Waspada Pengidap Diabetes Melitus Juga Kena Neuropati Perifer

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Waspada Pengidap Diabetes Melitus Juga Kena Neuropati Perifer

Halodoc, Jakarta – Neuropati perifer mengacu pada kondisi yang terjadi ketika saraf yang membawa pesan ke dan dari otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh mengalami kerusakan. Saraf perifer membentuk jaringan rumit yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan otot, kulit, dan organ internal.

Saraf perifer keluar dari sumsum tulang belakang dan diatur sepanjang garis dalam tubuh yang disebut dermatom. Biasanya, kerusakan saraf akan memengaruhi satu atau lebih dermatom, yang dapat dilacak ke area spesifik tubuh. Kerusakan pada saraf ini mengganggu komunikasi antara otak dan bagian lain dari tubuh dan dapat mengganggu gerakan otot, mencegah sensasi normal pada lengan dan kaki, serta menyebabkan rasa sakit.

Pengidap diabetes bisa terkena neuropati perifer. Gejala dapat berkisar dari rasa sakit dan mati rasa di kaki, hingga masalah dengan fungsi organ internal, seperti jantung dan kandung kemih.

Baca juga: 5 Penyakit Akibat Kerusakan Saraf

Menurut American Diabetes Association, gula darah tinggi termasuk kolesterol tinggi, trigliserida tinggi (lemak darah lain), tekanan darah tinggi, obesitas dan merokok, adalah penyebab kerusakan saraf.

Dalam studi yang sama, kadar kolesterol HDL baik yang rendah dan LDL yang tinggi bisa mengancam jantung juga meningkatkan risiko neuropati perifer diabetik hingga 67 persen. Perubahan metabolisme yang terkait dengan diabetes dan masalah kesehatan terkait dapat merusak sel-sel saraf, karena meningkatkan level molekul oksigen jahat yang disebut radikal bebas.

Kondisi ini menyerang DNA di dalam sel, dengan menembaki senyawa antioksidan yang biasanya melindungi sel dari radikal bebas dengan meningkatkan peradangan. Selain itu, serabut saraf sangat rentan terhadap kerusakan, karena pembuluh darah kecil yang diandalkan untuk oksigen dan nutrisi juga dapat rusak oleh gula darah tinggi, tekanan darah tinggi, dan kadar lemak darah yang tidak sehat.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh University of Toronto tahun 2015, mengukur seberapa baik saraf di kaki pengidap diabetes mendeteksi rasa sakit dan getaran. Mereka yang kadar gula darahnya lebih tinggi lebih cenderung mengalami kerusakan saraf. Pada orang dengan diabetes tipe 1, di mana masalah gula darah tinggi biasanya didiagnosis sangat awal, sekitar 20 persen memiliki neuropati perifer setelah 20 tahun.

Baca juga: Ini Cara Alami Menangani Diabetes dan Menurunkan Gula Darah

Risiko juga mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia, bahkan anak-anak dan dewasa muda dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 juga bisa memiliki tanda-tanda neuropati perifer.

Jika kamu memiliki diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 atau prediabetes, dan belum memiliki kerusakan saraf, mengendalikan gula darah, dan mengambil langkah-langkah sehat lainnya dapat membantu mencegahnya terjadi.

Baca juga: 4 Gangguan Saraf yang Perlu Diketahui

Untuk pengidap diabetes tipe 1, kontrol glukosa yang ketat dapat mengurangi risiko neuropati perifer hingga 78 persen. Bagi mereka dengan tipe 2 dapat mengurangi risiko 5–9 persen. Pengidap diabetes tipe 1 didiagnosis lebih awal dalam kehidupan setelah hanya memiliki kondisi untuk waktu yang singkat, di mana ada periode waktu yang lebih kecil bahwa mereka terkena kadar gula darah tinggi. Karena itu, lebih sedikit waktu untuk merusak saraf.

Sementara itu, orang yang didiagnosis dengan diabetes tipe 2 sering memiliki kadar gula yang tinggi selama bertahun-tahun (kerusakan saraf dapat dimulai pada tahap pradiabetes), yang dapat berarti banyak kerusakan saraf pada saat diagnosis dibuat. Selain itu, faktor-faktor lain, seperti kelebihan berat badan, merokok, memiliki kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan trigliserida tinggi juga meningkatkan risiko seseorang untuk kerusakan saraf.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai penyakit diabetes melitus dan hubungannya dengan neuropati perifer, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.