• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dismenore

Dismenore

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Dismenore

Pengertian Dismenore

Dismenore adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keluhan kram yang menyakitkan dan umumnya muncul saat sedang haid atau menstruasi. Dismenore merupakan salah satu masalah terkait haid yang paling umum dikeluhkan.

Wanita yang mengalami dismenore primer memiliki kontraksi rahim yang tidak normal. Hal tersebut akibat ketidakseimbangan kimia di dalam tubuh. Misalnya, zat kimia prostaglandin yang mengontrol kontraksi rahim.

Sementara itu dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, salah satunya endometriosis. Kondisi tersebut terjadi karena jaringan endometrium tertanam di luar rahim. Endometriosis bisa menyebabkan perdarahan internal, infeksi, dan nyeri panggul.

Penyebab Dismenore

Terdapat dua jenis dismenore, meliputi :

  1. Dismenore Primer

Kondisi ini tidak disebabkan oleh masalah pada organ reproduksi. Keadaan ini umumnya disebabkan peningkatan dari hormon prostaglandin, yang diproduksi pada lapisan dari rahim. Peningkatan prostaglandin memicu kontraksi dari uterus atau rahim. Secara alami, rahim cenderung memiliki kontraksi lebih kuat semasa haid. Kontraksi rahim ini dapat menimbulkan keluhan nyeri.

Selain itu, kontraksi rahim yang terlalu kuat dapat menekan pembuluh darah sekitar dan menyebabkan kurangnya aliran darah ke jaringan otot dari rahim. Jika jaringan otot ini mengalami kekurangan oksigen akibat kekurangan suplai darah, keluhan nyeri dapat timbul.

  1. Dismenore Sekunder

Kondisi ini disebabkan pada patologi pada organ reproduksi. Berbagai keadaan yang dapat menimbulkan keluhan dismenore sekunder, yaitu:

  • Endometriosis.
  • Pelvic Inflammatory Disease (PID)/ penyakit radang panggul.
  • Kista atau tumor pada ovarium.
  • Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
  • Transverse vaginal septum.
  • Pelvic congestion syndrome.
  • Allen-Masters syndrome.
  • Stenosis atau sumbatan pada serviks.
  • Adenomiosis.
  • Fibroid.
  • Polip rahim.
  • Perlengketan pada bagian dalam rahim.
  • Malformasi kongenital (bicornuate uterus, subseptate uterus, dan sebagainya).

 Faktor Risiko Dismenore

Ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko mengalami nyeri haid, antara lain:

  • Berusia di bawah 30 tahun.
  • Belum pernah melahirkan.
  • Memiliki riwayat nyeri haid dalam keluarga.
  • Seorang perokok.
  • Masa puber mulai sejak usia 11 atau ke bawah (pubertas dini).
  • Mengalami perdarahan berat atau yang tidak normal selama menstruasi.
  • Mengalami perdarahan menstruasi yang tidak teratur.

 Gejala Dismenore

Sebenarnya gejala dismenore dapat bervariasi pada setiap wanita. Namun, secara umum tanda dan gejala paling khas dari dismenore, yaitu:

  • Kram atau nyeri di perut bagian bawah yang bisa menyebar sampai ke punggung bawah dan paha bagian dalam.
  • Nyeri haid muncul 1–2 hari sebelum menstruasi atau di awal-awal menstruasi.
  • Rasa sakit terasa intens atau konstan.

Bagi beberapa wanita, mereka juga mengalami beberapa gejala lain yang muncul bersamaan sebelum atau saat siklus menstruasi datang. Berikut gejala penyerta lainnya yang sering dikeluhkan wanita ketika menstruasi:

  • Perut kembung.
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Lemah, lesu, dan tidak bertenaga.

Diagnosis Dismenore

Untuk mendiagnosis dismenore, dokter akan melakukan evaluasi riwayat kesehatan dan melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan panggul secara lengkap. Tes tersebut mungkin berupa:

  1. USG (Ultrasonografi). Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ dalam.
  2. Pencitraan resonansi magnetik (MRI). Tes ini menggunakan magnet besar, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar detail organ dan struktur di dalam tubuh.
  3. Laparoskopi. Prosedur minor ini menggunakan laparoskopi, sebuah alat berbentuk tabung tipis dengan lensa dan cahaya. Alat tersebut dimasukkan ke dalam sayatan di dinding perut. Dengan menggunakan laparoskopi untuk melihat ke area panggul dan perut, dokter dapat mendeteksi pertumbuhan yang tidak normal.
  4. Histeroskopi. Ini adalah pemeriksaan visual saluran serviks dan bagian dalam rahim. Pemeriksaan menggunakan alat penglihatan (histeroskop) yang dimasukkan melalui vagina.

Pengobatan Dismenore

Pada dismenore primer, sering kali keluhan nyeri membaik dengan pemberian obat anti-nyeri golongan OAINS (obat anti inflamasi non-steroid). Contohnya, diklofenak, ibuprofen, ketoprofen, asam mefenamat, dan lain-lain. Selain itu, dapat pula diberikan terapi hormonal, misalnya dengan kontrasepsi hormonal (contoh, pil KB).

Untuk meredakan kram menstruasi, seseorang juga perlu:

  • Beristirahat secukupnya.
  • Menghindari makanan yang mengandung kafein dan garam.
  • Menghindari merokok dan minum alkohol.
  • Pijat punggung bawah dan perut.

Penanganan dismenore sekunder disesuaikan dengan penyakit yang menyebabkan keluhan ini. Karena itu, penting agar penyebab dismenore sekunder dievaluasi.

Metode alami lain yang bisa dilakukan untuk meredakan nyeri dari dismenore yaitu:

  • Yoga.
  • Pijat.
  • Akupunktur atau akupresur.
  • Relaksasi atau latihan pernapasan.

Pencegahan Dismenore

Wanita juga perlu berolahraga teratur untuk mengurangi nyeri menstruasi. Untuk membantu mencegah kram, lakukan olahraga secara  rutin setiap minggu.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat memiliki tanda-tanda atau gejala yang tercantum di atas atau memiliki pertanyaan, silahkan diskusikan dengan dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihanmu melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Dysmenorrhea
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Dysmenorrhea