halodoc-banner
  • Kamus Kesehatan A-Z
  • Perawatan Khusus keyboard_arrow_down
  • Cek Kesehatan Mandiri keyboard_arrow_down
close
halodoc-logo
Download app banner

sign-in logo Masuk

home icon Beranda


Layanan Utama

keyboard_arrow_down
  • Chat dengan Dokter icon

    Chat dengan Dokter

  • Toko Kesehatan icon

    Toko Kesehatan

  • Homecare icon

    Homecare

  • Asuransiku icon

    Asuransiku

  • Haloskin icon

    Haloskin

  • Halofit icon

    Halofit

Layanan Khusus

keyboard_arrow_down
  • Kesehatan Kulit icon

    Kesehatan Kulit

  • Kesehatan Seksual icon

    Kesehatan Seksual

  • Kesehatan Mental icon

    Kesehatan Mental

  • Kesehatan Hewan icon

    Kesehatan Hewan

  • Perawatan Diabetes icon

    Perawatan Diabetes

  • Kesehatan Jantung icon

    Kesehatan Jantung

  • Parenting icon

    Parenting

  • Layanan Bidan icon

    Layanan Bidan

Cek Kesehatan Mandiri

keyboard_arrow_down
  • Cek Stres icon

    Cek Stres

  • Risiko Jantung icon

    Risiko Jantung

  • Risiko Diabetes icon

    Risiko Diabetes

  • Kalender Kehamilan icon

    Kalender Kehamilan

  • Kalender Menstruasi icon

    Kalender Menstruasi

  • Kalkulator BMI icon

    Kalkulator BMI

  • Pengingat Obat icon

    Pengingat Obat

  • Donasi icon

    Donasi

  • Tes Depresi icon

    Tes Depresi

  • Tes Gangguan Kecemasan icon

    Tes Gangguan Kecemasan


Kamus Kesehatan

Artikel

Promo Hari Ini

Pusat Bantuan

Chat dengan Dokter icon

Chat dengan Dokter

Toko Kesehatan icon

Toko Kesehatan

Homecare icon

Homecare

Asuransiku icon

Asuransiku

Haloskin icon

Haloskin

Halofit icon

Halofit

search
Home
Kesehatan
search
close
Ad Placeholder Image

Dismenore

REVIEWED_BY  dr. Enrico Hervianto SpOG  
undefinedundefined

DAFTAR ISI

  • Apa Itu Dismenore?
  • Jenis Dismenore
  • Penyebab Dismenore
  • Faktor Risiko Dismenore
  • Apa Itu Gejala Dismenore? 
  • Diagnosis Dismenore
  • Komplikasi Dismenore
  • Pengobatan Dismenore
  • Pencegahan Dismenore
  • Rekomendasi Dokter di Halodoc yang Bisa Bantu Perawatan Dismenore
  • FAQ

Apa Itu Dismenore?

Dismenore adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keluhan kram yang menyakitkan dan umumnya muncul saat sedang haid atau menstruasi.

Dismenore merupakan salah satu masalah terkait haid yang paling umum dikeluhkan.

Wanita yang mengalami dismenore primer memiliki kontraksi rahim yang tidak normal.

Hal tersebut akibat ketidakseimbangan kimia di dalam tubuh. Misalnya, zat kimia prostaglandin yang mengontrol kontraksi rahim.

Sementara itu dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, salah satunya endometriosis.

Kondisi tersebut terjadi karena jaringan endometrium tertanam di luar rahim. Endometriosis bisa menyebabkan perdarahan internal, infeksi, dan nyeri panggul.

Jenis Dismenore

Terdapat dua jenis utama dismenore, yaitu:

1. Dismenore primer

Nyeri haid yang disebabkan oleh kontraksi rahim yang normal akibat hormon prostaglandin.

Dismenore primer biasanya muncul pada remaja putri beberapa tahun setelah menstruasi pertama dan cenderung berkurang seiring bertambahnya usia atau setelah melahirkan.

2. Dismenore sekunder

Nyeri haid yang disebabkan oleh masalah kesehatan lain pada organ reproduksi, seperti endometriosis, fibroid rahim, adenomiosis, radang panggul, atau stenosis serviks (penyempitan leher rahim).

