Perlu Tahu Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
obat kortikosteroid, obat dewa, bahaya obat dewa

Halodoc, Jakarta - Obat kortikosteroid, atau yang lebih dikenal dengan obat dewa merupakan salah satu golongan obat yang sering digunakan sebagai anti peradangan. Mengapa disebut dengan obat dewa? Hal ini terjadi karena kemampuan obat kortikosteroid yang dapat mengobati berbagai gejala penyakit. Obat kortikosteroid sendiri merupakan obat yang mengandung hormon steroid yang berguna dalam menambah hormon steroid dalam tubuh, serta menekan kerja sistem kekebalan tubuh secara berlebihan.

Baca juga: Konsumsi Steroid Terus-Menerus Bisa Sebabkan Glaukoma

Apa yang Terjadi Jika Obat Kortikosteroid Digunakan Secara Berlebihan?

Efek samping yang ditimbulkan sangatlah luas, karena itu penggunaan obat kortikosteroid perlu dipertimbangkan dengan baik. Bahkan, penggunaan yang dilakukan jangka panjang akan menimbulkan efek samping yang membahayakan dan fatal. Efek samping yang ditimbulkan akan tergantung dari penggunaannya.

  • Kortikosteroid Sistemik

Kortikosteroid sistemik, yaitu obat kortikosteroid yang dikonsumsi secara oral atau disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Jika berlebihan, efek samping yang ditimbulkan meliputi hipertensi, diabetes, tukak lambung, pendarahan pada saluran pencernaan, gangguan emosi, peningkatan nafsu makan, insomnia, kelemahan otot, serta mudah terkena infeksi.

  • Kortikosteroid Lokal

Kortikosteroid lokal, yaitu obat kortikosteroid yang dapat diberikan dengan salep, injeksi, atau inhalasi. Efek sampingnya pun akan berbeda-beda yang tergantung pemakaiannya. Pada kortikosteroid salep, efek samping dapat berupa penipisan kulit, warna kulit yang pucat, memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami infeksi kulit, serta terhambatnya penyembuhan luka.

Sedangkan efek samping pada kortikosteroid injeksi meliputi infeksi, penipisan jaringan kulit, pembengkakan pada otot atau sendi yang disuntik, serta mengalami kelemahan otot. Sementara pada kortikosteroid inhalasi akan terjadi efek samping, seperti sariawan pada mulut atau tenggorokan, suara serak, kesulitan berbicara, adanya jamur pada rongga mulut, serta batuk-batuk.

Baca juga: Efek Samping Konsumsi Obat Antibiotik dalam Waktu Lama

Pada kasus yang lebih parah, penggunaan kortikosteroid yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya sindrom Cushing, yaitu sekumpulan gejala yang muncul akibat tingginya kadar hormon kortisol dalam tubuh. Pada kondisi ini, gejala meliputi hipertensi, obesitas, mudah lelah, mengalami pembengkakan pada area tubuh tertentu, adanya penumpukan lemah di wajah, gangguan menstruasi, serta tumbuhnya rambut di tempat yang tidak seharusnya pada wanita.

Beberapa obat kortikosteroid memang dijual bebas di apotek. Sebelum membeli dan menggunakannya, sebaiknya diskusikan lebih dulu dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc agar kamu tidak salah dosis ketika menggunakannya. Akan lebih baik jika kamu mengikuti saran dokter, jadi kamu akan terhindari dari sejumlah kondisi yang dapat membahayakan nyawamu.

Begini Cara Penggunaan Obat Kortikosteroid yang Aman

Efek samping yang membahayakan jika penggunaan obat kortikosteroid tidak sesuai dengan aturan dokter. Masyarakat umum tidak disarankan untuk mengonsumsi obat yang satu ini tanpa petunjuk dokter. Begini langkah aman menggunakan obat kortikosteroid:

  • Ketika ingin menggunakan kortikosteroid inhalasi, gunakan spacer untuk mencegah adanya jamur pada mulut dan tenggorokan.
  • Jangan konsumsi obat kortikosteroid saat lambung kosong.
  • Jangan banyak gunakan kortikosteroid salep pada area lipatan tubuh.
  • Lakukan penyuntikan obat kortikosteroid di tempat berbeda. 

Baca juga: Inilah Tips Agar Terhindar Dari Kecanduan Obat

Ketika dikonsumsi, kortikosteroid tidak bisa diberhentikan penggunaannya secara mendadak. Ketika ingin berhenti, satu-satunya cara adalah menurunkan dosis penggunaan obat secara bertahap. Berhenti secara mendadak akan menyebabkan sindrom Addison, yaitu gangguan yang terjadi ketika kelenjar adrenalin tidak dapat bekerja dengan maksimal.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Prednisone and Other Corticosteroids.

NHS. Diakses pada 219. Steroids.