Neuropati Perifer Lebih Rentan Terjadi Pada Wanita, Benarkah?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Neuropati Perifer Lebih Rentan Terjadi Pada Wanita, Benarkah?

Halodoc, Jakarta – Neuropati perifer terjadi akibat kerusakan sistem saraf pusat yang membuat pengidapnya kebal terhadap rasa sakit atau merasakan rasa sakit "palsu". Kondisi ini terjadi akibat kerusakan sistem saraf pusat yang mengganggu proses pengiriman sinyal antara sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi, sehingga sistem saraf tidak mengirim sinyal rasa sakit ke otak atau sebaliknya, mengirim rasa sakit ke otak meski tanpa sebab. Selain banyak terjadi pada pengidap diabetes, neuropati perifer diduga banyak terjadi pada wanita.

Risiko Neuropati Perifer Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin

Wanita dan laki-laki memiliki risiko yang sama terhadap neuropati perifer. Namun, risiko cenderung meningkat pada orang yang memiliki riwayat keluarga dengan neuropati perifer, mengonsumsi obat-obatan yang merusak saraf, kekurangan gizi (terutama kekurangan vitamin B12 dan E), mengalami cedera otot, terlalu banyak minum alkohol, dan mengidap penyakit tertentu (seperti diabetes dan HIV/AIDS).

Baca Juga: Jangan Sepelekan Nyeri Tulang Belakang Akibat Saraf Terjepit

Gejala neuropati perifer berbeda-beda, tergantung pada jenis, penyebab, dan lokasi terjadinya. Namun secara umum, neuropati perifer ditandai dengan rasa sakit berlebih pada tubuh (sering kali tanpa sebab) atau justru mati rasa.

Gejala lainnya berupa takikardia, sulit menelan, perut kembung, sering sendawa, mual, sering buang air kecil, tubuh sering berkeringat, disfungsi seksual, diare, kedutan, kram atau lemah otot, kesemutan, hingga gangguan keseimbangan dan koordinasi tubuh.

Pilihan Pengobatan Neuropati Perifer

Ada empat pilihan pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi neuropati perifer. Berikut penjelasannya:

1. Konsumsi Obat

Misalnya obat pereda nyeri (golongan steroid antiinflamasi), obat anti kejang, obat anti depresi, dan pengobatan topikal. Pastikan obat dikonsumsi secara rutin dan sesuai anjuran dokter. Tanyakan pada dokter mengenai efek samping yang dapat terjadi setelah konsumsi obat dan kapan harus berhenti mengonsumsinya jika timbul efek samping.

2. Terapi

Gejala neuropati perifer bisa dikurangi dengan prosedur terapi, seperti transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), penggantian plasma dan imunoglobulin intravena, terapi fisik, serta prosedur pembedahan.

3. Perawatan Rumahan

Tujuannya untuk membantu mengatasi gejala neuropati perifer yang timbul, antara lain:

  • Konsumsi makanan bergizi seimbang dan hindari konsumsi alkohol berlebih.

  • Pantau kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh secara rutin.

  • Perhatikan kondisi kaki, terutama jika kamu mengidap diabetes. Pasalnya, pengidap diabetes rentan mengalami luka sehingga perlu menggunakan pelindung kaki, seperti gunakan kaos kaki berbahan lembut dan sepatu yang empuk.

  • Olahraga rutin, setidaknya tiga kali seminggu untuk mengurangi gejala nyeri, memperbaiki kekuatan otot, dan mengendalikan kadar gula darah. Pilih olahraga ringan agar tidak memberatkan, seperti jalan kaki, lari, berenang, dan yoga.

  • Berhenti merokok, sebab kebiasaan merokok berdampak negatif pada sirkulasi darah dalam tubuh dan meningkatkan risiko komplikasi neuropati perifer.

4. Pengobatan Alternatif

Misalnya akupuntur dan pengobatan herbal. Akupuntur dilakukan dengan memasukkan jarum tipis pada lokasi tubuh tertentu, tujuannya mengurangi gejala neuropati perifer. Sedangkan, pengobatan herbal banyak dilakukan untuk mengurangi gejala nyeri neuropati pada pengidap diabetes. Pastikan untuk berbicara pada dokter sebelum melakukan pengobatan herbal.

Baca Juga: Yang Harus Dilakukan Saat Otot Tiba-Tiba Kram

Kalau kamu memiliki gejala serupa neuropati perifer, segera bicara pada dokter Halodoc untuk mencari tahu penyebabnya. Gunakan fitur Contact Doctor yang ada di Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!