08 November 2018

Inilah Penyebab Preeklampsia pada Ibu Hamil

Inilah Penyebab Preeklampsia pada Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta - Preeklampsia adalah komplikasi pada kehamilan usia 20 minggu yang ditandai dengan tingginya tekanan darah, meski ibu tidak memiliki riwayat hipertensi. Kondisi ini diikuti munculnya tanda kerusakan organ, seperti kerusakan pada ginjal yang disebabkan karena proteinuria atau kadar protein tinggi pada urine, serta pembengkakan pada bagian tangan dan kaki.

Komplikasi kehamilan ini menjadi penyebab kematian yang paling utama untuk ibu hamil. Pasalnya, sekitar 10 sampai 15 persen angka kematian ibu hamil terjadi karena munculnya komplikasi preeklampsia. Tak hanya itu, setidaknya ada 1000 bayi meninggal setiap tahunnya karena hal ini. Jadi, bisa dipastikan, preeklampsia tak hanya berbahaya bagi ibu, tetapi juga turut berdampak pada keselamatan janin dalam kandungan.

Penyebab Terjadinya Preeklampsia pada Ibu Hamil

Penyebab utama terjadinya komplikasi preeklampsia pada ibu hamil adalah terjadinya gangguan terhadap pertumbuhan dan perkembangan plasenta. Kondisi ini menyebabkan terganggunya sirkulasi darah menuju ke tubuh ibu dan janin. Pasalnya, plasenta adalah organ penting yang berperan dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi dari tubuh ibu menuju ke janin.

Oleh karena penyaluran makanan dan oksigen ini dilakukan melalui aliran darah, maka plasenta membutuhkan pasokan darah dalam jumlah besar untuk mendukung tumbuh kembang janin yang optimal. Kondisi ibu yang mengalami preeklampsia adalah plasenta tidak mendapatkan cukup pasokan darah karena tidak mampu bekerja optimal, sehingga mengakibatkan terganggunya pembuluh darah dan berpengaruh pada tekanan darah ibu.

Peningkatan darah ibu juga berdampak pada ginjal. Kondisi ini terjadi karena proteinuria yang terjadi karena ketidakmampuan ginjal dalam menyaring protein, sehingga urine yang keluar turut membawa serta protein. Risiko ini meningkat pada ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit lain, seperti misalnya penyakit ginjal, lupus, hipertensi, diabetes melitus, juga sindrom antifosfolipid.

Tak hanya itu, preeklampsia berisiko menyerang ibu hamil dengan riwayat kelainan yang sama pada kehamilan sebelumnya. Faktanya, sebanyak 16 persen kasus preeklampsia terjadi pada ibu hamil yang pernah mengalami kondisi yang sama. Lalu, ibu hamil yang berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 18 tahun, hamil pertama kali, hamil yang disertai obesitas, hamil bayi kembar, dan memiliki jeda selama 10 tahun dari kehamilan sebelumnya memiliki risiko yang sama tingginya.

Dampak Preeklampsia pada Ibu Hamil

Plasenta yang tidak mendapatkan cukup pasokan darah dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan pasalnya, janin tidak mendapatkan cukup nutrisi dari ibu, sehingga berisiko janin mengalami kelahiran prematur dan lahir dengan berat badan rendah. Begitu juga ketika anak lahir, ia berisiko mengalami masalah penglihatan, pendengaran, dan gangguan fungsi kognitif.

Jadi, cari tahu bagaimana gejala preeklampsia lebih dini supaya ibu segera mendapatkan penanganan. Ibu bisa langsung bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc yang sudah tersedia dan bisa ibu download di App Store atau Play Store. Selain itu, banyak informasi kesehatan, tips kehamilan dan persalinan yang bisa ibu dapatkan. Yuk, pakai aplikasi Halodoc!

 

Baca juga: