• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Penyebab Berkeringat di Malam Hari Selama Menstruasi

Ini Penyebab Berkeringat di Malam Hari Selama Menstruasi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ini Penyebab Berkeringat di Malam Hari Selama Menstruasi

Halodoc, Jakarta - Berkeringat saat tidur memang hal yang umum terjadi, terutama saat cuaca sedang panas. Namun, apakah wajar jika berkeringat di malam hari terjadi selama masa menstruasi. Jika kondisi ini terjadi saat kamu menginjak usia pertengahan 30-an atau 40-an, berkeringat di malam hari saat menstruasi bisa menjadi gejala perimenopause, lho. Yuk, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Stres Membuat Menstruasi Tidak Lancar, Ini Alasannya

Berkeringat di Malam Hari Jadi Gejala Perimenopause

Berkeringat di malam hari sering terjadi pada seseorang dengan sindrom pramenstruasi (PMS). Berkeringat juga bisa saja terjadi setelah menstruasi selesai. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Alasannya adalah, hormon dalam tubuh berfluktuasi sebagai bagian normal dari siklus menstruasi. Hal tersebut ditandai dengan adanya perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron, sehingga muncul gejala pramenstruasi, termasuk keringat pada malam hari dan hot flashes.

Saat kadar hormon progesteron meningkat, kadar estrogen menurun, pun sebaliknya. Nah, penurunan tersebut akan memengaruhi hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengontrol suhu tubuh. Akibatnya, otak lebih mudah merespon sedikit perubahan suhu, dan mengirimkan sinyal untuk mendinginkan suhu dengan mengeluarkan keringat. Untuk lebih jelasnya mengenai penjelasan tersebut, silahkan tanya selengkapnya dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya.

Baca juga: Menstruasi Tidak Teratur, Apa yang Harus Dilakukan?

Mungkinkan Gejala dari Menopause Dini?

Menopause dini biasanya terjadi pada seseorang saat usianya menginjak pertengahan 30 hingga pertengahan 40. Selain berkeringat di malam hari, sejumlah gejala lain yang muncul, yaitu:

  • Menstruasi tidak teratur.
  • Hot flashes, yaitu sensasi rasa hangat yang muncul tiba-tiba dan terjadi di seluruh tubuh, termasuk wajah.
  • Perubahan suasana hati.
  • Penurunan kemampuan konsentrasi.
  • Penurunan gairah seksual.
  • Kering pada vagina.
  • Sakit saat berhubungan intim.

Saat mengalami sejumlah gejalanya, sebaiknya periksakan diri ke rumah sakit terdekat untuk mengetahui penyebab pasti berkeringat di malam hari. Jika hal tersebut adalah gejala perimenopause, kamu bisa bertanya langsung dengan dokter bagaimana langkah mengatasinya. Jika hal tersebut normal terjadi, maka tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Baca juga: Inilah Tanda-Tanda Nyeri Haid yang Tidak Normal

Apa yang Menjadi Penyebab dan Faktor Risiko Perimenopause?

Perimenopause merupakan waktu transisi yang menjadi pertanda jika seorang wanita akan mengalami menopause. Seiring bertambahnya usia, indung telur (ovarium) akan mengurangi produksi estrogen secara bertahap. 1–2 tahun sebelum menopause terjadi, produksi estrogen akan menurun secara drastis. Tidak perlu khawatir secara berlebihan, karena perimenopause adalah fase normal yang dialami oleh setiap wanita. 

Meski demikian, ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu gejala perimenopause datang lebih cepat. Berikut ini sejumlah faktor pemicu tersebut:

  1. Merokok. Wanita yang aktif merokok berisiko mengalami menopause 1–2 tahun lebih awal ketimbang wanita yang tidak merokok.
  2. Keturunan. Saat kamu memiliki ibu atau saudara kandung perempuan yang mengalami menopause dini, maka risiko mengalami hal yang serupa akan semakin besar.
  3. Menjalani pengobatan kanker, seperti kemoterapi atau terapi radiasi pada area panggul.
  4. Histerektomi atau prosedur pengangkatan rahim.

Itulah sejumlah hal terkait mengenai premenopause yang perlu kamu ketahui. Jika menemui sejumlah gejalanya, jangan keburu khawatir secara berlebihan, ya. Apalagi jika kamu berusia pertengahan 30 hingga pertengahan 40.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Why Do I Get Night Sweats During My Period?
Healthline. Diakses pada 2020. Why Do I Get Hot Flashes During My Period?