• Home
  • /
  • Jangan Anggap Remeh, Alasan Demam Berdarah Bisa Berakibat Fatal

Jangan Anggap Remeh, Alasan Demam Berdarah Bisa Berakibat Fatal

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Jangan Anggap Remeh, Alasan Demam Berdarah Bisa Berakibat Fatal

Halodoc, Jakarta - Demam berdarah atau juga dikenal dengan demam dengue merupakan penyakit yang dapat membuat suhu tubuh pengidapnya menjadi sangat tinggi. Secara umum, gejalanya adalah sakit kepala, nyeri sendi, otot, dan tulang, serta nyeri di bagian belakang mata. Penyakit yang ditularkan nyamuk ini tidak boleh dianggap remeh, karena bisa berakibat fatal, lho!

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, berikut beberapa poin alasan, mengapa demam berdarah bisa berakibat fatal:

1. Gejala yang Beragam dan “Mengikis” Tubuh

Hal yang sering orang lupakan mengenai demam berdarah adalah, penyakit ini merupakan komplikasi dari demam dengue (dengue fever) yang memburuk. Gejala DBD tergolong yang parah bisa membuat kerusakan pada pembuluh darah dan kelenjar getah bening, muntah-muntah disertai darah, pendarahan dari gusi dan hidung, napas terengah-engah, dan pembengkakan organ hati yang menyebabkan nyeri di sekitar perut.

Baca Juga: Ini Perbedaan Demam Chikungunya dan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang Perlu Diwaspadai

2. Fase Kedua Adalah Fase Kritis

Pada umumnya, jika kamu mengidap demam berdarah dengue, kamu akan mengalami 3 fase. Di antaranya adalah fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Pada fase demam, kamu akan mengalami demam tinggi hingga 39-41 derajat Celsius yang berlangsung selama kurang lebih 3-4 hari. Biasanya, demam ini tidak akan reda dengan menggunakan penurun panas biasa.

Jika mengalami gejala awal seperti fase demam tersebut, segera bicarakan dengan dokter di aplikasi Halodoc. Kalau dokter mencurigai adanya kemungkinan demam berdarah, kamu bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit atau langsung pergi ke instalasi gawat darurat di rumah sakit terdekat.

Lalu, fase yang kedua adalah fase kritis. Sering kali pada fase inilah terjadinya kesalahan penanganan pada demam berdarah. Pada fase ini, demam akan turun ke suhu yang normal. Pada saat suhu tubuh turun, justru pembuluh darah mengalami kebocoran dengan efek munculnya tanda-tanda perdarahan pada kulit dan organ lainnya. Organ lain juga bisa mengalami pendarahan seperti terjadinya mimisan, atau pun perdarahan saluran cerna. Bintik merah pada kulit juga muncul pada fase ini.

Baca Juga: Catat, 6 Makanan untuk Menyembuhkan Demam Berdarah

Penanganan pada fase kedua ini sangatlah penting. Karena demam berdarah bisa menyebabkan kematian, jika:

  • Jumlah trombosit terlalu rendah. Kalau angka trombosit di bawah normal atau 150.000, tubuh akan sangat sulit mengusir virus dalam tubuh.
  • Terserangnya sistem kekebalan tubuh. Ketika virus demam berdarah menyerang, sistem kekebalan tubuh dan setiap organ dalam tubuh akan terkena dampaknya. Itulah sebabnya, banyak bayi dan orang tua yang meninggal apabila terkena demam berdarah.
  • Terlambat ditangani mengakibatkan kebocoran plasma. Kebocoran plasma ketika fase kedua ini akan membuat kamu tetap kehilangan cairan meskipun sudah banyak minum atau mendapatkan cairan infus. Hal ini akan mengubah kondisi demam berdarah menjadi dengue shock syndrome (DSS). Kondisi ini akan menyebabkan kegagalan organ yang berujung pada kematian.

3. Fase Penyembuhan Bukan Berarti Sembuh

Fase kritis akan berakhir yang ditandai dengan suhu tubuh yang normal, denyut nadi menguat, pendarahan berhenti, dan terjadinya perbaikan fungsi tubuh lainnya. Selain itu, nafsu makan bisa kembali naik dan bintik merah akan berkurang. Namun, diagnosis dokter tetap diperlukan untuk menentukan apakah benar fase kritis sudah dilewati.

Baca Juga: Hati-Hati DBD yang Bisa Diketahui Lewat Air Liur

Itulah beberapa alasan mengapa demam berdarah dapat berakibat fatal dan tidak boleh disepelekan. Selain demam berdarah, penting juga untuk tidak menyepelekan gejala atau keluhan tentang kesehatan apapun yang kamu alami. Jika perlu, lakukanlah pemeriksaan kesehatan secara rutin, agar kamu bisa tahu kalau ada penyakit yang sedang berkembang di tubuh.

 

Referensi:
WHO. Diakses pada 2020. Dengue and Severe Dengue.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Dengue.
Healthline. Diakses pada 2020. Dengue Fever.