• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Keseringan Googling Penyakit, Awas Kena Cyberchondria

Keseringan Googling Penyakit, Awas Kena Cyberchondria

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Internet memang memberikan segudang manfaat bagi kehidupan zaman sekarang. Tak hanya mempermudah komunikasi di mana pun berada, internet juga memudahkan segala macam aktivitas berbelanja. Internet membantu orang untuk terhubung, serta mempelajari berbagai hal di mana saja dan kapan saja.

Namun, banyak orang yang menjadi ketergantungan dengan internet, sehingga mereka juga kerap mengidentifikasi kondisi kesehatan mereka. Ketika seseorang terpaku dengan gejala suatu penyakit yang ada di internet, hingga mereka bisa mendiagnosis diri sendiri hanya dengan bantuan internet, kondisi ini disebut dengan cyberchondria. 

Baca juga: Kecanduan Media Sosial atau Alkohol, Mana yang Lebih Bahaya?

Kenali Lebih Dalam Tentang Cyberchondria

Cyberchondria merupakan kondisi yang terjadi ketika seseorang berpikiran berlebihan terhadap kondisi kesehatan mereka, sehingga mereka mencoba mencari gejalanya suatu penyakit lewat internet dan mendiagnosisnya sendiri. Cyberchondria sendiri merupakan gabungan kata dari cyber dan chondria. Pengidap kondisi ini akan merasa gelisah, bahkan depresi ketika mereka membaca di internet tentang gejala suatu penyakit yang tengah mereka alami.

Baca juga: Pemerintah Batasi Akses Sosmed, Ini Dampak Detoks Digital

Kenali Gejala yang Tampak

Cyberchondria bisa dicontohkan dengan ibu yang baru melahirkan, kemudian putra atau putrinya memiliki gejala suatu penyakit. Ibu kemudian mencari di internet tentang penyakit yang tengah dialami si buah hati dan mendiagnosisnya sendiri tanpa bantuan ahli.

Selain kecanduan internet untuk mendeteksi sejumlah penyakit, cyberchondria akan ditandai dengan:

  • Mereka akan merasa memiliki berbagai penyakit berbahaya, bahkan dapat mengancam nyawa mereka. Padahal, gejala yang dirasakan merupakan gejala ringan.

  • Mereka akan semakin merasa cemas dan takut terhadap kondisinya setelah membaca literatur dari internet tentang penyakit yang mereka khawatirkan. Padahal, seharusnya mereka berusaha untuk menenangkan diri dengan menemui para ahli.

  • Mereka sebenarnya tengah berada dalam kondisi kesehatan yang stabil. Namun, karena pikirannya sendiri, mereka membesar-besarkan suatu gejala yang tampak.

Ketika melakukan “self diagnose” hanya dengan membaca literatur di internet, semua orang akan salah mengartikan penyakit yang tengah mereka alami. Padahal, rata-rata semua penyakit akan muncul dengan gejala awal yang hampir sama. Hal terbaik yang harus dilakukan adalah menemui dokter di rumah sakit terdekat untuk mendeteksi dengan tepat perihal penyakit yang sedang kamu alami.

Baca juga: WHO Tetapkan Kecanduan Main Game Sebagai Gangguan Mental

Jangan Berasumsi Terlalu Jauh

Cyberchondria yang kamu alami dapat diperparah oleh kecemasan dalam diri. Untuk itu, jangan berasumsi terlalu jauh ketika kamu menemukan serangkaian gejalanya. Lakukan juga pemeriksaan fisik dan penunjang guna mengetahui kondisi sesungguhnya. Tak hanya itu, berikut hal-hal yang dapat kamu lakukan:

  • Batasi waktu penggunaan internet. Pengidap cyberchondria akan memiliki hasrat yang kuat untuk mendeteksi lebih jauh apa yang sedang dialami.

  • Diskusikan dengan ahlinya. Rasa cemas yang kamu alami tentang gejala suatu penyakit harus segera didiskusikan dengan ahlinya. Agar penyakit dapat dengan tepat didiagnosis.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, cyberchondria dapat bertambah parah karena kecemasan yang timbul dalam diri. Kondisi ini dapat muncul karena stres masalah pekerjaan, stres terhadap lingkungan, atau kehidupan pribadi. Satu-satunya langkah terbaik dalam melakukan langkah pencegahan adalah selalu menjaga kondisi pikiran dan psikologis.

Terkait hal tersebut, kamu dapat mencari kegiatan yang dapat menenangkan pikiran dan hari seperti beribadah, melakukan hal-hal yang disukai, menonton film, mendengarkan musik, atau pergi liburan dengan orang terkasih. Jika kecemasan dibiarkan begitu saja tanpa penanganan, kamu bisa saja mengidap depresi yang dapat membahayakan nyawamu.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. 5 Ways to Tell if You Have Cyberchondria.
Karger. Diakses pada 2019. Cyberchondria: Challenges of Problematic Online Searches for Health-Related Information.