Nyeri pada dismenore sekunder cenderung lebih parah dan dapat berlangsung lebih lama dari dismenore primer.

Penyebab Dismenore

Terdapat dua jenis dismenore, meliputi :

1. Dismenore primer

Kondisi ini tidak disebabkan oleh masalah pada organ reproduksi. Keadaan ini umumnya disebabkan peningkatan dari hormon prostaglandin, yang diproduksi pada lapisan dari rahim.

Peningkatan prostaglandin memicu kontraksi dari uterus atau rahim.

Secara alami, rahim cenderung memiliki kontraksi lebih kuat semasa haid. Kontraksi rahim ini dapat menimbulkan keluhan nyeri.

Selain itu, kontraksi rahim yang terlalu kuat dapat menekan pembuluh darah sekitar dan menyebabkan kurangnya aliran darah ke jaringan otot dari rahim.

Jika jaringan otot ini mengalami kekurangan oksigen akibat kekurangan suplai darah, keluhan nyeri dapat timbul.

Apakah kamu mengalami Siklus Menstruasi Tidak Teratur? Saatnya Konsultasi ke Dokter Ini.

2. Dismenore sekunder

Kondisi ini disebabkan pada patologi pada organ reproduksi.

Berbagai keadaan yang dapat menimbulkan keluhan dismenore sekunder, yaitu:

  • Endometriosis.
  • Pelvic Inflammatory Disease (PID)/ penyakit radang panggul.
  • Kista atau tumor pada ovarium.
  • Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
  • Transverse vaginal septum.
  • Pelvic congestion syndrome.
  • Allen-Masters syndrome.
  • Stenosis atau sumbatan pada serviks.
  • Adenomiosis.
  • Fibroid.
  • Polip rahim.
  • Perlengketan pada bagian dalam rahim.
  • Malformasi kongenital (bicornuate uterus, subseptate uterus, dan sebagainya).

Faktor Risiko Dismenore

Ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko mengalami nyeri haid, antara lain:

  • Berusia di bawah 30 tahun.
  • Belum pernah melahirkan.
  • Memiliki riwayat nyeri haid dalam keluarga.
  • Seorang perokok.
  • Masa puber mulai sejak usia 11 atau ke bawah (pubertas dini).
  • Mengalami perdarahan berat atau yang tidak normal selama menstruasi.
  • Mengalami perdarahan menstruasi yang tidak teratur.

Apa Itu Gejala Dismenore?

Gejala dismenore adalah istilah untuk berbagai keluhan atau tanda yang muncul saat seorang perempuan mengalami nyeri haid, seperti kram di perut bagian bawah, nyeri yang menjalar ke pinggang atau punggung, mual, pusing, hingga tubuh terasa lemas.

Sebenarnya gejala dismenore dapat bervariasi pada setiap wanita. Namun, secara umum tanda dan gejala paling khas dari dismenore, yaitu:

  • Kram atau nyeri di perut bagian bawah yang bisa menyebar sampai ke punggung bawah dan paha bagian dalam.
  • Nyeri haid muncul 1–2 hari sebelum menstruasi atau di awal-awal menstruasi.
  • Rasa sakit terasa intens atau konstan.

Bagi beberapa wanita, mereka juga mengalami beberapa gejala lain yang muncul bersamaan sebelum atau saat siklus menstruasi datang.

Berikut gejala penyerta lainnya yang sering dikeluhkan wanita ketika menstruasi:

  • Perut kembung.
  • Diare.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala.
  • Pusing.
  • Lemah, lesu, dan tidak bertenaga.

Apabila Gejala Dismenore Semakin Mengganggu, Segera Hubungi 3 Dokter Ini agar mendapat penanganan yang cepat dan tepat.

Diagnosis Dismenore

Untuk mendiagnosis dismenore, dokter akan melakukan evaluasi riwayat kesehatan dan melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan panggul secara lengkap.

