05 March 2019

Inilah Cara Diagnosis Spina Bifida

spina bifida

Halodoc, Jakarta - Spina bifida bisa menyebabkan gangguan fisik dan intelektual, mulai dari tingkat yang ringan hingga yang terparah. Di samping itu, tingkat keparahan yang dialami biasanya tergantung pada lokasi dan ukuran pada celah tulang belakang, serta bagian saraf mana yang terpengaruh. Untuk itu, cari tahu cara mendiagnosis spina bifida berikut.

Baca juga: Alasan Kekurangan Asam Folat Bisa Sebabkan Spina Bifida

Spina Bifida, Apakah Kondisi yang Berbahaya?

Bagi ibu yang sedang hamil, spina bifida merupakan suatu kondisi berbahaya dan perlu diwaspadai. Spina bifida merupakan kelainan yang dipicu oleh pembentukan saraf tulang belakang yang tidak sempurna pada bayi selama dalam kandungan. Kondisi ini merupakan salah satu jenis cacat pada tabung saraf. Kondisi ini dapat muncul di bagian mana saja pada tulang belakang, jika tabung saraf tidak tertutup dengan sempurna.

Baca juga: 3 Jenis Spina Bifida yang Perlu Diketahui

Ini Gejala yang Akan Dialami oleh Pengidap Spina Bifida

Selain adanya deformitas tulang belakang, gejala juga dapat disebabkan oleh komplikasi dari spina bifida. Komplikasi yang paling umum adalah sebagai berikut:

  • Obesitas dan gangguan saluran kemih adalah komplikasi umum dari spina bifida.

  • Kelainan pada tulang punggung bagian bawah selalu disertai kelainan tulang belakang bagian atas (malformasi Arnold-Chiari).

  • Hydrocephalus (akumulasi cairan di otak) adalah masalah lain dari masalah residual yang sering terjadi. Kondisi ini memengaruhi kebanyakan pengidap dengan spina bifida.

  • Kekurangan hormon pertumbuhan yang mengakibatkan perawakan pendek sering terjadi pada orang dengan spina bifida.

Tingkat keparahan pada gejala yang dialami tergantung pada lokasi celah yang terbentuk pada tulang belakang. Selain itu, keparahan juga tergantung pada bagian apa yang tidak menutup dengan sempurna.

Beginilah Spina Bifida Bisa Terjadi

Penyebab spina bifida belum diketahui secara pasti. Namun, diduga ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecacatan ini, yaitu:

  • Kurang asam folat. Konsumsi asam folat yang cukup terutama sebelum dan selama masa kehamilan sangat penting untuk menurunkan risiko bayi lahir dengan spina bifida.

  • Faktor keturunan. Orangtua yang pernah memiliki anak dengan spina bifida mempunyai risiko lebih tinggi untuk kembali memiliki bayi dengan kelainan yang sama.

Ini Cara Mendiagnosis Spina Bifida

Spina bifida bisa didiagnosis selama masa kehamilan atau setelah bayi lahir. Begini cara mendiagnosisnya:

  • Mendiagnosis pada masa kehamilan akan dilakukan dengan tes darah dan USG. Tes darah dilakukan untuk memeriksa kadar alfa fetoprotein pada darah ibu hamil untuk mengetahui apakah ada cacat pada tabung saraf, terutama pada spina bifida. Setelah tes darah dilakukan, disusul dengan pemeriksaan USG untuk melihat apakah ada kelainan struktur pada otak bayi. Tes lebih lanjut yang mungkin akan dilakukan adalah prosedur pengambilan sampel cairan ketuban untuk diperiksa di laboratorium.

  • Pemeriksaan bayi setelah lahir akan dilakukan dengan USG, MRI, atau CT Scan untuk menentukan seberapa parah spina bifida yang dialami. Prosedur ini juga dilakukan untuk menentukan prosedur penanganan yang paling tepat.

Langkah utama untuk menghindari kondisi ini adalah dengan mencukupi kebutuhan asam folat, terutama selama masa kehamilan. Konsumsi zat ini sejak sebelum masa kehamilan. Dosis asam folat yang disarankan adalah sebanyak 400 mikrogram per hari.

Baca juga: 6 Faktor ini Bisa Jadi Penyebab Spina Bifida

Jika ada sesuatu yang enggak beres dengan kesehatan kamu, lebih baik diskusikan langsung dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc melalui Chat atau Voice/Video Call. Enggak hanya itu, kamu juga bisa membeli obat yang sedang kamu butuhkan. Tanpa perlu repot, pesanan kamu akan diantar ke tempat tujuan dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya di Google Play atau App Store!