Mitos atau Fakta, Gangguan Panik Picu Penyalahgunaan NAPZA

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Mitos atau Fakta, Gangguan Panik Picu Penyalahgunaan NAPZA

Halodoc, Jakarta - Kecemasan yang berlebihan membuat kamu mengalami gangguan panik atau serangan panik yang terjadi secara tiba-tiba. Memang, sebagai respon normal tubuh, seseorang yang mengalami kecemasan didera rasa panik. Namun, pada seseorang yang memiliki perasaan cemas yang berlebihan, tingkat stres yang tinggi, dan khawatir akan terjadi berulang kali tanpa mengenal waktu tanpa adanya hal yang sebenarnya harus dicemaskan. 

Stres biasanya menjadi penyebab seseorang mengalami rasa cemas yang berisiko berujung pada gangguan panik. Sayangnya, ini lebih sering dialami oleh wanita alih-alih pria, karena tingkatan stres pada wanita memang terbilang lebih tinggi. Tentu saja, stres semakin meningkat ketika seseorang beranjak remaja. Penyebabnya juga beragam, mulai dari masalah finansial hingga hubungan dengan pasangan. 

Benarkah Gangguan Panik Picu Penyalahgunaan Napza?

Sebenarnya, gangguan panik tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ketika tidak mendapatkan penanganan, kondisi ini bisa berujung pada stres dan depresi berkepanjangan. Akibatnya, tidak jarang terjadi kasus percobaan bunuh diri maupun kasus bunuh diri sebagai dampak dari depresi yang tidak diketahui. Ternyata, kondisi ini sangat serius dan tidak boleh dianggap remeh, ya!

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Bedanya Serangan Panik dan Serangan Kecemasan

Kalau itu terjadi pada diri kamu, segeralah bercerita pada pasangan, keluarga, atau teman terdekat yang kamu percayai. Kalau kamu terlalu takut untuk melakukannya, coba ceritakan pada ahli psikologi, sehingga tidak hanya merasa lebih lega, kamu juga mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa membuat janji langsung dengan dokter di rumah sakit terdekat, atau menggunakan fitur Tanya Dokter di aplikasi Halodoc kalau tidak sempat. 

Gejala utama dari terjadinya gangguan panik adalah serangan panik yang terus-menerus terjadi. Bahkan, ini masih kamu alami meskipun penyebabnya sudah tidak ada lagi. Gejala lain yang turut muncul seperti sesak napas, mati rasa pada kaki dan tangan, menggigil, tubuh gemetar, kejang, berkeringat dingin, jantung berdebar, mulut kering, sakit kepala, hingga rasa takut yang berlebihan pada suatu hal yang mungkin tidak nyata. 

Baca juga: Gangguan Kecemasan dan Serangan Panik, Sama atau Beda?

Lalu, benarkah gangguan panik memicu seseorang melakukan penyalahgunaan napza atau obat terlarang dan narkotika? Ternyata, hal tersebut bisa saja terjadi jika gangguan panik yang dialami tidak segera mendapatkan penanganan. Ketika terjadi gangguan panik terus-menerus dapat berujung pada depresi, pengidap biasanya menjadi seseorang yang bersifat antisosial dan cenderung menjadi biang onar, baik di sekolah maupun di tempat kerja.

Komplikasi lainnya bisa terkait penyalahgunaan obat-obatan. Biasanya, penggunaannya terbatas pada jenis obat yang menimbulkan sensasi menenangkan. Ada beberapa jenis obat yang hanya boleh dikonsumsi jangka panjang, karena bersifat ketergantungan. Penyalahgunaan ini terjadi ketika obat dikonsumsi berlebihan atau didapatkan dari orang yang tidak tepat. 

Baca juga: Gejala dari Serangan Panik yang Selama Ini Diabaikan

Jadi, sebaiknya, kamu mendapatkan penanganan langsung dari pakarnya. Jangan takut untuk bercerita, karena ini bisa membantu mengurangi apa pun yang mengganjal di pikiranmu. Jika kamu masih ragu dengan respon keluarga atau pasangan dan teman terdekat, percayakan pada ahlinya. Namun, tetap saja, dukungan keluarga dan orang-orang terdekat masih menjadi nomor satu untuk kamu melalui masalah ini. 

Referensi: 
NIH. Diakses pada 2019. Panic Disorder: When Fear Overwhelms.
Healthline. Diakses pada 2019. Panic Disorder.
MedinePlus. Diakses pada 2019. Panic Disorder.