• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Rabun Dekat Tidak Bisa Dicegah, Apa yang Harus Dilakukan?

Rabun Dekat Tidak Bisa Dicegah, Apa yang Harus Dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Rabun dekat alias hipermetropi adalah gangguan yang menyerang mata. Kondisi ini menyebabkan pengidapnya tidak bisa melihat dengan jelas benda yang dekat. Namun sebaliknya, benda yang berada jauh dari pandangan justru terlihat sangat jelas dan tidak buram sama sekali. Kondisi ini terjadi akibat cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus ke tempat semestinya.

Dalam kondisi normal, cahaya yang masuk ke mata seharusnya mengisi retina, tetapi pada pengidap rabun dekat cahaya malah terfokus ke belakangnya. Hal ini terjadi karena gangguan pada mata, yaitu bola mata yang terlalu pendek atau bentuk kornea dan lensa mata yang tidak normal. Penyakit mata ini tidak bisa dicegah dan bisa menyerang siapa saja. Lantas, apa yang harus dilakukan? Cari tahu jawabannya di bawah ini.

Baca juga: Cara Mencegah dan Menangani Mata Plus pada Anak

Menurunkan Risiko Rabun Dekat 

Meski tidak bisa dicegah, risiko penyakit mata ini nyatanya bisa diturunkan. Ada beberapa tips yang bisa diterapkan untuk membantu menurunkan risiko rabun dekat. Cara pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan pemeriksaan mata rutin. Dengan begitu, kamu bisa dengan mudah mengetahui jika ada yang salah dengan mata.

Selain pemeriksaan pada mata, memantau kondisi medis yang juga bisa meningkatkan risiko gangguan ini pun sebaiknya dilakukan. Jenis penyakit yang bisa meningkatkan risiko gangguan pada mata, di antaranya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi dan diabetes. Deteksi dini bisa membantu agar penanganan rabun dekat bisa segera dilakukan, sehingga terhindar dari komplikasi. 

Selain itu, kamu juga disarankan untuk melindungi mata saat beraktivitas. Pastikan penerangan ruangan cukup, konsumsi makanan sehat, mengenakan kacamata yang tepat, serta memberi istirahat cukup pada mata bisa menjadi cara menurunkan risiko rabun dekat. Usahakan untuk selalu melindungi mata dari paparan sinar matahari langsung. 

Baca juga: Ini Penyebab dan Tanda Si Kecil Idap Rabun Dekat

Mengetahui apa penyebab dan gejala rabun dekat juga bisa membantu menurunkan risiko penyakit ini muncul. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu seseorang mengalami rabun dekat, di antaranya faktor usia, riwayat kesehatan keluarga, serta mengidap penyakit tertentu, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes. 

Gejala khas dari rabun dekat adalah tidak mampu melihat benda yang berjarak dekat, tetapi benda yang jauh malah terlihat jelas. Objek yang dekat akan terlihat tidak fokus dan kamu harus menyipitkan mata untuk dapat melihatnya dengan jelas. Kondisi ini juga ditandai dengan gejala mata terasa tegang, nyeri, serta muncul sensasi terbakar. 

Rabun dekat juga ditandai dengan mata lelah atau sakit kepala setelah melihat benda yang berjarak dekat dalam waktu lama. Maka dari itu, kondisi ini bisa membuat pengidapnya kesulitan membaca buku, menulis, atau menggunakan komputer. 

Saat seseorang terdiagnosa mengidap penyakit ini, ada beberapa cara pengobatan yang bisa dilakukan. Rabun dekat diobati dengan beberapa cara, seperti penggunaan kacamata, lensa kontak, hingga operasi. Pada rabun dekat, prosedur operasi yang dilakukan adalah operasi laser dan tidak harus menginap di rumah sakit. Menjaga kesehatan mata adalah hal yang penting dilakukan, sebab ada banyak gangguan penglihatan lain yang bisa terjadi selain rabun dekat. 

Baca juga: Inilah Penyebab yang Membuat Anak Terancam Rabun Dekat

Masih penasaran seputar rabun dekat dan bagaimana cara menurunkan risikonya? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi 
Healthline. Diakses pada 2020. Farsightedness
Patient. Diakses pada 2020. Long Sight