05 November 2018

Normalkah BAB Cair Pada Bayi? Ini Faktanya

Normalkah BAB Cair Pada Bayi? Ini Faktanya

Halodoc, Jakarta - Bayi yang baru lahir hanya mengonsumsi ASI untuk memenuhi  asupan gizinya. Oleh karena itu, asupan yang masuk berwujud cairan, maka wajar jika BAB mereka berbentuk cair. Selain itu, bayi yang hanya mendapatkan ASI memiliki feses yang lebih encer ketimbang bayi yang diberi susu formula. Feses dari bayi yang hanya diberi ASI eksklusif berbentuk cair, berwarna kuning krem, kadang berbiji, dan memiliki bau yang tidak menyengat.

Meski BAB cair adalah hal yang wajar, ibu harus tetap waspada jika hal ini terjadi lebih dari enam kali sehari sebab hal ini bisa mengindikasikan bayi terkena infeksi virus. Saat bayi usianya sudah melewati satu tahun, ia melakukan BAB sebanyak satu hingga dua kali. Sementara bayi yang mengonsumsi susu formula, ia akan BAB hanya buang air besar sekali sehari dengan tinja yang lebih keras dan lebih berbau.

Terkadang ibu sulit membedakan BAB cair yang dialami bayi adalah hal yang normal atau ini ternyata bayi mengalami diare. Hal yang patut ibu curigai adalah saat frekuensi BAB cair yang bayi alami meningkat dan volume fesesnya lebih banyak dari biasanya.

Penyebab Bayi Mengalami Diare

Diare adalah penyakit yang cukup rentan menyerang bayi di negara-negara berkembang akibat sanitasi yang kurang baik sehingga terjadi pencemaran pada air dan makanan yang ibu konsumsi. Bayi yang mengalami diare menyebabkan BAB cair dengan frekuensi lebih sering ini umumnya disebabkan oleh rotavirus.

Penyebab diare lainnya adalah bakteri, parasit, atau virus yang terdapat pada mainan atau benda-benda yang bayi sentuh dan ia masukkan ke dalam mulutnya. Diare dapat terjadi karena bayi mengalami alergi makanan yang ibu konsumsi dan kemudian bayi konsumsi melalui ASI, alergi susu formula, keracunan makanan, flu, dan konsumsi antibiotik. Kondisi bayi yang mengalami diare adalah bayi tampak lemah, matanya cekung, selalu haus (terlihat dari lahapnya bayi saat diberi ASI atau minuman lain), serta kondisi bayi yang rewel dan gelisah.

Mengatasi Diare pada Bayi

Jika bayi mengalami diare yang ditandai BAB cair dengan frekuensi yang cukup tinggi, maka ia mengalami kekurangan cairan elektrolit dalam tubuh. Ibu wajib memberikan bayi cairan elektrolit sesuai dengan tingkat dehidrasi yang ia alami. Jika ia mengalami dehidrasi ringan, ibu dapat memberikan bayi cairan oralit atau ASI. Sementara jika dehidrasi yang dialami cukup berat, maka bayi perlu diberikan cairan melalui infus. Dehidrasi yang berat ditandai tingkat kesadaran yang menurun sehingga bayi tampak selalu mengantuk, tangan dan kaki yang terasa dingin, dan napas menjadi cepat. Selain itu, bayi dapat diberikan suplementasi zinc untuk memperbaiki lapisan usus dan probiotik untuk menyeimbangkan flora usus.

Pada diare akibat infeksi bakteri diperlukan antibiotik yang sesuai. Saat diare, hindari makanan yang berserat dan produk susu. Kondisi dehidrasi wajib ditangani sesegera mungkin sebab jika tidak hal ini dapat berujung pada kerusakan otak.

Apabila cara di atas tidak memberikan perubahan berarti pada kondisi diare yang dialami bayi, maka ibu wajib membawa bayi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.  Atau sampaikan keluhan awal mengenai diare atau kondisi BAB cair yang terus terjadi pada dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi lewat Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan rekomendasi beli obat dan tips menjaga kesehatan keluarga dari dokter terpercaya. Ayo, segera download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play!

Baca juga: