakang dan cakram, kondisi ini lambat laun mengiritasi akar saraf tulang belakang. Alasan lain bahwa duduk memberi tekanan pada saraf siatik secara langsung, seperti dalam kasus sindrom piriformis.

Tidak hanya itu, mereka yang mengangkat beban berat dan bekerja di tempat penuh getaran seperti pekerja pengoperasi alat berat juga berisiko terkena skiatika. Mereka yang sering berjalan kaki dan berlari serta wanita hamil juga memiliki risiko yang sama. 

Baca Juga: 3 Gerakan Olahraga Sehat di Kantor

Lantas, Apa Saja Gejala Penyakit Skiatika?

Gejala yang ditimbulkan saat alami skiatika tidak lain diakibatkan tekanan pada saraf besar tersebut yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini dimulai dari pinggang hingga sekitar kaki. Gejalanya antara lain: 

  • Rasa nyeri seperti terbakar atau kesemutan;

  • Nyeri yang menjalar pada salah satu atau kedua kaki;

  • Mati rasa pada kaki;

  • Kelemahan otot-otot tungkai.

Baca Juga: 4 Gangguan Saraf yang Perlu Diketahui

Bagaimana Mengobati Skiatika?

Meski mengganggu, skiatika yang ringan dapat sembuh sendiri dengan latihan kaki, yoga, pijat, atau fisioterapi. Namun, pemberian obat juga tidak kalah penting untuk mengatasi gejala. Beberapa obat yang sering digunakan antara lain:

  • Obat pereda nyeri. Obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol digunakan untuk mengatasi nyeri pada kaki.

  • Obat antiinflamasi. Obat ini menenangkan saraf yang menyebabkan kaku otot atau mati rasa. Obat yang sering digunakan yaitu diazepam dan gabapentin.

  • Steroid suntik. Pemberian suntik steroid dengan cepat memulihkan rasa nyeri akibat peradangan saraf.

  • Operasi. Penekanan yang berat pada saraf skiatika terutama akibat cedera tulang belakang atau penyakit lain yang kronis perlu dilakukan operasi.  Operasi yang dapat dilakukan antara lain operasi fusion, laminektomi dan disektomi.

  • Terapi rehabilitasi seperti latihan ringan dan fisioterapi membantu mempercepat pemulihan. Setelah kondisi pulih setidaknya perlu arahan yang tepat tentang posisi tubuh terutama saat duduk, berbaring, dan berjalan. Jika suka berolahraga, biasakan melakukan pemanasan agar otot-otot dan saraf dipersiapkan dan mengurangi resiko cedera. Olahraga yang paling cocok pada pengidap skiatika yang telah pulih yaitu berenang.