• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Impotensi
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Impotensi

Impotensi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
ImpotensiImpotensi

Pengertian Impotensi

Impotensi adalah ketidakmampuan pria untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi. Kondisi ini juga dikenal sebagai disfungsi ereksi dan dapat memengaruhi kemampuan pria untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan. Impotensi adalah kondisi yang sangat umum dan dapat terjadi pada semua usia. Namun, paling sering terjadi pada pria yang lebih tua.

Penyebab Impotensi

Gairah seksual pria adalah proses kompleks yang melibatkan otak, hormon, emosi, saraf, otot, dan pembuluh darah. Disfungsi ereksi atau impotensi dapat terjadi karena adanya masalah dengan salah satu dari peran tersebut. 

Selain itu, stres dan masalah kesehatan mental juga dapat menjadi penyebab atau memperburuk disfungsi ereksi. Secara umum, impotensi bisa terjadi karena masalah fisik dan psikologis. 

1. Penyebab fisik terjadinya impotensi

Pada banyak kasus, disfungsi ereksi disebabkan oleh sesuatu yang bersifat fisik atau berasal dari tubuh. Penyebab umumnya termasuk:

  • Penyakit jantung.
  • Pembuluh darah tersumbat (aterosklerosis).
  • Kolesterol tinggi.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Diabetes.
  • Kegemukan.
  • Sindrom metabolik, kondisi yang melibatkan peningkatan tekanan darah, kadar insulin, lemak tubuh di sekitar pinggang dan kolesterol tinggi.
  • Penyakit Parkinson.
  • Multiple sclerosis.
  • Penggunaan obat resep tertentu.
  • Menggunakan tembakau.
  • Penyakit Peyronie, perkembangan jaringan parut di dalam penis.
  • Pecandu alkohol dan bentuk penyalahgunaan zat lainnya.
  • Gangguan tidur.
  • Menjalani perawatan untuk kanker prostat atau pembesaran prostat.
  • Operasi atau cedera yang memengaruhi area panggul atau sumsum tulang belakang.

Selain itu, impotensi juga bisa terjadi karena kadar hormon testosteron pada pria yang rendah.

2. Penyebab psikologis terjadinya impotensi

Sementara itu, penyebab terjadinya impotensi pada pria dari sisi psikologis, di antaranya:

  • Depresi, stres, gangguan kecemasan berlebihan, atau kondisi kesehatan mental lainnya.
  • Masalah hubungan yang terjadi karena stres dan komunikasi yang buruk. 

Faktor Risiko Impotensi

Seiring bertambahnya usia, ereksi bisa memerlukan waktu lebih lama untuk terjadi dan mungkin tidak sekuat sebelumnya. Pria mungkin membutuhkan lebih banyak sentuhan langsung ke penis untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi.

Meski bisa terjadi pada semua pria dewasa, ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko pria untuk mengalami impotensi, di antaranya: 

  • Kondisi medis tertentu, terutama diabetes dan jantung.
  • Penggunaan tembakau yang dapat membatasi aliran darah yang menuju ke pembuluh darah dan arteri. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan kronis yang berujung pada disfungsi ereksi.
  • Kelebihan berat badan, terutama jika mengalami obesitas.
  • Menjalani perawatan medis tertentu, seperti operasi prostat atau pengobatan radiasi untuk kanker.
  • Cedera, terutama jika merusak saraf atau arteri yang mengontrol ereksi.
  • Konsumsi obat tertentu, termasuk obat golongan antidepresan, antihistamin, dan obat untuk tekanan darah tinggi, nyeri, atau kondisi prostat.
  • Kondisi psikologis, seperti stres, kecemasan atau depresi.
  • Penyalahgunaan narkoba dan alkohol, terutama jika pengidap merupakan pengguna narkoba jangka panjang atau peminum berat.

Gejala Impotensi

Gejala impotensi dapat bervariasi pada setiap pria yang mengalaminya. Beberapa gejala umum dari kondisi ini di antaranya:

  • Tidak bisa ereksi sama sekali.
  • Mengalami ereksi, tetapi tidak sering.
  • Mengalami kesulitan menjaga ereksi cukup lama untuk berhubungan seks.
  • Kurangnya keinginan untuk berhubungan seks.

Diagnosis Impotensi

Pemeriksaan riwayat medis dilakukan untuk membantu mendiagnosis impotensi dan menentukan rencana pengobatan. Jika kamu memiliki kondisi kesehatan kronis atau dokter menduga adanya keterlibatan dari kondisi medis tertentu, dokter akan merekomendasikan kamu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Adapun pemeriksaan yang umum dilakukan untuk mendiagnosis kondisi kesehatan yang mungkin terlibat, di antaranya:

  • Pemeriksaan fisik. Ini termasuk pemeriksaan terhadap penis dan testis serta memeriksa saraf untuk memberikan sensasi dan memicu ereksi.
  • Tes darah. Sampel darah dikirim ke laboratorium untuk memeriksa tanda penyakit jantung, diabetes, kadar testosteron rendah, dan kondisi kesehatan lainnya.
  • Tes urine. Tes urine juga digunakan untuk mencari tanda-tanda diabetes dan kondisi kesehatan lain yang mendasarinya.
  • USG. Tes ini melibatkan alat seperti tongkat (transduser) yang dipegang di atas pembuluh darah yang memasok penis. Tes ini terkadang dilakukan bersama dengan suntikan obat ke dalam penis untuk merangsang aliran darah dan menghasilkan ereksi.
  • Tes psikologi. Dokter akan mengajukan pertanyaan untuk menemukan adanya kemungkinan penyebab psikologis lain dari impotensi.

Pengobatan Impotensi

Hal pertama yang akan dilakukan dokter adalah memastikan pengidap mendapat perawatan yang tepat. Ini termasuk perawatan untuk setiap kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan atau memperburuk impotensi.

Tergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan kondisi medis yang mendasari, pengidap bisa memiliki berbagai opsi pengobatan. Beberapa pilihan pengobatan yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Pemberian obat

Obat-obatan oral menjadi opsi pengobatan impotensi yang bekerja baik bagi banyak pria. Obat yang diberikan termasuk:

  • Sildenafil.
  • Tadalafil.
  • Vardenafil.
  • Avanafil.

Keempat obat tersebut dapat meningkatkan efek oksida nitrat, bahan kimia alami yang diproduksi tubuh yang melemaskan otot-otot di penis. Ini akan meningkatkan aliran darah dan memungkinkan pengidap untuk ereksi sebagai respons terhadap rangsangan seksual.

Akan tetapi, mengonsumsi salah satu obat tersebut tidak akan secara otomatis membuat pengidap mengalami ereksi. Sebab, tetap diperlukan stimulasi seksual terlebih dahulu, sehingga terjadi pelepasan oksida nitrat dari saraf penis.

Penggunaan obat akan memperkuat sinyal tersebut dan memungkinkan fungsi penis bekerja normal pada beberapa orang. Obat disfungsi ereksi oral bukan afrodisiak, tidak akan menimbulkan gairah dan tidak diperlukan pada orang yang mendapatkan ereksi normal.

Dosis pemakaian, lama obat bekerja, dan efek samping dari setiap obat juga bervariasi. Kemungkinan efek samping termasuk hidung tersumbat, sakit kepala, perubahan visual, sakit punggung, dan sakit perut.

Dokter akan mempertimbangkan situasi khusus untuk menentukan obat mana yang paling berhasil. Obat-obatan ini mungkin tidak segera mengobati impotensi. Ini berarti, pengidap perlu terus melakukan kontrol kesehatan sampai menemukan obat dan dosis yang tepat.

Sebelum mengonsumsi obat impotensi, termasuk suplemen yang dijual bebas dan obat herbal, pastikan untuk bertanya terlebih dulu dengan dokter. Sebab, obat untuk impotensi tidak menunjukkan efek yang sama pada semua orang.

Selain itu, obat juga bisa kurang efektif dalam kondisi tertentu, seperti setelah operasi prostat atau jika mengidap diabetes. Beberapa obat bahkan bisa memicu efek samping berbahaya apabila dikonsumsi bersamaan dengan obat nitrat lainnya, memiliki riwayat penyakit jantung, gagal jantung, atau mengidap hipotensi

2. Pengobatan lainnya

Obat-obatan atau metode terapi lain yang kerap digunakan oleh dokter untuk mengatasi impotensi, di antaranya:

  • Injeksi alprostadil secara mandiri

Terapi ini dilakukan dengan menggunakan jarum halus untuk menyuntikkan alprostadil ke dasar atau samping penis. Terkadang, obat yang umumnya digunakan untuk kondisi lain juga diresepkan untuk suntikan penis sendiri atau kombinasi. 

Contohnya alprostadil dan phentolamine. Sering kali obat kombinasi ini dikenal sebagai bimix (kombinasi dua obat) atau trimix (kombinasi tiga obat). Setiap suntikan diberi dosis untuk menciptakan ereksi yang berlangsung tidak lebih dari satu jam. 

Oleh karena jarum yang digunakan sangat halus, maka rasa sakit yang muncul dari tempat suntikan biasanya ringan. Efek samping dari terapi ini termasuk pendarahan ringan dari suntikan, ereksi berkepanjangan (priapisme), dan pembentukan jaringan fibrosa di tempat suntikan pada kondisi yang jarang terjadi.

  • Suppositoria uretra alprostadil

Terapi intrauretra alprostadil melibatkan penempatan suppositoria alprostadil kecil di dalam penis, tepatnya di uretra penis. Pengidap akan menggunakan aplikator khusus untuk memasukkan supositoria ke dalam uretra penis.

