Normal atau Tidak, Keputihan Setelah Melahirkan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
normal-atau-tidak-keputihan-setelah-melahirkan-halodoc

Halodoc, Jakarta – Wanita yang baru saja melahirkan biasanya akan mengalami masa nifas. Pada masa ini, cairan berwarna merah tua seperti darah menstruasi yang disebut lochea akan keluar dari Miss V selama 4–6 minggu. Namun, bagaimana bila yang terjadi adalah keputihan seperti yang biasanya dialami oleh wanita dewasa? Apakah kondisi tersebut masih normal? Yuk, cari tahu jawabannya di sini.

Baca juga: Keputihan Saat Hamil, Wajar atau Masalah?

Bila setelah melahirkan, cairan yang keluar dari alat genital bukanlah berupa darah, gejala ini bisa disebut juga leukorea. Cairan ini bisa berupa duh tubuh, cairan keputihan, flour albus atau white discharge. Keputihan sendiri sebenarnya merupakan kondisi normal yang berguna untuk mengeluarkan sisa sel mati dan bakteri. Ciri leukorea yang masih dianggap normal adalah tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak terasa gatal. Leukorea biasanya terjadi pada keadaan sebagai berikut:

  • Baru melahirkan bayi sekitar 10 hari sejak persalinan. Keluarnya cairan keputihan ini bisa disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen dari ibu.

  • Waktu menjelang menarche, yaitu menstruasi pertama pada wanita yang baru mengalami pubertas. Keputihan yang terjadi pada masa ini juga timbul karena pengaruh hormon estrogen dan biasanya akan menghilang dengan sendirinya.

  • Mendapat rangsangan seksual pada wanita dewasa.

  • Wanita yang sedang mengalami masa ovulasi atau masa subur, karena sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.

Wanita yang baru saja melahirkan juga bisa saja mengalami keputihan bila terlalu lelah mengurus Si Kecil atau stres. Sebab, dalam kondisi lelah, tubuh akan mengeluarkan hormon stres atau kortisol yang bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormonal dan mengganggu keseimbangan pH Miss V.

Namun, kamu perlu waspada bila keputihan yang dialami berbau, gatal, dan berwarna kuning atau kehijauan. Pasalnya, kondisi tersebut bisa saja merupakan pertanda adanya infeksi di saluran reproduksi yang disebabkan oleh kuman, parasit, atau jamur. Kamu juga dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan bila mengalami keputihan berulang dan tidak kunjung sembuh, karena kondisi tersebut bisa menyebabkan infeksi saluran kemih dan radang panggul.

Baca juga: Gejala Keputihan yang Berbahaya

Tips Mengatasi Keputihan Setelah Melahirkan

Berikut ini beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi atau mencegah keputihan setelah melahirkan semakin memburuk:

  • Jaga kebersihan organ kewanitaan dengan membersihkannya dengan air mengalir dari arah depan ke belakang. Jaga juga organ intim tetap kering dan tidak lembap.

  • Ganti celana dalam secara rutin, minimal 2–3 kali sehari terutama bila banyak beraktifitas.

  • Ganti pembalut secara teratur.

  • Kenakan celana dalam berbahan katun yang bisa menyerap keringat, dan hindari menggunakan celana ketat.

  • Hindari berhubungan intim dengan bergonta-ganti pasangan.

  • Batasi penggunaan cairan pembersih kewanitaan, parfum, bedak atau produk sejenisnya pada daerah kewanitaan.

  • Konsumsi makanan sehat  dengan nutrisi seimbang.

  • Hindari stres yang berlebihan setelah melahirkan dengan mencukupi kebutuhan istirahat dan sesekali meluangkan waktu untuk memanjakan diri sendiri.

Meski demikian, kamu tetap dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan agar bisa diketahui penyebab dari keputihan yang kamu alami. Dengan begitu, dokter pun bisa memberikan pengobatan yang tepat untuk menyembuhkan keputihan kamu. 

Baca juga: Alami Keputihan dengan Tanda Ini? Bisa Jadi Kena Vaginitis

Kamu juga bisa membicarakan masalah kesehatan yang kamu alami dengan menggunakan aplikasi Halodoc, lho. Hubungi dokter melalui fitur Talk to A Doctor untuk minta saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.