Lansia Berisiko Alami Spondylosis, Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Lansia Berisiko Alami Spondylosis, Mitos atau Fakta?

Halodoc, Jakarta – Orang lanjut usia alias lansia menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan, terutama penyakit yang berkaitan dengan tulang. Tidak ada yang aneh dengan hal itu, sebab seiring bertambahnya usia, sangat wajar jika bagian-bagian tubuh juga ikut mengalami penuaan. Dari semua penyakit atau gangguan kesehatan yang ada, lansia disebut-sebut juga berisiko tinggi mengalami spondylosis. Benarkah? 

Secara umum, spondylosis merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan degenerasi tulang belakang. Kondisi ini disebut terjadi karena tulang rawan antar ruas tulang belakang yang berfungsi sebagai bantalan mengalami pengapuran dan kekakuan yang kemudian menyebabkan tempat keluarnya saraf dari tulang belakang tertekan. Tekanan itu menimbulkan gejala umum berupa kekakuan menggerakkan tulang belakang, nyeri, hingga kesemutan. Penyakit ini memang banyak dialami oleh lansia, tetapi sebenarnya bisa menyerang siapa saja pada usia berapapun.

Baca juga:  Kenali Spondylosis, Penyakit yang Menyerang Tulang Belakang

Faktor-faktor Risiko Penyakit Spondylosis 

Spondylosis bisa terjadi di beberapa bagian, yaitu tulang belakang leher, bagian atas dan tengah punggung, serta bagian bawah punggung. Penyakit ini juga sering digunakan untuk menggambarkan kondisi osteoarthritis pada tulang belakang. Untuk menangani penyakit ini, pengidapnya harus menjauhi atau mengurangi faktor-faktor risiko. Artinya, orang yang berisiko mengidap spondylosis harus mengetahui apa saja yang menjadi faktor dan penyebab penyakit ini bisa menyerang. 

Salah satu faktor utama penyakit ini adalah pertambahan usia. Normalnya, seiring bertambahnya usia, tulang rawan dan ligamen pada tulang belakang mengalami pengapuran, sehingga menyebabkan terjadinya spondylosis. Gejala penyakit ini disebut meningkat pada orang yang berada di antara usia 20 hingga 50 tahun. Kebanyakan kasus spondylosis terjadi pada orang di atas usia 40 tahun. Selain usia, jenis kelamin ternyata juga bisa memengaruhi kondisi ini. 

Spondylosis banyak menyerang pria di bawah usia 45 tahun. Sebaliknya, pada wanita penyakit ini paling sering ditemukan di atas usia 45 tahun. Risiko penyakit ini juga meningkat pada orang yang memiliki kelebihan berat badan alias obesitas, pernah mengalami cedera atau trauma pada sendi, serta sering beraktivitas atau melakukan olahraga yang memberikan stres berulang pada sendi tertentu di tubuh. 

Baca juga: Ini Penyebab Terjadinya Spondilosis Servikal yang Perlu Diketahui

Ada beberapa gejala yang sering muncul sebagai tanda dari penyakit ini. Spondylosis menyebabkan pengidapnya mengalami nyeri atau kaku di leher serta punggung. Namun biasanya, rasa nyeri ini akan membaik bahkan hilang saat berbaring. Penyakit ini juga memicu gejala kelemahan atau mati rasa pada kaki atau tangan, nyeri pada bahu, serta sakit kepala. 

Spondylosis juga bisa memicu gejala lain yang sering tidak disadari. Segera hubungi dokter jika merasa mengalami gejala mirip penyakit ini. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc untuk bicara dengan dokter. Download aplikasinya dan hubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat.

Mendiagnosis penyakit ini biasanya dilakukan melalui tes atau pemeriksaan fisik. Selain itu, mungkin akan dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk membantu mendiagnosis osteoartritis pada tulang belakang. Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah X-ray dan MRI. Bisa juga dilakukan tes darah untuk mendeteksi penyakit lain. Setelah seseorang didiagnosis mengidap penyakit ini, maka akan mulai dilakukan perawatan untuk meredakan gejala. 

Baca juga: Ini 5 Cara untuk Mengobati Spondilosis Servikal

Jika penyakit ini muncul akibat obesitas, hal pertama yang akan dilakukan adalah penurunan berat badan dan menjaga berat badan sehat. Biasanya, cara yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan berolahraga. Ada jenis olahraga yang bisa dilakukan untuk perawatan spondylosis, di antaranya berenang, berjalan, dan aerobik air.