Kehamilan Pertama Berisiko Alami Eklampsia, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Kehamilan Pertama Berisiko Alami Eklampsia, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Seseorang yang baru menikah umumnya akan berharap untuk segera mendapat momongan. Kehamilan pertama biasanya sangat dinanti-nantikan. Walau begitu, ternyata kehamilan pertama memiliki risiko terhadap suatu gangguan. Salah satu gangguan yang dapat terjadi adalah preeklampsia.

Seorang wanita yang mengalami kehamilan pertama berisiko terhadap preeklampsia. Gangguan darah tinggi ini dapat menyebabkan risiko kematian yang cukup tinggi. Preeklampsia yang terjadi dapat berkembang menjadi eklampsia. Berikut adalah pembahasan tentang hal tersebut.

Kehamilan Pertama Meningkatkan Risiko Eklampsia

Preeklampsia adalah suatu kondisi yang dapat terjadi pada wanita hamil. Ketika preeklampsia terjadi, gangguan ini dapat berkembang menjadi eklampsia. Hal ini ditandai dengan tekanan darah tinggi pada wanita yang belum pernah mengalami gangguan ini sebelumnya.

Wanita yang menderita preeklampsia akan memiliki tingkat protein yang tinggi pada urin. Selain itu, wanita tersebut juga dapat mengalami pembengkakan di kaki, tungkai, dan tangan. Gangguan ini umumnya terjadi pada akhir kehamilan, tetapi juga dapat terjadi pada awal dan bahkan setelah melahirkan.

Jika hal ini tidak terdiagnosis, preeklampsia akan berkembang menjadi eklampsia. Hal ini dapat menimbulkan kondisi serius pada ibu hamil dan bayi di dalam janin. Dalam kasus yang jarang terjadi, eklampsia dapat menyebabkan kematian. Ibu hamil dengan preeklampsia yang mengalami kejang dianggap mengalami eklampsia.

Belum ada cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi preeklampsia saat hamil. Hal ini dapat menjadi momok yang menakutkan bagi calon ibu tersebut. Bahkan setelah kamu melahirkan, gejala dari preeklampsia dapat bertahan selama 1 hingga 6 minggu. Terkadang pada orang tertentu dapat lebih lama lagi.

Hal yang dapat ibu hamil lakukan untuk menghindari gangguan tersebut adalah dengan mempelajari gejala dari preeklampsia dan rajin berdiskusi dengan dokter secara teratur. Dengan mendiagnosis gangguan ini secara dini, kamu dapat menurunkan efek jangka panjang untuk ibu dan bayi.

Baca juga: Kenali Lebih Dalam Tentang Eklampsia

Gejala Preeklampsia yang Dapat Berkembang Menjadi Eklampsia

Preeklampsia yang terjadi pada ibu hamil dapat menimbulkan beberapa gejala. Tanda awal dari gangguan tersebut adalah mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) dan terdapat protein di dalam urin (proteinuria). Dalam beberapa kasus, gejala tersebut dapat berkembang dan menyebabkan hal-hal berikut:

  • Pembengkakan kaki, pergelangan kaki, wajah dan tangan yang disebabkan oleh retensi cairan (edema).

  • Sakit kepala parah;

  • Masalah penglihatan;

  • Rasa sakit tepat di bawah tulang rusuk.

Walaupun kebanyakan kasus yang terjadi terbilang ringan, hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius bagi ibu dan bayi. Hal ini terjadi apabila preeklampsia tidak mendapat pemeriksaan rutin dan tidak diobati. Gangguan ini jika didiagnosis dan dipantau secara dini dapat mencegah untuk berkembang menjadi eklampsia.

Jika kamu mengalami masalah kesehatan, dokter dari Halodoc siap membantu. Komunikasi dengan dokter dapat dengan mudah dilakukan kapan dan di mana saja. Kamu juga bisa beli obat lewat Halodoc. Tanpa perlu keluar rumah, pesananmu akan diantar dalam waktu kurang dari satu jam. Tunggu apa lagi? Download aplikasinya sekarang!

Baca juga: Adakah Pencegahan Efektif untuk Kondisi Eklampsia?

Cara Mengatasi Kemungkinan Eklampsia

Hal yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi eklampsia adalah dengan mencegah preeklampsia untuk berkembang. Satu-satunya cara untuk mengatasi gangguan ini adalah dengan melahirkan bayi tersebut. Walau begitu, jika melahirkan secara prematur juga dapat berbahaya bagi bayi tersebut.

Dokter mungkin akan mempertimbangkan pilihan terbaik yang dapat dilakukan. Hal tersebut bergantung pada preeklampsia yang terjadi dalam kategori ringan atau berat dan seberapa lama kehamilan sudah terjadi. Jika gangguan ringan, dokter akan meminta kamu banyak istirahat dan melakukan perawatan rutin. Persalinan akan direkomendasikan dilakukan pada minggu ke-37.

Apabila kasus yang terjadi dalam kategori berat, maka ibu hamil tersebut akan mendapat perawatan di rumah sakit. Apabila gangguan yang terjadi memburuk, maka persalinan mungkin dilakukan pada minggu ke-34. Dokter juga akan memberikan obat untuk mengurangi tekanan darah dan mencegah terjadinya kejang.

Baca juga: Ibu Hamil Alami Kejang, Apa Sebabnya?

Referensi:
WebMD (Diakses pada 2019). Preeclampsia and Eclampsia
NHS (Diakses pada 2019). Pre-eclampsia
Pampers (Diakses pada 2019). What Is Preeclampsia and How to Manage It