Penyebab Keguguran Usia Kurang dari 20 karena Rahim Belum Siap?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Penyebab Keguguran Usia Kurang dari 20 karena Rahim Belum Siap?

Halodoc, Jakarta – Di Indonesia, cukup mudah menjumpai pasangan yang menikah di usia muda, bahkan sebelum usia 20 tahun. Tak jarang juga dari pasangan tersebut yang langsung hamil dan dikaruniai anak. Ya, potensi kehamilan pada wanita di usia kurang dari 20 memang sangat besar, tetapi risiko yang mengintai juga ternyata cukup besar, lho. Salah satunya adalah risiko keguguran.

Risiko keguguran dari kehamilan di usia muda ini umumnya terjadi karena organ-organ reproduksi belum bekerja secara optimal, atau bisa dibilang “belum siap”. Dari luar wanita usia kurang dari 20 bisa saja terlihat sudah dewasa, padahal organ-organ reproduksinya belum siap untuk menghadapi kehamilan. Itulah sebabnya kehamilan di usia muda dan remaja sangat berisiko.

Baca juga: 4 Mitos Hamil Muda yang Perlu Diketahui Calon Ibu

Terlebih lagi, wanita pada usia kurang dari 20 ini umumnya memiliki siklus haid yang tidak teratur, sehingga kehamilan yang terjadi mungkin saja tidak diketahui sejak awal. Hal ini tentu dapat berdampak negatif pada kehamilan itu sendiri, dan meningkatkan berbagai risiko seperti keguguran.

Oleh karena itu, jika kamu termasuk pasangan muda yang baru menikah, sebaiknya diskusikan dengan dokter kandungan di aplikasi Halodoc lewat Chat terlebih dahulu seputar rencana kehamilan, atau buat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit untuk konsultasi dan pemeriksaan langsung. Jadi, pastikan aplikasinya sudah kamu download di ponselmu, ya. 

Selain keguguran, wanita yang hamil di usia muda juga diintai oleh berbagai risiko lain, seperti:

1. Kelainan pada Bayi

Salah satu risiko yang cukup umum dari kehamilan di usia muda adalah terjadinya preeklampsia dan kelainan pertumbuhan janin atau Intrauterine Growth Restriction (IUGR). Kelainan pada bayi ini dapat terjadi karena kurangnya asupan gizi yang dibutuhkan ketika hamil, untuk perkembangan janin dalam kandungan.

2. Hipertensi

Belum siapnya tubuh wanita berusia kurang dari 20 untuk menanggung kehamilan dan persalinan, membuat metabolismenya terganggu. Salah satu yang juga cukup umum terjadi adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Namun, gejala hipertensi ini umumnya belum terdeteksi pada awal kehamilan. Gejala biasanya baru muncul pada trimester akhir, yang menyebabkan ibu hamil mengalami kejang, perdarahan, hingga eklampsia.

Baca juga: Ibu Hamil Ngidam Sushi, Bolehkah?

3. Anemia

Selain hipertensi, hamil di usia kurang dari 20 juga bisa menyebabkan anemia. Kondisi ini dapat membuat perkembangan janin terganggu. Akibatnya, janin tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, serta memiliki kemungkinan lahir dengan berat badan yang rendah.

4. Bayi Lahir Prematur

Kehamilan di usia muda juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur. Karena belum siap untuk dilahirkan, bayi prematur rentan untuk mengidap berbagai gangguan, seperti pada sistem pernapasan, pencernaan, penglihatan, hingga kognitif.

5. Penyakit Menular Seksual

Aktif secara seksual pada usia yang kurang dari 20 dapat meningkatkan risiko wanita untuk terserang penyakit menular seksual, seperti chlamydia dan HIV. Ketika wanita yang terinfeksi penyakit ini hamil, akan ada risiko infeksi dalam rahim dan terganggunya pertumbuhan janin.

6. Depresi Postpartum

Tak hanya secara fisik, wanita berusia kurang dari 20 juga umumnya belum memiliki kematangan mental yang cukup untuk menjadi seorang ibu. Akibatnya, setelah melahirkan sang ibu menjadi rentan terkena baby blues dan depresi postpartum.

Baca juga: Ngidam Jeroan Ibu Hamil Waspada Hal Ini

Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Hamil di Usia Muda

Meski risikonya sangat besar, ada juga kok ibu muda yang berhasil mempertahankan kehamilannya. Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan ketika hamil di usia kurang dari 20:

  • Rutin periksakan kehamilan. Hal ini bertujuan untuk memantau kesehatan ibu dan janin, sehingga kondisi tertentu saat hamil dapat dicegah.

  • Lakukan tes penyakit menular seksual. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah ibu mengidap penyakit menular seksual, yang berpotensi membahayakan janin.

  • Makan makanan bergizi seimbang. Selama kehamilan, ibu membutuhkan asam folat, kalsium, zat besi, protein, dan zat gizi penting lainnya untuk memenuhi kebutuhannya dan janin.

  • Olahraga teratur. Hal ini dapat membantu mengurangi atau bahkan mencegah keluhan yang dirasakan saat hamil, meningkatkan energi, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. 

  • Cari dukungan dari orang terdekat. Dukungan emosional sangat dibutuhkan oleh para ibu muda, untuk meningkatkan kesehatan mental dan mencegah depresi postpartum.

  • Ambil kelas khusus ibu hamil. Kelas ini dapat membantu ibu muda untuk mengetahui tentang kehamilan, kelahiran, menyusui, dan menjadi orangtua.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Teen Pregnancy: Medical Risks and Realities.
Healthline. Diakses pada 2019. Teenage Pregnancy.