Tes tersebut mungkin berupa:

  • USG (Ultrasonografi). Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar organ dalam.
  • Pencitraan resonansi magnetik (MRI). Tes ini menggunakan magnet besar, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar detail organ dan struktur di dalam tubuh.
  • Laparoskopi. Prosedur minor ini menggunakan laparoskopi, sebuah alat berbentuk tabung tipis dengan lensa dan cahaya. Alat tersebut dimasukkan ke dalam sayatan di dinding perut. Dengan menggunakan laparoskopi untuk melihat ke area panggul dan perut, dokter dapat mendeteksi pertumbuhan yang tidak normal.
  • Histeroskopi. Ini adalah pemeriksaan visual saluran serviks dan bagian dalam rahim. Pemeriksaan menggunakan alat penglihatan (histeroskop) yang dimasukkan melalui vagina.

Komplikasi Dismenore

Dismenore yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi seperti:

  • Gangguan aktivitas sehari-hari: Nyeri yang parah dapat mengganggu pekerjaan, sekolah, atau aktivitas sosial.
  • Kecemasan dan depresi: Nyeri kronis dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental.
  • Infertilitas: Pada kasus dismenore sekunder yang disebabkan oleh endometriosis atau fibroid rahim, infertilitas dapat terjadi.

Pengobatan Dismenore

Penanganan dismenore tergantung pada jenis dan penyebabnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dismenore meliputi:

1. Perubahan gaya hidup

  • Kompres hangat: Tempelkan botol air hangat atau bantal pemanas pada perut bagian bawah.
  • Olahraga ringan: Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau yoga dapat membantu mengurangi nyeri.
  • Relaksasi: Teknik relaksasi seperti meditasi atau pernapasan dalam dapat membantu mengurangi ketegangan otot dan nyeri.
  • Pijat: Pijat lembut pada perut bagian bawah dapat membantu meredakan kram.

2. Obat-obatan

  • Obat pereda nyeri: Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau naproxen dapat membantu mengurangi nyeri dan peradangan. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi obat-obatan. Apa saja obat untuk mengatasi nyeri haid? Baca di sini:  Ini 5 Rekomendasi Obat Pereda Nyeri Haid yang Ampuh
  • Kontrasepsi hormonal: Pil KB atau alat kontrasepsi hormonal lainnya dapat membantu mengurangi produksi prostaglandin dan meredakan nyeri haid.

Penanganan medis: Untuk dismenore sekunder, penanganan akan difokuskan pada mengatasi penyebab yang mendasari, seperti operasi untuk mengangkat fibroid atau endometriosis.

Pencegahan Dismenore

Meskipun tidak semua kasus dismenore dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko atau meredakan gejala:

  • Olahraga teratur: Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi nyeri.
  • Diet sehat: Konsumsi makanan yang kaya akan buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh. Batasi asupan makanan olahan, gula, dan kafein.
  • Kompres hangat: Letakkan botol air hangat atau bantal pemanas di perut bagian bawah untuk meredakan kram.
  • Teknik relaksasi: Meditasi, yoga, atau pernapasan dalam dapat membantu mengurangi stres dan nyeri.
  • Suplemen: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplemen seperti omega-3, magnesium, dan vitamin B1 dapat membantu mengurangi nyeri haid.
Jaga kesehatan reproduksimu dengan mudah dan rahasia lewat HaloIntima, layanan klinik digital dari Halodoc yang tepercaya. Konsultasi dengan dokter, pesan obat, dan lakukan tes lab di rumah, semua bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah.

Klik di sini untuk tahu lebih lanjut tentang HaloIntima!

Kapan Harus ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis jika kamu mengalami:

  • Nyeri haid yang sangat parah dan tidak membaik dengan obat pereda nyeri.
  • Perdarahan haid yang tidak normal (terlalu banyak atau terlalu lama).
  • Nyeri saat berhubungan seksual atau buang air kecil.
  • Demam atau menggigil.
  • Nyeri yang semakin memburuk dari waktu ke waktu.

Rekomendasi Dokter di Halodoc yang Bisa Bantu Perawatan Dismenore

Jika keluarga atau kerabat memiliki tanda-tanda atau gejala yang tercantum di atas atau memiliki pertanyaan, kamu bisa tanya atau konsultasi dengan dokter di Halodoc.

Kamu juga perlu segera konsultasikan ke dokter di Halodoc jika kamu mengalami:

  • Nyeri haid yang sangat parah dan tidak membaik dengan pengobatan rumahan.
  • Nyeri haid yang disertai dengan gejala lain seperti demam, menggigil, keputihan abnormal, atau perdarahan di antara periode menstruasi.
  • Nyeri haid yang mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.
  • Perubahan pola menstruasi yang tidak biasa.

Nah, berikut beberapa dokter yang sudah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun yang bisa kamu hubungi.  

Dokter-dokter ini juga mendapatkan rating yang baik dari para pasien yang sebelumnya mereka tangani: 

Ini daftarnya:

  • dr. Marsell Phang Sp.OG
  • dr. Lucia Leonie Sp.OG
  • dr. Fitria Angela Umar Sp.OG

Tak perlu khawatir jika dokter sedang tidak tersedia atau offline. 

Sebab, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc.

Klik gambar berikut untuk berbicara dengan dokter sekarang:

Diperbarui pada 5 Februari 2026. 
Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2026. Dysmenorrhea
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Dysmenorrhea

FAQ

1. Apakah dismenore normal? 

Nyeri haid ringan hingga sedang adalah hal yang umum, tetapi nyeri yang parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari perlu dievaluasi oleh dokter.

2. Apakah dismenore bisa disembuhkan?

Dismenore primer biasanya dapat dikelola dengan obat pereda nyeri dan perubahan gaya hidup. Dismenore sekunder mungkin memerlukan pengobatan yang lebih spesifik tergantung pada penyebabnya.

3. Apakah olahraga aman saat mengalami dismenore?

Olahraga ringan hingga sedang justru dapat membantu meredakan nyeri haid. Hindari olahraga berat yang memperburuk nyeri.

4. Apa perbedaan PMS dan dismenore?

Meskipun keduanya terjadi di sekitar siklus menstruasi, keduanya adalah hal yang berbeda secara definisi dan gejalanya:

  • PMS (Pre-Menstrual Syndrome): Adalah kumpulan gejala fisik dan emosional yang muncul sebelum haid dimulai (biasanya 1–2 minggu sebelumnya) dan akan membaik setelah darah haid keluar. Gejalanya luas, mulai dari jerawatan, payudara sensitif, hingga perubahan suasana hati (mood swings).
  • Dismenore: Adalah istilah medis untuk nyeri haid. Ini spesifik merujuk pada rasa sakit atau kram di perut bagian bawah yang terjadi saat haid berlangsung (terutama hari ke-1 dan ke-2).

5. Dismenore sakitnya di mana?

Rasa sakit dismenore biasanya terpusat di area berikut:

  • Perut bagian bawah: Terasa seperti kram atau mulas yang kuat (akibat kontraksi rahim).
  • Pinggang dan punggung bawah: Seringkali rasa nyerinya menjalar hingga ke area punggung belakang.
  • Paha bagian dalam: Pada beberapa orang, rasa pegal dan nyeri bisa terasa hingga ke kaki.
  • Gejala penyerta: Terkadang rasa sakit ini dibarengi dengan mual, lemas, atau bahkan diare.

6. Apa yang harus dilakukan jika mengalami Dismenore?

Jika nyeri melanda, kamu bisa melakukan langkah-langkah pertolongan pertama berikut:

  • Kompres hangat: Tempelkan botol berisi air hangat atau heating pad di perut bagian bawah untuk melemaskan otot rahim yang tegang.
  • Cukupi cairan & istirahat: Minum air putih hangat dan hindari aktivitas berat sementara waktu.
  • Pijatan ringan: Lakukan pijatan lembut di area perut bawah dengan minyak aromaterapi.
  • Posisi tidur: Mencoba posisi tidur menyamping dengan menekuk lutut ke arah dada (posisi janin) dapat membantu mengurangi tekanan pada otot perut.
  • Obat pereda nyeri: Jika nyeri tidak tertahankan, kamu bisa meminum obat bebas seperti parasetamol atau ibuprofen (sesuai dosis anjuran).

Catatan Penting: Jika nyeri haid terasa sangat ekstrem hingga membuatmu pingsan atau tidak bisa beraktivitas sama sekali, sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis kandungan (Sp.OG) untuk mengecek kemungkinan kondisi seperti endometriosis.

TRENDING_TOPICS

VIEW_ALL
share on facebook
share on twitter
share on whatsapp
share on facebook
share on twitter
share on whatsapp