Ereksi biasanya dimulai dalam 10 menit. Apabila obat bekerja dengan baik, ereksi bisa berlangsung antara 30 dan 60 menit. Efek sampingnya bisa termasuk rasa terbakar di penis, pendarahan kecil di uretra dan pembentukan jaringan fibrosa di dalam penis.

  • Pengganti hormon testosteron

Beberapa pria mengalami impotensi yang diperumit oleh rendahnya kadar hormon testosteron. Terkait dengan hal tersebut, terapi penggantian testosteron akan direkomendasikan sebagai langkah pertama atau diberikan dalam kombinasi dengan terapi lain.

3. Pompa penis dan implan

Jika obat-obatan tidak memberikan hasil yang efektif atau tidak dapat diberikan, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan yang berbeda, seperti: 

  • Pompa penis

Pompa penis atau alat ereksi vakum adalah tabung berongga dengan pompa bertenaga manual atau baterai. Tabung ditempatkan di atas penis, lalu pompa digunakan untuk menyedot udara di dalam tabung. Ini menciptakan ruang hampa yang menarik darah ke penis.

Setelah mendapatkan ereksi, pengidap akan menyelipkan cincin ketegangan di sekitar pangkal penis untuk menahan darah dan menjaganya agar tetap kuat. Selanjutnya, pengidap dapat melepas perangkat vakum.

Ereksi biasanya berlangsung cukup lama bagi pasangan untuk berhubungan seks. Jangan lupa untuk melepas cincin ketegangan setelah berhubungan. Memar pada penis adalah efek samping yang mungkin terjadi, dan ejakulasi yang terbatas. Selain itu, penis mungkin terasa dingin saat disentuh.

  • Implan penis

Perawatan ini melibatkan pembedahan dan menempatkan perangkat ke kedua sisi penis. Implan terdiri dari batang yang dapat ditiup atau ditekuk. Perangkat tiup memungkinkan pengidap untuk mengontrol kapan dan berapa lama mengalami ereksi. Sementara itu, batang lunak menjaga penis tetap kuat tetapi dapat ditekuk.

Implan penis biasanya tidak dianjurkan sampai metode lain telah dicoba terlebih dahulu. Implan memiliki tingkat kepuasan yang tinggi pada pengidap yang telah mencoba dan gagal dalam terapi yang lebih konservatif. Namun, tetap ada risiko komplikasi, seperti infeksi. 

Selain itu, tindakan operasi implan penis tidak dianjurkan oleh dokter jika saat ini pengidap memiliki kondisi medis lainnya. Misalnya sedang mengidap infeksi saluran kemih.

4. Olahraga

Olahraga terutama aktivitas aerobik sedang hingga berat diyakini dapat membantu mengatasi impotensi. Bahkan, olahraga teratur dengan intensitas ringan dapat mengurangi risiko impotensi. 

5. Konseling psikologi

Jika impotensi disebabkan oleh stres, kecemasan, depresi, atau kondisi tersebut menciptakan stres dan masalah hubungan dengan pasangan, dokter akan menyarankan agar pengidap mendapatkan konseling psikologis. 

Komplikasi Impotensi

Komplikasi yang mungkin terjadi akibat impotensi, di antaranya:

  • Kehidupan seks yang tidak memuaskan.
  • Stres atau kecemasan berlebihan.
  • Rasa malu atau rendah diri, terutama pada pasangan.
  • Masalah dalam hubungan.

Pencegahan Impotensi

Cara terbaik untuk mencegah impotensi adalah mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan mengelola setiap kondisi kesehatan yang ada. Sebagai contohnya: 

  • Mengelola diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan kronis lainnya.
  • Melakukan pemeriksaan rutin dan tes skrining medis.
  • Berhenti merokok, menghindari konsumsi minuman beralkohol, dan tidak menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Sebisa mungkin menghindari atau mengatasi stres maupun kondisi mental lain yang sedang dialami.
  • Mendapatkan bantuan profesional untuk kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan mental lainnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan medis ke dokter atau rumah sakit apabila mengalami kondisi berikut:

  • Memiliki kekhawatiran tentang ereksi atau mengalami masalah seksual lainnya seperti ejakulasi dini atau ejakulasi yang tertunda.
  • Mengidap diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan lain yang diketahui dan mungkin terkait dengan impotensi yang dialami.
  • Menunjukkan gejala lain ketika mengalami disfungsi ereksi atau impotensi.

Cek kesehatan ke dokter, rumah sakit, atau penuhi semua kebutuhan medis lebih mudah dari aplikasi Halodoc. Pastikan kamu sudah download Halodoc di ponselmu, ya!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Erectile dysfunction.
WebMD. Diakses pada 2022. Erectile Dysfunction.
Medical News Today. Diakses pada 2022. The causes of impotence and how to treat them.