Orangtua, Ini Tantangan Merawat Anak dengan Sindrom Asperger

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Sindrom Asperger, tantangan merawat anak dengan sindrom asperger

Halodoc, Jakarta - Orangtua dengan anak yang mengidap sindrom asperger pasti memiliki tantangan tersendiri dalam merawat dan membesarkannya. Anak dengan kondisi ini akan mengalami serangkaian gangguan pada pola pikir, serta pola interaksi sosial. Anak-anak dengan sindrom asperger biasanya sudah dapat didiagnosis saat mereka berusia 2 tahun. Berikut penjelasan selengkapnya tentang sindrom asperger pada Si Kecil.

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Inilah Penyebab Autisme pada Anak

Ini Tantangan Orangtua dalam Merawat Anak dengan Sindrom Asperger

Merawat Si Kecil dengan sindrom asperger bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua, sebab anak-anak sindrom asperger mempunyai pola pikir dan pola interaksinya sendiri. Dengan perhatian yang melebihi dari saudara-saudara kandungnya yang lain. Hal ini mungkin bisa menjadi masalah tersendiri bagi ibu dalam membagi waktu dan perhatian. 

Anak dengan sindrom ini lebih terfokus kepada peraturan yang ibu buat, untuk mencegah terjadinya hal ini, ibu dapat mencoba mengajarkan dengan sesuatu yang berbeda, seperti dengan menggunakan alat musik. Anak dengan sindrom asperger juga akan sangat sulit dalam berinteraksi sosial, dalam hal ini ibu dapat bermain dengan bekerja sebagai tim sebagai pekerja medis misalnya. 

Dukungan ibu selaku orangtua, dan juga keluarga inti lainnya dapat membuat Si Kecil dengan sindrom asperger mudah dalam menjalani hari-harinya dengan menyenangkan. Penyembuhan Si Kecil juga dapat berjalan lebih cepat jika ibu memberikannya beberapa terapi yang bertujuan untuk membantu Si Kecil dalam mempermudah komunikasinya. Beberapa terapi tersebut, yaitu:

  1. Terapi wicara, yaitu terapi komunikasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Si Kecil dalam berkomunikasi. Pada terapi ini, Si Kecil akan belajar kemampuan berbahasa, berbicara, suara, serta irama agar Si Kecil dapat berinteraksi dengan lingkungan seperti anak-anak pada umumnya.

  2. Terapi okupasi, yaitu terapi yang dilakukan untuk menjalani kegiatan sehari-hari. Selain mengajarkan untuk melakukan aktivitas harian, terapi ini juga mengajarkan bagaimana cara membangun relasi sosial yang baik dengan teman sebaya.

  3. Terapi psikologis, yaitu terapi yang dilakukan untuk membantu mengelola emosi. Dengan terapi ini, perilaku positif Si Kecil akan diasah, dan perilaku negatif Si Kecil akan perlahan-lahan dikurangi. 

Si Kecil dengan sindrom asperger akan terlihat gejalanya sejak usia dini. Ibu, jangan lupa untuk selalu mengawasi tumbuh kembang Si Kecil. Jika Si Kecil mengalami gejala sindrom asperger, ibu bisa melakukan terapi tersebut untuk mempercepat proses penyembuhan Si Kecil. Jika ibu ingin bertanya lebih lanjut tentang terapi apa saja yang harus dijalani, silahkan hubungi dokter ahli pada aplikasi Halodoc, ya!

Baca juga: 4 Jenis Autis yang Perlu Diketahui

Kenali Gejala pada Si Kecil Pengidap Sindrom Asperger Berikut

Si Kecil dengan sindrom asperger akan ditandai dengan gejala, seperti:

  • Terobsesi akan sesuatu.

  • Tidak merespons baik terhadap perubahan.

  • Tidak mengerti tentang isyarat yang diberikan.

  • Tidak melakukan kontak mata ketika berbicara.

  • Tidak memahami pemikiran yang abstrak, seperti dengan perumpamaan.

  • Si Kecil tidak memiliki reaksi terhadap suara, rasa, atau bau.

  • Tidak ingin disentuh atau dipegang.

Baca juga: Anak Mengidap Sindrom Down, Orang Tua Jangan Malu

Gejala-gejala yang muncul bisa saja menghambat perkembangannya di sekolah. Oleh karena itu, segera temui dokter jika Si Kecil memiliki kemampuan komunikasi dan sosial yang tidak berkembang dengan baik. Dalam hal ini, dokter biasanya akan merujuk ibu menuju spesialis perkembangan anak untuk melakukan penanganan lebih lanjut.

Referensi:
Health Direct, Pregnancy birth & baby  (2019). Caring for a child with Asperger's syndrome
familydoctor.org (2019). Asperger’s Syndrome