31 October 2017

Latihan Ini Dapat Bantu Anak Disleksia Lancar Membaca

Latihan Ini Dapat Bantu Anak Disleksia Lancar Membaca

Halodoc, Jakarta – Melihat anak kesulitan membaca, jangan langsung diasumsikan karena ia malas atau bodoh, tapi mungkin saja ia mengidap disleksia. Membaca adalah kegiatan yang paling sulit dilakukan oleh anak-anak disleksia. Hal itu disebabkan karena pengidap disleksia memiliki masalah mengolah informasi dari kalimat yang mereka baca. Namun, ada beberapa cara yang bisa diterapkan oleh orangtua maupun guru-guru pengajar untuk melatih anak disleksia membaca.

Masih belum diketahui penyebabnya, anak disleksia memiliki perbedaan cara kerja otak dalam mengolah informasi, sehingga mereka sulit untuk belajar  Membaca merupakan salah satu kegiatan pembelajaran yang sulit bagi anak disleksia, karena kegiatan tersebut melibatkan kemampuan visual dan auditori secara bersamaan. Anak disleksia kerap bingung membedakan antara arah kanan dan kiri, sehingga huruf-huruf yang terlilhat mirip, seperti b, d, p, q, sulit mereka bedakan. Contohnya, anak disleksia sering tertukar kata-kata “kuku” dengan “kaku” karena bentuknya mirip, atau angka 12 tertukar dengan 21.  Karena itu, cara mengajar anak disleksia berbeda dengan anak pada umumnya, serta dibutuhkan kreatifitas dan modifikasi. Ada tiga metode pembelajaran yang bisa diterapkan kepada anak-anak disleksia agar lancar membaca:

1.  Metode Multisensori
Metode ini paling banyak mendayagunakan kemampuan anak, yaitu visual (kemampuan penglihatan), auditori (kemampuan pendengaran), kinestetik (kesadaran pada gerak), serta taktil (sentuhan atau peraba). Berikut adalah beberapa contoh latihan multisensori untuk melatih anak disleksia membaca:

  • Menggunakan Pasir atau Krim

Orangtua bisa menggunakan bantuan pasir atau krim cukur (whipping cream) untuk metode ini. Langkah pertama, tuangkan pasir atau sebarkan krim di sebuah wadah, seperti nampan. Lalu minta si kecil untuk menuliskan kata “perahu” di atas pasir atau krim dengan menggunakan jari mereka. Sambil menulis, minta ia membaca setiap huruf yang ia buat, lalu sebutkan suku katanya, yaitu “pe”, “ra”, “hu”, kemudian terakhir menyebutkan kata “perahu” dengan jelas dan lantang.

  • Menggunakan Balok Huruf

Siapkan balok-balok huruf dan berikan warna yang berbeda, misalnya warna kuning untuk kelompok huruf hidup, dan warna merah untuk kelompok huruf konsonan. Minta anak untuk menyusun kata “perahu” dengan menggunakan balok-balok huruf tersebut sambil mengejanya. Kemudain minta ia untuk menyebutkan kata utuhnya dengan jelas setelah ia selesai menyusun kata.

  • Baca, Susun dan Tulis

Di atas selembar karton, buatlah tiga kolom, yaitu BACA, SUSUN, dan TULIS. Siapkan juga spidol dan balok warna-warni. Tuliskan kata yang ingin diajarkan kepada anak di kolom BACA, lalu minta anak untuk mengamati huruf-huruf pembentuk kata tersebut. Kemudian anak bisa menyusun kata tersebut di kolom SUSUN dengan menggunakan balok huruf warna-warni. Terakhir, minta ia menuliskan kata tersebut di kolom TULIS sambil membacanya dengan suara lantang.

  • Dinding Kosakata

Cetaklah kata-kata yang sering dipakai dan terlihat di tempat umum, seperti “dari”, “di”, “ke”, “dan”, “saya” dalam ukuran besar dan berwarna-warni, kemudian tempel kata-kata tersebut di dinding kamar anak sesuai dengan urutan alfabetik. Anak secara otomatis akan sering melihat dan mengingat kata-kata tersebut, sehingga dapat membuatnya lebih lancar membaca.

2.  Metode Fonik
Metode bunyi ini melatih kemampuan auditori dan visual anak dengan cara menamai huruf sesuai dengan bunyinya. Misalnya, huruf D dibunyikan de, huruf H dibunyikan dengan ha. Anak disleksia bisa berpikir kata “es krim” hanya terdiri dari “s” dan “krim”.

  • Membedah Kata

Pertama, tentukan satu kata yang ingin diajarkan kepada anak, misalnya, “perahu”. Tulis kata “perahu” di sebuah papan, lalu orangtua bisa membacakan kata tersebut dengan suara yang jelas dan lantang. Kemudian minta anak untuk mengeja setiap huruf yang membentuk kata tersebut. Tanyakan huruf apa yang ia lihat di awal, tengah, dan akhir kata. Tanyakan juga huruf hidup apa saja yang ada pada kata tersebut. Dengan membedah kata tersebut, anak disleksia bisa menganalisis dan memproses kata dengan terinci.   

3.  Metode Linguistik
Metode ini mengajarkan anak untuk mengenal kata secara utuh. Cara ini sangat efektif agar anak tidak terbolak-balik mengenali kata-kata yang bermiripan. Metode linguistik mendorong anak untuk menyimpulkan sendiri pola hubungan antara huruf dan bunyinya.  


Orangtua bisa memikirkan cara kreatif lainnya yang sesuai dan efektif untuk diterapkan kepada anaknya yang memiliki disleksia agar si anak dapat lancar membaca. Jika kamu memiliki keluhan atau pertanyaan seputar cara membimbing anak, jangan ragu untuk menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Hubungi dan ceritakan keluhanmu kepada dokter melalui metode Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Kamu juga bisa membeli vitamin dan produk kesehatan yang dibutuhkan di Halodoc dan pesananmu akan diantar hanya dalam satu jam. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.