08 October 2018

Perlu Tahu, Inilah 6 Hal yang Bisa Menyebabkan Delirium

Perlu Tahu, Inilah 6 Hal yang Bisa Menyebabkan Delirium

Halodoc, Jakarta - Delirium merupakan gangguan mental yang ditandai dengan terjadinya kebingungan akut, penurunan kesadaran, dan ketidakmampuan memusatkan perhatian pada lingkungan sekitar. Gangguan ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih berpotensi menyerang mereka yang berusia lanjut, atau yang memiliki komplikasi beberapa penyakit.

Berdasarkan gejalanya, delirium dibagi menjadi 3 jenis, yaitu delirium hiperaktif, hipoaktif, dan campuran. Namun, ketiga jenis delirium tersebut memiliki satu persamaan, yang menjadi ciri utama dari gangguan mental ini, yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian. Pada delirium hiperaktif, pengidapnya akan mengalami perubahan mood yang drastis, serta gelisah dan halusinasi berlebihan.

Lalu pada delirium hipoaktif, pengidapnya biasanya akan menunjukkan gejala yang sulit untuk dideteksi, karena ia akan cenderung bersikap tenang dan menarik diri dari segala aktivitas. Orang yang mengalami delirium jenis ini biasanya akan lebih sering menghabiskan waktu untuk tidur dan menyendiri.

Sementara itu, pada delirium campuran, orang yang mengalaminya akan menunjukkan gabungan gejala antara delirium hiperaktif dan hipoaktif yang sangat fluktuatif. Pada suatu waktu, mereka akan menunjukkan sikap gelisah berlebihan dan berhalusinasi, lalu beberapa saat berikutnya justru akan cenderung tenang dan mengasingkan diri.

Penyebab Delirium

Ada cukup banyak hal yang dapat memicu terjadinya delirium pada seseorang. Berikut beberapa di antaranya:

1. Efek Samping Obat

Semua jenis obat tentu memiliki efek samping. Beberapa jenis obat seperti obat pereda nyeri, obat tidur, anti-alergi, obat asma, obat parkinson, dan obat anti-depresan, merupakan beberapa jenis obat yang dapat mengakibatkan penumpukan zat di dalam otak, yang kemudian memicu terjadinya delirium.

2. Penggunaan Narkotika dan Zat Psikoaktif

Narkotika atau zat psikoaktif dapat memicu terjadinya delirium, yang disertai gejala halusinasi berat. Seperti zat amfetamin misalnya, jika digunakan dalam dosis tinggi dan terus menerus akan membuat seseorang mengalami deprivasi tidur, gangguan koordinasi motorik, dan gangguan konsentrasi yang berujung pada delirium.

3. Kecanduan Alkohol

Delirium yang disebabkan oleh berhentinya konsumsi alkohol pada peminum berat disebut juga delirium tremens (DT). Orang dengan delirium ini biasanya akan mengalami halusinasi pendengaran. Pada beberapa kasus, sering kali pengidapnya bertindak sesuai halusinasinya tersebut, hingga dapat membahayakan dirinya dan orang di sekitarnya.

4. Penyakit Kronis

Orang yang mengalami penyakit kronis seperti gagal ginjal atau penyakit yang berkaitan dengan penurunan fungsi otak, juga dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya delirium pada seseorang. Pada kebanyakan kasus, delirium terjadi pada mereka yang memiliki beberapa kombinasi penyakit kronis atau akut.

5. Gangguan Tidur dan Emosi

Mengalami gangguan tidur tidak hanya berpotensi memunculkan berbagai penyakit serius pada fisik, tetapi juga pada mental, seperti delirium. Orang yang sebelumnya memiliki gangguan emosi atau kecemasan juga memiliki peluang yang lebih besar untuk mengalami delirium, ketimbang mereka yang tidak.

6. Berusia Lanjut

Meski bisa terjadi pada siapa saja, berbagai penelitian terhadap gangguan mental ini menunjukkan bahwa delirium memiliki potensi yang lebih besar untuk terjadi pada orang yang berusia lanjut, tepatnya di atas 65 tahun. Potensi terjadinya delirium pada usia lanjut pun akan semakin meningkat ketika orang itu juga mengalami beberapa penyakit seputar otak lainnya, seperti demensia.

Itulah beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya delirium. Bagi kamu yang membutuhkan informasi lebih lanjut soal gangguan mental ini, atau penyakit lainnya, kamu bisa gunakan fitur Contact Doctor pada aplikasi Halodoc, yang dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat secara online, kapan saja dan di mana saja, hanya dengan men-download aplikasi Halodoc di Apps Store atau Google Play Store.

Baca juga: