Kebiasaan Konsumsi Alkohol Picu Delirium Tremens

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Kebiasaan Konsumsi Alkohol Picu Delirium Tremens

Halodoc, Jakarta – Kebiasaan konsumsi minuman beralkohol sudah lama dikenal bisa memberi dampak negatif bagi kesehatan tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang bisa terjadi adalah delirium tremens. Kondisi ini merupakan bentuk paling berat dari penarikan diri dari alkohol. Delirium tremens bisa menyebabkan perubahan status mental pengidapnya menjadi sangat kebingungan. 

Selain itu, kondisi ini juga bisa menyebabkan pengidapnya menjadi sangat hiperaktif. Gejala-gejala yang muncul karena kondisi ini pada akhirnya bisa mengganggu organ jantung dan pembuluh darah. Kebiasaan konsumsi minuman beralkohol menjadi penyebab utama penyakit ini bisa menyerang. Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang bisa menjadi faktor risiko delirium tremens.  

Baca juga: 5 Faktor Penyebab Delirium Tremens

Mengenal Delirium Tremens 

Penyakit ini menyebabkan pengidapnya mengalami kebingungan yang tiba-tiba. Biasanya, kondisi ini muncul saat seorang peminum berat atau pecandu alkohol berhenti mengonsumsinya. Kebingungan yang bisa terjadi adalah disorientasi, halusinasi, perubahan emosi, hingga perubahan perilaku yang bisa mengacau, bahkan berbahaya. Singkatnya, delirium tremens merupakan kondisi detoksifikasi alkohol yang parah. 

Kondisi inu umum terjadi pada orang yang mengonsumsi minuman beralkohol dalam jangka waktu yang panjang. Risiko juga meningkat pada orang yang memiliki riwayat delirium. Gangguan ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele. Delirium tremens bisa diatasi dengan menghindari faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko.

Saat seseorang tiba-tiba berhenti mengonsumsi alkohol, terjadi penurunan fungsional dalam neurotransmitter GABA. Kondisi itulah yang kemudian menyebabkan pengidap penyakit ini kehilangan kontrol terhadap hambatan neurotransmitter peka rangsang, seperti norepinefrin, glutamat, dan dopamin. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan konsumsi minuman beralkohol. Delirium tremens ditandai dengan gejala tremor, kecemasan, mual, muntah, serta gangguan tidur di malam hari alias insomnia. 

Penyakit ini sama sekali tidak boleh dianggap sepele dan harus segera mendapat penanganan medis. Delirium tremens yang tidak ditangani bisa memicu terjadinya komplikasi berupa, keinginan tidur yang berlebihan, depresi pernapasan dan henti pernapasan, pneumonitis aspirasi, serta aritmia jantung atau detak jantung tidak beraturan. 

Baca juga: Kenali 3 Fakta Penting Mengenai Delirium

Untuk mengatasi penyakit ini, ada beberapa cara pengobatan yang bisa menjadi pilihan, seperti terapi suportif, tiamin untuk mencegah kebingungan, dan lainnya. Kondisi ini harus segera ditangani karena dapat membahayakan jiwa. Kondisi ini biasanya ditangani dengan detoksifikasi yang biasanya berlangsung selama beberapa hari atau minggu. 

Saat menjalani pengobatan ini, pengidap delirium tremens mungkin akan membutuhkan cairan tambahan, biasanya diberikan infus cairan untuk mengontrol agitasi dan mencegah kejang. Pada jangka panjang, perubahan gaya hidup perlu dilakukan untuk mencegah kondisi muncul kembali. Pengidap penyakit ini harus berhenti konsumsi minuman beralkohol dan menjalani terapi. 

Pencegahan utama agar tidak terserang penyakit ini adalah mengurangi konsumsi alkohol. Jika mengalami kecanduan, sebaiknya lakukan konseling ke psikiater atau psikolog. Tujuannya untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap minuman beralkohol.  Selain itu, sebaiknya rutin lakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Pasalnya, kebiasaan konsumsi minuman beralkohol apalagi sampai kecanduan, bisa meningkatkan risiko berbagai penyakit menyerang. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh bisa membantu menghindari komplikasi ataupun serangan penyakit lain yang bisa membahayakan.

Baca juga: 7 Gejala Delirium Tremens yang Wajib Diwaspadai

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter segera? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter kapan dan di mana saja melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Alcohol Withdrawal Delirium.
NCBI. Diakses pada 2019. Risk factors for the development of delirium in alcohol.