07 November 2018

Pengidap Radang Panggul Apakah Bisa Hamil?

Pengidap Radang Panggul Apakah Bisa Hamil?

Halodoc, Jakarta - Radang panggul adalah infeksi yang menyerang serviks, uterus, tuba falopi, dan ovarium. Penyakit radang panggul banyak ditemukan pada wanita berusia 15 - 24 tahun dan sudah aktif secara seksual. Selain menyebabkan ketidaksuburan, penyakit radang panggul yang tidak segera ditangani juga bisa menyebabkan nyeri panggul kronis dan kehamilan ektopik.

Radang Panggul dan Kesuburan

Pengidap radang panggul yang bersifat ringan dan segera mendapat penanganan masih memilih potensi kehamilan. Namun, radang panggul yang bersifat parah dan tidak segera mendapat penanganan bisa menyebabkan kemandulan (infertilitas). Alasannya saat seseorang mengidap radang panggul, bakteri bisa bergerak ke tuba falopi dan menyebabkan peradangan, sehingga terbentuk jaringan parut di area tuba falopi. Jaringan parut tersebut bisa menghambat perjalanan sel telur dari ovarium ke rahim melalui tuba falopi, sehingga menurunkan potensi kehamilan.

Jaringan parut dapat menyebabkan kehamilan ektopik yang membahayakan kesehatan ibu hamil. Sebuah studi menyebutkan, kehamilan ektopik lebih rentan terjadi pada wanita pengidap radang panggul dibanding wanita hamil yang tidak mengidap radang panggul.

Penyebab dan Gejala Radang Panggul

Salah satu penyebab radang panggul adalah infeksi menular seksual. Bakteri penyebab infeksi menular, seperti klamidia dan gonore, merupakan bakteri yang biasanya menyebabkan infeksi pada leher rahim. Bakteri ini bisa menyebar dari Miss V hingga ke organ reproduksi bagian atas, sehingga meningkatkan risiko radang panggul.

Faktor risiko radang panggul berkaitan dengan keguguran, tindakan aborsi, sering berganti pasangan seksual, berhubungan intim tanpa kondom, memiliki riwayat radang panggul, dan infeksi menular seksual sebelumnya, serta menggunakan alat kontrasepsi jenis IUD (spiral).

Gejala radang panggul umumnya berupa rasa nyeri pada area panggul, nyeri pada perut bagian bawah, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri saat berhubungan intim. Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah demam, mual, muntah, serta keputihan yang berwarna kuning atau hijau.

Diagnosis dan Pengobatan Radang Panggul

Radang panggul didiagnosa melalui riwayat kesehatan dan aktivitas seksualnya. Tes yang dilakukan sebagai pendukung utama adalah pengambilan sampel dari cairan Miss V atau leher rahim untuk mendeteksi infeksi bakteri dan mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi. Tes penunjang yang dilakukan adalah tes darah, tes urine, tes kehamilan, dan USG. Jika terdapat indikasi radang panggul, khususnya setelah berhubungan intim, dokter menyarankan agar kamu dan pasangan diperiksa untuk mendeteksi risiko penularan.

Setelah diagnosis ditetapkan, radang panggul diobati dengan pemberian antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri, setidaknya selama 14 hari. Dokter mungkin memberikan obat pereda sakit jika pengidap merasakan nyeri di area perut atau panggul. Jika radang panggul disebabkan oleh penggunaan alat kontrasepsi jenis  IUD, dokter akan menyarankan alat tersebut dicabut, terlebih jika gejala tak kunjung membaik setelah beberapa hari pengobatan dilakukan. Prosedur operasi dilakukan jika abses telah muncul pada organ yang terinfeksi dan terdapat jaringan parut yang menyebabkan nyeri.

Oleh karena penyebab radang panggul adalah infeksi menular seksual, upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan seks aman, yaitu tidak berganti-ganti pasangan seksual dan menggunakan kondom saat berhubungan intim.

Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar radang panggul, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu bisa bertanya pada dokter Halodoc kapan saja dan di mana saja melalui fitur Contact Doctor via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: